
Mikroba pesisir dapat hambat upaya penanganan perubahan iklim

Pemandangan matahari terbenam di pesisir Pantai Tanjung Lesung, Kabupaten Pandeglang, Banten, pada 11 Agustus 2023. (Indonesia Window)
Mikroba penghasil metana di pasir pesisir yang teroksigenasi menimbulkan ancaman yang signifikan dan kerap terabaikan terhadap target iklim, karena melepaskan salah satu gas rumah kaca paling kuat.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Para ilmuwan di Australia memperingatkan bahwa mikroba penghasil metana di pasir pesisir yang teroksigenasi menimbulkan ancaman yang signifikan dan kerap terabaikan terhadap target iklim, karena melepaskan salah satu gas rumah kaca paling kuat.Temuan ini dapat mengubah pemahaman tentang emisi gas rumah kaca di laut, membantah asumsi tentang pembentukan metana laut, dengan "implikasi besar bagi pemodelan iklim dan perhitungan karbon," menurut pernyataan dari Universitas Monash Australia pada Senin (11/8).Studi tersebut mengungkapkan bahwa metanogen aerotoleran dapat berkembang biak di lingkungan pesisir yang dinamis dan menghasilkan metana dengan memetabolisme senyawa yang dilepaskan dari ganggang dan rumput laut yang membusuk, bahkan di lingkungan yang mengandung oksigen.Hingga kini, para ilmuwan meyakini bahwa pembentukan metana hanya terjadi di lingkungan tanpa oksigen, kata Profesor Perran Cook dari Universitas Monash, penulis utama studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience."Ini menantang asumsi dasar dalam ilmu kelautan... Kami kini telah membuktikan bahwa mikroba ini bertahan dari paparan oksigen tanpa efek buruk," ujar Cook.Bekerja sama dengan Universitas Southern Denmark, para peneliti melakukan survei di Teluk Port Phillip dan Teluk Westernport di Negara Bagian Victoria, Australia, serta di beberapa lokasi di Denmark, dan berhasil mengisolasi dua galur (strain) metanogen baru yang mampu pulih dengan cepat dan memproduksi metana setelah terpapar oksigen."Temuan kami menunjukkan bahwa pesisir berpasir yang permeabel, yang mencakup setengah dari tepi benua di dunia, mungkin berkontribusi jauh lebih besar terhadap emisi metana global daripada yang diperkirakan sebelumnya," kata Cook.Studi tersebut memperingatkan bahwa pembusukan rumput laut dan lamun mendorong emisi metana, sehingga menantang narasi tentang strategi 'karbon biru', yang selama ini mengandalkan vegetasi pesisir sebagai solusi untuk mengatasi perubahan iklim.Dengan kondisi laut yang semakin hangat dan meningkatnya polusi nutrien yang mendorong ledakan pertumbuhan alga dan penumpukan biomassa di pantai, kondisi semacam itu kemungkinan akan memicu pelepasan metana yang lebih sering dan intens, imbuh Cook.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan eksplorasi peta jalan produksi beras global yang lebih hijau
Indonesia
•
17 Dec 2021

Rusia-China lanjutkan pembentukan pangkalan bersama di Bulan
Indonesia
•
27 Jan 2021

Pesawat ruang angkasa Soyuz dirancang untuk wisatawan
Indonesia
•
24 Oct 2019

COVID-19 – Rusia kembangkan 28 varian vaksin
Indonesia
•
18 Jul 2020


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
