
UN Women: Menghapus kesenjangan digital gender bisa tingkatkan PDB global 1,5 triliun dolar AS

Sejumlah orang berpartisipasi dalam sebuah pawai untuk memperingati Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan di Kolombo, Sri Lanka, pada 25 November 2024. (Xinhua/Gayan Sameera)
Menghapus kesenjangan digital gender saja dapat memberikan manfaat bagi 343,5 juta perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia, mengentaskan 30 juta perempuan dari kemiskinan per 2050, dan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) global sekitar 1,5 triliun dolar AS per 2030.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Menghapus kesenjangan digital gender saja dapat memberikan manfaat bagi 343,5 juta perempuan dan anak perempuan di seluruh dunia, mengentaskan 30 juta perempuan dari kemiskinan per 2050, dan meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) global sekitar 1,5 triliun dolar AS per 2030, demikian menurut sebuah laporan baru yang dirilis oleh Badan PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) pada Senin (15/9).*1 dolar AS = 16.405 rupiahDengan investasi, kesetaraan gender dapat tercapai, kata laporan bertajuk ‘Potret Gender’ (Gender Snapshot) 2025 yang disusun oleh UN Women dan Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial PBB.Anak perempuan kini memiliki kemungkinan lebih besar daripada sebelumnya untuk menyelesaikan sekolah, dan angka kematian ibu melahirkan turun hampir 40 persen antara 2000 hingga 2023. Tingkat kekerasan oleh pasangan tercatat 2,5 kali lebih rendah di negara-negara yang menerapkan kebijakan komprehensif terhadap tindak kekerasan dibandingkan dengan negara-negara yang menerapkan perlindungan lemah, tunjuk laporan tersebut.Kepemimpinan perempuan dalam perundingan iklim meningkat dua kali lipat, dan dalam lima tahun terakhir, sebanyak 99 undang-undang baru atau yang direformasi telah melenyapkan diskriminasi, kata laporan itu."Jika kesetaraan gender diprioritaskan, masyarakat dan ekonomi akan maju," kata Direktur Eksekutif UN Women Sima Bahous. "Investasi yang ditargetkan dalam kesetaraan gender memiliki kekuatan untuk mentransformasi masyarakat dan ekonomi."Pada saat yang sama, serangan balik yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap hak-hak perempuan, penyempitan ruang sipil, dan pemangkasan pendanaan untuk inisiatif kesetaraan gender mengancam berbagai pencapaian yang telah diraih dengan susah payah, papar laporan tersebut.Jika tren saat ini terus berlanjut, dunia akan memasuki tahun 2030 dengan 351 juta perempuan dan anak perempuan masih hidup dalam kemiskinan ekstrem. Konflik juga semakin mematikan bagi perempuan dan anak perempuan, dengan 676 juta perempuan dan anak perempuan saat ini hidup di wilayah yang bisa dijangkau konflik mematikan, angka tertinggi sejak 1990-an.Selain itu, pada 2024, jumlah perempuan dewasa yang mengalami kerawanan pangan sedang atau parah lebih banyak 64 juta orang dibandingkan dengan laki-laki dewasa, urai laporan tersebut."Saat para pemimpin dunia berkumpul di New York untuk menghadiri Sesi ke-80 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations General Assembly/UNGA) dan memperingati 30 tahun Deklarasi dan Platform Beijing untuk Aksi (Beijing Declaration and Platform for Action) pada 22 September, Agenda Aksi Beijing+30 (Beijing+30 Action Agenda) memberikan arah yang jelas menuju hak, kesetaraan, dan pemberdayaan bagi semua perempuan dan anak perempuan," tutur Bahous."Hanya tersisa lima tahun untuk mencapai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030, dengan target yang bertujuan mewujudkan kesetaraan gender bagi semua. Laporan Gender Snapshot 2025 menunjukkan bahwa kerugian dari kegagalan sangatlah besar, namun begitu juga manfaat dari tercapainya kesetaraan gender," ujar Wakil Sekretaris Jenderal PBB untuk Urusan Ekonomi dan Sosial Li Junhua.Laporan Gender Snapshot merupakan sumber data terkemuka di dunia terkait kesetaraan gender dan Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030. Dengan mengumpulkan data dari 100 lebih sumber, laporan ini melacak kemajuan bagi perempuan dan anak perempuan di seluruh 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goal/SDG). Edisi 2025 menunjukkan bahwa dengan sisa waktu lima tahun untuk mencapai SDG, dunia saat ini melenceng dari jalur untuk memenuhi setiap indikator di bawah SDG 5, yakni tujuan kesetaraan gender.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Jajak pendapat: Mayoritas warga California yakin demokrasi AS dalam masalah serius
Indonesia
•
13 Jul 2025

Media massa AS sebut mempersenjatai guru untuk hadapi penembakan tingkatkan ketakutan
Indonesia
•
10 Aug 2022

WHO sebut COVID-19 masih merupakan darurat kesehatan internasional
Indonesia
•
31 Jan 2023

Tingkat kelaparan global turun pada 2024, tetapi masih bayangi Afrika dan Asia Barat
Indonesia
•
30 Jul 2025


Berita Terbaru

Feature – ‘Becoming Chinese’ di Kunming, perjalanan menelusuri akar budaya seorang ‘blogger’ Tionghoa-Amerika
Indonesia
•
30 Apr 2026

Indonesia-China perkuat kerja sama pendidikan vokasi dalam Forum CITIEA 2026
Indonesia
•
28 Apr 2026

Volume kelima buku ‘Xi Jinping: Tata Kelola China’ edisi bahasa Inggris dipromosikan di Indonesia
Indonesia
•
28 Apr 2026

Afghanistan berisiko kehilangan 25.000 guru dan nakes perempuan per 2030
Indonesia
•
29 Apr 2026
