Melestarikan kekayaan geologi Indonesia di Bayat

Melestarikan kekayaan geologi Indonesia di Bayat
Kampus geologi lapangan di Jalan Raya Bayat, Cungkrungan, Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah dibangun oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta pada 1984. (Kementerian ESDM)

Jakarta (Indonesia Window) – Bagi sebagian masyarakat, Kecamatan Bayat di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah hanyalah sebuah daerah seperti lainnya.

Namun, bagi para ahli geologi serta mereka yang belajar ilmu bumi tentang batuan dan mineral, Bayat adalah tempat yang sungguh istimewa.

Bersama Karangsambung di Kabupaten Kebumen (Jawa Tengah) dan Ciletuh di Kabupaten Pelabuhanratu (Jawa Barat), Bayat adalah daerah di tanah air yang memiliki singkapan batuan tertua berumur lebih dari 70 juta tahun yang berasal dari Zaman Pra-Tersier.

Selain itu, ragam batuan dan struktur geologi yang ditemukan di Bayat juga menjadikan daerah ini lokasi kunci mengenai kondisi geologi Indonesia, khususnya evolusi tektonik Pulau Jawa.

“Tempat-tempat semacam ini harus dilestarikan untuk kepentingan pembelajaran, mengingat keberadaannya semakin terancam karena masalah lahan dan vandalisme,” ujar Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan di Badan Geologi, Kementerian ESDM, Andiani, dalam pernyataan yang diterima di Jakarta, Selasa.

“Kalau bisa (Bayat) tak hanya jadi geoheritage tapi meningkat menjadi kawasan geopark ke depannya,” imbuhnya.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri ESDM Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang sekaligus Plt Kepala Badan Geologi Saleh Abdurrahman juga mendukung pengusulan Bayat sebagai wilayah konservasi mengingat tidak semua warga mengerti arti penting dari singkapan geologi yang terdapat di sana.

“Sosialisasi kepada warga sekitar mengenai arti penting singkapan geologi di area milik mereka juga harus terus dilakukan. Selain sebagai tempat belajar geologi, area konservasi nantinya juga akan membawa dampak sosial dan peningkatan ekonomi bagi masyarakat lokal,” ujar Saleh.

Para ahli geologi memperkirakan batuan tertua atau batuan yang menyusun Pulau Jawa berumur Kapur atau sekitar 100 juta tahun yang lalu.

Berdasarkan perhitungan menggunakan metode radiometrik Potassium-Argon, batuan tertua yang tersingkap di daerah Bayat adalah batuan metamorf berumur 98 juta tahun yang lalu.

Batuan yang dapat dijumpai di Perbukitan Jiwo Barat dan Jiwo Timur tersebut menyimpan informasi tentang proses tektonik dan metamorfisme.

Kedua proses tersebut bertanggungjawab atas munculnya batuan yang seharusnya berada puluhan kilometer di bawah permukaan bumi dengan suhu dan tekanan tinggi ke permukaan.

Dengan mempelajari batuan itu, para ahli geologi dapat memperkirakan besarnya suhu dan tekanan selama pembentukan batuan guna memahami sejarah dan evolusi geologi Pulau Jawa.

Keunikan Bayat telah menarik perhatian para peneliti kebumian baik dari dalam maupun luar negeri.

Kampus geologi

Pada 1984 Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta membangun kampus geologi lapangan yang terletak di Jalan Raya Bayat, Cungkrungan, Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Sejak didirikan, Kampus Bayat telah menerima ribuan mahasiswa per tahun yang melakukan kuliah lapangan selama satu hingga empat pekan.

Menurut dosen Teknik Geologi UGM yang juga menjabat Kepala Pengelola Kampus Bayat, Didit Hadi Barianto, Kampus Bayat mampu menampung hingga 160 mahasiswa dan 20 pamong.

“Setelah ditutup karena pandemik, kami bersiap akan membukanya lagi tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat dengan membatasi jumlah mahasiswa hingga setengah dari kondisi normal,” tutur dia.

Bangunan kampus geologi lapangan Bayat kini memiliki tiga lantai, hasil dari revitalisasi pasca gempa Yogyakarta berkekuatan 5,9 Skala Richter yang terjadi Mei pada 2006.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here