Mau kuliah S1 di China? Kini wajib lolos tes CSCA, apa itu?

Foto dokumentasi ini menunjukkan seorang pelajar yang sedang mengikuti kelas persiapan CSCA secara daring di Jakarta. (Xinhua/Jessica Abraham)

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Bagi sebagian pelajar Indonesia yang berencana melanjutkan studi sarjana ke China, proses persiapan kuliah kini tidak lagi hanya berkaitan dengan nilai rapor, kemampuan bahasa, pilihan universitas, dan dokumen pendaftaran.

Mereka juga mulai harus mengenal satu tahapan baru, yakni China Scholastic Competency Assessment (CSCA).

CSCA merupakan tes standar bagi calon mahasiswa internasional yang berencana menempuh pendidikan sarjana di China.

Untuk tahun akademik 2026/2027, tes ini mulai menjadi salah satu dokumen wajib bagi pelamar jenjang sarjana dalam skema Chinese Government Scholarship (CGS).

Dalam pemberitahuan terkait pendaftaran Chinese Government Scholarship (CGS) tahun akademik 2026/2027, Kedutaan Besar China di Indonesia menyebutkan bahwa pelamar jenjang sarjana perlu mengikuti CSCA dan mengunggah laporan nilai yang masih berlaku saat mendaftar.

Nilai tersebut menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam proses evaluasi oleh universitas.

Kehadiran CSCA membuat sebagian calon mahasiswa dan orang tua di Indonesia mulai menyesuaikan rencana mereka.

Jika sebelumnya persiapan kuliah ke China lebih banyak berfokus pada pemilihan kampus, program studi, kemampuan bahasa Mandarin, dan dokumen administrasi, kini pelajar juga perlu memahami struktur ujian, mata pelajaran yang harus diambil, serta jadwal pendaftaran.

Lily Goenawan, salah satu orang tua yang anaknya berencana melanjutkan pendidikan ke China, mengaku sempat terkejut ketika pertama kali mengetahui adanya persyaratan baru tersebut.

"Awalnya merasa kaget dan khawatir karena sekarang kuliah ke China syaratnya semakin sulit," ujarnya kepada Xinhua di Jakarta.

Namun, setelah mencari informasi lebih lanjut, Lily menilai CSCA tidak semata-mata sebagai hambatan tambahan.

Menurutnya, tes tersebut juga dapat membantu calon mahasiswa mengetahui kemampuan dasar mereka sebelum benar-benar masuk ke perguruan tinggi di China.

"Saya pikir ada bagusnya karena CSCA dapat menjadi acuan dasar bagi calon mahasiswa maupun universitas untuk melihat kemampuan dasar calon mahasiswa, sekaligus menjadi standardisasi kemampuan dasar semua calon mahasiswa," katanya.

Berbeda dengan Hanyu Shuiping Kaoshi (HSK), yang berfokus pada kemampuan bahasa Mandarin, CSCA mencakup aspek kesiapan akademik yang lebih luas.

Berdasarkan informasi resmi CSCA, ujian ini mencakup Professional Chinese, Matematika, Fisika, dan Kimia.

Professional Chinese terbagi menjadi kategori humaniora dan STEM, sedangkan Matematika, Fisika, dan Kimia termasuk mata ujian dasar.

Mata ujian yang harus diambil dapat berbeda-beda sesuai persyaratan universitas dan program studi tujuan.

Karena itu, calon mahasiswa disarankan tidak hanya mencari informasi umum tentang CSCA, tetapi juga memeriksa ketentuan masing-masing universitas dan program studi.

Bagi pelamar program tertentu, Matematika dapat menjadi komponen penting.

Sementara itu, pelamar program berbahasa Mandarin umumnya perlu memperhatikan persyaratan Bahasa Mandarin Profesional.

Fisika dan Kimia dapat menjadi relevan bagi mereka yang memilih bidang sains, teknik, kedokteran, atau program lain yang mensyaratkannya.

Bagi Lily, perubahan ini menunjukkan bahwa calon mahasiswa perlu mempersiapkan diri lebih awal.

Menurutnya, kuliah di luar negeri, termasuk di China, bukan hanya soal diterima di universitas, tetapi juga soal kemampuan mengikuti perkuliahan setelah tiba di negara tujuan.

"CSCA dapat membantu mahasiswa menghadapi materi kuliah nanti. Minimal mereka memahami setiap materi dasar dengan baik. Jadi ketika masuk materi yang lebih maju, mereka dapat mengikutinya dengan lancar," katanya.

Meski demikian, sebagai kebijakan yang relatif baru, persiapan CSCA juga menghadirkan tantangan. Salah satunya, menurut sebagian calon peserta, adalah keterbatasan sumber belajar dan referensi yang mudah diakses, terutama bagi pelajar yang baru mengenal format ujian tersebut.

"Karena ini syarat yang relatif baru, sesuatu yang baru selalu menimbulkan rasa tidak nyaman. Apalagi sumber belajar sebelumnya belum ada atau masih sangat minim," ujar Lily.

Noah, siswa kelas 11 yang tengah mempersiapkan diri menghadapi CSCA, mengatakan bahwa dia sudah belajar selama beberapa bulan dengan bantuan tutor.

Menurutnya, persiapan tersebut membuatnya lebih percaya diri.

"Saya sudah belajar untuk ujian ini selama sekitar lima bulan dengan seorang tutor dan saya merasa persiapan yang saya lakukan membuat saya lebih percaya diri dan lebih siap dalam menghadapi ujian ini. Saya berharap dapat nilai yang memuaskan nanti," katanya.

Noah menilai CSCA dapat menjadi tantangan tersendiri bagi siswa internasional, terutama karena materi dan pendekatan kurikulumnya berbeda dari ujian internasional yang lebih dikenal sebagian pelajar Indonesia.

"Saya rasa CSCA akan lebih sulit dari SAT karena kurikulumnya berbeda, sementara SAT lebih familiar," kata siswa dari sekolah yang menggunakan kurikulum Cambridge itu.

Di sisi lain, ketertarikan sebagian keluarga Indonesia terhadap pendidikan tinggi di China tidak otomatis berkurang.

Lily mengatakan bahwa dia tetap ingin anaknya menempuh pendidikan di China karena melihat perkembangan negara tersebut dan kualitas sejumlah universitasnya.

"Saya sangat ingin anak-anak berkuliah di China karena melihat kemajuan dan perkembangan China yang luar biasa," ujarnya.

Menurut Lily, CSCA lebih tepat dilihat sebagai tantangan baru yang perlu dipersiapkan, bukan sebagai penghalang.

"Kalau memang kuliah di China sesuatu yang harus dicapai, tentunya CSCA bukan hambatan besar, tetapi tantangan yang harus dilalui," tuturnya.

Bagi calon mahasiswa Indonesia, kehadiran CSCA menunjukkan bahwa persiapan kuliah ke China perlu dilakukan dengan lebih terencana.

Selain menyiapkan dokumen pendaftaran dan kemampuan bahasa, mereka perlu mempelajari persyaratan akademik masing-masing universitas, memilih mata ujian yang sesuai, serta menyusun jadwal belajar sejak dini.

Dengan semakin terbukanya informasi mengenai CSCA, pelajar Indonesia yang ingin melanjutkan studi sarjana ke China diharapkan dapat lebih memahami proses seleksi baru tersebut.

Bagi sebagian keluarga, persyaratan ini memang menambah tahapan dalam proses aplikasi.

Namun, bagi mereka yang sudah menetapkan China sebagai tujuan studi, CSCA juga dapat menjadi bagian dari proses adaptasi sebelum memasuki dunia perkuliahan di negara tersebut.

Selesai

Penulis: Jessica Abraham

Bagikan

Komentar

Berita Terkait