
Peneliti China kembangkan material bangunan rendah karbon yang terinspirasi dari cacing laut

Foto dari udara yang diabadikan pada 24 Oktober 2023 ini menunjukkan sebuah menara utama dari jembatan ngarai besar Huajiang di Provinsi Guizhou, China barat daya. Menara utama terakhir dari jembatan ngarai besar Huajiang itu telah rampung pada Selasa (24/10) di Provinsi Guizhou, China barat daya, menandai tonggak penting dalam pembangunan jembatan tertinggi di dunia. Dengan ketinggian yang dirancang 625 meter antara dek jembatan dan Sungai Beipanjiang di bawahnya, jembatan ngarai besar Huajiang...
Material bangunan rendah karbon yang dikembangkan oleh para ilmuwan China terinspirasi dari salah satu jenis cacing laut yang disebut cacing istana pasir (Phragmatopoma californica), yang dapat mengikat butiran pasir atau serpihan cangkang menjadi satu menggunakan perekat intrinsik yang disekresikan, sehingga menciptakan rumah yang disebut ‘istana pasir koloni’.
Beijing, China (Xinhua) – Sejumlah peneliti China, yang terinspirasi oleh cacing laut, berhasil mengembangkan sebuah material bangunan rendah karbon baru, yang menawarkan potensi penghematan energi dan pengurangan emisi di sektor konstruksi.Para peneliti dari Institut Teknis Fisika dan Kimia (Technical Institute of Physics and Chemistry/TIPC) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) baru-baru ini memublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal Matter."Material bangunan berbasis semen konvensional menghabiskan banyak energi dalam proses produksinya dan pada saat yang sama menghasilkan emisi karbon yang tinggi, sehingga pengembangan material bangunan rendah karbon baru menjadi sangat penting," ujar Wang Shutao, penulis korespondensi studi ini sekaligus peneliti di TIPC.Para peneliti tersebut menemukan bahwa salah satu jenis cacing laut yang disebut cacing istana pasir (Phragmatopoma californica) memiliki pendekatan yang unik dalam membangun sarang. Cacing ini dapat mengikat butiran pasir atau serpihan cangkang menjadi satu menggunakan perekat intrinsik yang disekresikan, sehingga menciptakan rumah yang disebut "istana pasir koloni." Para peneliti tersebut mengembangkan sebuah material bangunan baru dengan memanfaatkan perekat alami yang terinspirasi dari perekat yang dihasilkan oleh cacing laut itu. Material baru ini dapat diproduksi pada suhu dan tekanan atmosfer yang rendah.Menurut studi tersebut, bahan bangunan ini bersifat serbaguna, dapat digunakan pada berbagai jenis butiran, seperti pasir gurun, pasir laut, terak beton, kokas batu bara, dan residu mineral. Material ini juga memiliki kinerja mekanis yang baik, kemampuan daur ulang yang unik, sifat antipelapukan, dan skalabilitas."Kinerja komprehensif yang luar biasa ini memungkinkan material baru ini untuk menjadi material bangunan yang menjanjikan dalam konstruksi rendah karbon generasi berikutnya," kata Wang.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ginkgo bertahan hidup selama 240 juta tahun
Indonesia
•
22 Sep 2019

Indonesia ubah sampah plastik jadi bahan bakar
Indonesia
•
21 Oct 2019

Analisis belatung bantu penyelidikan forensik
Indonesia
•
08 Feb 2022

Ilmuwan prediksikan mitigasi CO2 dari panel fotovoltaik atap di China pada 2030
Indonesia
•
04 May 2023


Berita Terbaru

China bantah AI-nya “meniru” AS: Kami membangunnya dengan kekuatan sendiri
Indonesia
•
10 Sep 2026

XPeng mulai produksi massal robot humanoid, IRON siap dijual ke dunia pada 2027
Indonesia
•
09 Sep 2026

Makam berusia lebih dari 4.000 tahun ditemukan di Saqqara, Mesir
Indonesia
•
09 Sep 2026

Huawei habiskan 319 triliun rupiah untuk riset, Mate XT 2 dan cip baru jadi hasilnya
Indonesia
•
07 Sep 2026
