
Masjid Al-Aqsa kembali diterobos ribuan pemukim Israel, Palestina tegaskan Al-Quds bukan milik Israel

Orang-orang mengikuti ibadah salat Jumat di kompleks Masjid Al-Aqsa saat bulan suci Ramadan di Kota Tua Yerusalem pada 27 Februari 2026. (Xinhua/Jamal Awad)
Kairo/Ramallah, Mesir/Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Ribuan pemukim Israel, yang didampingi sejumlah menteri pemerintah Israel dan dilindungi pengawalan ketat pihak kepolisian, pada Kamis (23/7) beramai-ramai menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem Timur (Al-Quds) yang diduduki, memicu kecaman luas dari seluruh kawasan Timur Tengah.
Kepresidenan Palestina mengecam tindakan tersebut sebagai "pelanggaran dan eskalasi yang berbahaya" serta "pelanggaran terang-terangan terhadap status quo historis dan legal," seraya memperingatkan bahwa hal itu mencerminkan kebijakan sistematis untuk memaksakan realitas baru dan upaya membagi masjid tersebut "berdasarkan waktu dan ruang."
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Palestina, WAFA, kepresidenan Palestina menekankan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem (Al-Quds) dan situs-situs suci di sana. Kepresidenan Palestina juga menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memaksa Israel menghentikan semua pelanggaran di wilayah Palestina.
Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil Fahmy dengan tegas mengecam tindakan tersebut, dengan mengatakan bahwa aksi menggeruduk kompleks itu telah meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan apa yang dia gambarkan sebagai rencana yang sedang dilaksanakan untuk memberlakukan pembagian waktu dan ruang di situs suci itu.
Dia memperingatkan bahwa rencana tersebut menimbulkan bahaya serius dan didukung oleh kekuatan-kekuatan yang membentuk kebijakan pemerintah Israel. Upaya Israel untuk mengubah status quo di Kota Tua melanggar hukum internasional dan berisiko memperparah ketegangan, imbuhnya.
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Mesir juga mengecam aksi tersebut, terutama keterlibatan Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan para anggota Knesset, parlemen Israel. Kemenlu Mesir menggambarkannya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap status quo historis dan legal.
Kemenlu Mesir memperingatkan bahwa tindakan semacam itu akan memicu ketegangan, merusak upaya deeskalasi, dan mengancam perdamaian serta keamanan regional. Kemenlu juga mendesak masyarakat internasional untuk campur tangan.
Menurut Departemen Urusan Awqaf Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa, lebih dari 3.000 pemukim memasuki kompleks masjid tersebut untuk memperingati Tisha B'Av, hari puasa tahunan umat Yahudi.
Kompleks masjid tersebut, yang dikenal oleh umat Islam sebagai Al-Haram Al-Sharif dan oleh umat Yahudi sebagai Bukit Bait Suci, merupakan salah satu situs keagamaan paling sensitif di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan kesepakatan yang telah lama berlaku, umat Muslim diperbolehkan beribadah di sana, sementara umat non-Muslim diperbolehkan berkunjung namun tidak boleh melakukan ritual keagamaan.
Israel merebut Yerusalem Timur (Al-Quds), termasuk Kota Tua, pada 1967, dan kemudian mencaplok wilayah tersebut dalam langkah yang tidak diakui secara internasional.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Israel setuju lanjutkan pembicaraan kesepakatan pembebasan sandera dengan Hamas pekan depan
Indonesia
•
26 May 2024

Tingkat kepuasan publik terhadap kabinet PM Kishida turun ke level terendah baru
Indonesia
•
12 Jul 2024

Cyril Ramaphosa resmi jadi presiden Afsel untuk masa jabatan kedua
Indonesia
•
22 Jun 2024

Uni Eropa gagal sepakati embargo minyak Rusia
Indonesia
•
30 May 2022


Berita Terbaru

Khawatir diserang Iran, Israel buka tempat perlindungan
Indonesia
•
24 Jul 2026

IMO keluarkan peringatan keras: Serangan di Laut Merah ancam pelaut dan perdagangan dunia
Indonesia
•
24 Jul 2026

PM Inggris Andy Burnham resmikan 'No.10 North', langkah baru pangkas dominasi Westminster
Indonesia
•
24 Jul 2026

Trump ancam gunakan dana Iran untuk ganti rugi kerusakan kapal dan muatan
Indonesia
•
24 Jul 2026
