
Tim ilmuwan China ungkap cara air di mantel dalam jadikan Bumi layak huni

Ilustrasi. (Vimal S on Unsplash)
Mantel dalam Bumi dapat berfungsi sebagai sebuah reservoir raksasa bagi air lebih dari empat miliar tahun yang lalu.
Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Tim ilmuwan China berhasil mengungkap sebuah mekanisme penting yang menjelaskan bagaimana Bumi dapat menyimpan air dalam jumlah yang sangat besar pada masa awal pembentukannya, memberikan wawasan baru tentang evolusi drastis planet ini dari bola magma yang membara menjadi dunia yang mampu menopang kehidupan seperti saat ini.Para peneliti dari Institut Geokimia Guangzhou, yang berada di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China, secara eksperimental menunjukkan bahwa mantel dalam Bumi dapat berfungsi sebagai sebuah reservoir raksasa bagi air lebih dari empat miliar tahun yang lalu, papar studi yang telah dipublikasikan pada Jumat (12/12) dalam jurnal Science tersebut."Ke mana perginya air ketika lautan magma awal Bumi mengkristal? Untuk mantel terdalam, jawabannya selama ini masih sulit dimengerti," ungkap jurnal tersebut dalam sebuah ringkasan editorial.Kuncinya terletak pada bridgmanite, mineral dominan di mantel bawah. Meski sebelumnya dianggap memiliki kapasitas penyimpanan air yang terbatas, tim China menemukan bahwa mineral ini sebenarnya memiliki kemampuan yang kuat dan bergantung pada suhu untuk menjebak air.Para peneliti mereplikasi kondisi ekstrem di mantel bawah Bumi, yakni tekanan yang tinggi dan suhu yang sangat panas hingga sekitar 4.100 derajat Celsius, menggunakan perangkat canggih diamond anvil cell yang dipadukan dengan pemanasan laser.Temuan mereka menyingkap sebuah paradoks: semakin panas lingkungannya, maka semakin efisien bridgmanite menangkap dan menyimpan molekul air selama proses pembentukannya dari magma yang mendingin.Proses ini dapat mengunci sejumlah air, yang setara dengan 0,08 hingga 1 kali volume keseluruhan laut modern, di dalam mantel padat, ungkap studi tersebut.‘Cadangan air’ primordial ini secara bertahap dibawa kembali ke permukaan melalui aktivitas vulkanik, berkontribusi pada pembentukan sebuah planet biru yang layak huni.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Danau air tawar terbesar kedua di China akhiri musim kemarau berkepanjangan
Indonesia
•
08 Jun 2023

Rusia akan evakuasi astronaut dari ISS di tengah keadaan darurat
Indonesia
•
15 Jan 2023

Penelitian ungkap perubahan penggunaan lahan dan tren ekologis di cekungan Sungai Tarim China
Indonesia
•
26 May 2025

Degradasi hutan hujan tropis ancam dunia
Indonesia
•
29 Oct 2021


Berita Terbaru

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026

Pengelolaan ternak temporal solusi konflik manusia-satwa liar
Indonesia
•
12 Mar 2026
