Mamuju di Sulawesi Barat terpapar radiasi alam 9 kali lebih tinggi dari rata-rata dunia, masuk sorotan PBB

Foto tak bertanggal ini menunjukkan kapal-kapal nelayan di sebuah pelabuhan di Sulawesi Barat. (Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat)

Radiasi alam di Mamuju mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun, dibandingkan rata-rata dosis efektif tahunan dari radiasi alam secara global sekitar 3,0 mSv per tahun.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Wilayah Mamuju di Sulawesi Barat, tercatat menerima paparan radiasi alam hampir sembilan kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Temuan tersebut dimuat dalam UNSCEAR 2024 Report – Annex B, yang diumumkan dalam daftar Latest Publications per 12 Februari 2026 di laman resmi Komite Kaji Efek Radiasi PBB (United Nations Scientific Committee on the Effects of Atomic Radiation/UNSCEAR). Laporan ini mengevaluasi paparan radiasi pengion terhadap publik di seluruh dunia.

Representative Indonesia untuk UNSCEAR dan juga Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi, dan Mutu Nuklir (PRTKMMN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Nur Rahmah Hidayati, mengatakan dalam laporan tersebut, Mamuju diklasifikasikan sebagai High Natural Background Radiation Areas (HNBRA) atau wilayah dengan radiasi latar belakang tinggi.

Estimasi dosis efektif tahunan dari sumber radiasi alam di Mamuju mencapai sekitar 27 milisievert (mSv) per tahun.

Sebagai perbandingan, rata-rata dosis efektif tahunan dari radiasi alam secara global diperkirakan sekitar 3,0 mSv per tahun.

“Jika dibandingkan, paparan yang diterima penduduk Mamuju hampir sembilan kali lebih besar dari rata-rata dunia,” kata Nur Rahmah, Ahad.

Dia menjelaskan, tingginya paparan radiasi alam di Mamuju terutama disebabkan oleh kandungan uranium dan thorium yang sangat tinggi di dalam tanah.

Konsentrasi ²³⁸U dan ²³²Th di beberapa lokasi di Mamuju dilaporkan berada pada kisaran ratusan hingga lebih dari 1.000 Bq/kg, sementara rata-rata global masing-masing sekitar 33 Bq/kg untuk ²³⁸U dan 45 Bq/kg untuk ²³²Th.

Selain itu, konsentrasi radon di luar ruangan di Mamuju berkisar antara 22 hingga 760 Bq/m³, dengan rata-rata sekitar 290 Bq/m³. “Angka ini tergolong sangat tinggi dan berkontribusi signifikan terhadap dosis radiasi yang diterima masyarakat setempat,” ujar Nur Rahmah.

Meski demikian, dia mengungkapkan gaya bangunan dan kebiasaan hidup masyarakat lokal membantu mencegah akumulasi radon yang lebih tinggi di dalam rumah.

Faktor ventilasi alami dan struktur bangunan tradisional menjadi salah satu penjelasan mengapa konsentrasi radon dalam ruangan tidak meningkat secara drastis dibandingkan lingkungan luar.

“Keberadaan wilayah dengan radiasi alam tinggi seperti Mamuju dinilai penting secara ilmiah karena dapat menjadi lokasi penelitian untuk memahami dampak paparan radiasi rendah secara jangka panjang terhadap kesehatan manusia,” terangnya.

UNSCEAR dalam laporan tersebut juga menegaskan bahwa secara global, sumber alami radiasi tetap menjadi kontributor terbesar terhadap paparan radiasi publik. Sementara itu, paparan dari sumber buatan umumnya jauh lebih rendah, kecuali pada kejadian luar biasa seperti kecelakaan radiologi besar.

Kepala PRTKMMN BRIN, Heru Prasetio, menekankan variasi radiasi alam di berbagai belahan dunia merupakan fenomena geologis alami. Secara global, rata-rata paparan radiasi alam sekitar 3 mSv per tahun. Sebagian besar berasal dari radon yang terhirup melalui pernapasan beserta partikel hasil peluruhannya.

UNSCEAR adalah komite ilmiah PBB yang sejak 1955 memiliki mandat menilai tingkat dan dampak paparan radiasi pengion terhadap kesehatan manusia dan lingkungan secara global.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait