Mahasiswa Indonesia soroti kebijakan pengembangan teknologi futuristik dan revitalisasi pedesaan di China

Foto yang diabadikan pada 9 Maret 2026 ini menunjukkan sebuah mesin otonomos sedang menyemprot pestisida di sebuah lahan di Provinsi Shanxi, China utara. (Xinhua/Zhu Zheng)

Fokus kebijakan China pada revitalisasi pedesaan dan pembangunan sektor pertanian.

 

Taiyuan, China (Xinhua/Indonesia Window) – ‘Dua Sesi’ di China, yaitu sidang tahunan badan legislatif tertinggi dan badan penasihat politik tertinggi China, kian menarik perhatian para pengamat yang mencari informasi mengenai tren kebijakan serta pengembangan negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu. Baru-baru ini, dua mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Shanxi, China utara, Nathaniel Hartono Putra dan Harry Kurniawan, berbagi pandangan mereka tentang ‘Dua Sesi’ dalam sebuah wawancara dengan Xinhua.

Bagi Nathaniel, data ekonomi China pada 2025, yang dirilis dalam Laporan Kerja Pemerintah yang diajukan kepada Kongres Rakyat Nasional (National People's Congress/NPC) China merupakan pencapaian yang cukup mengesankan.

"Kita melihat Produk Domestik Bruto (PDB) China berhasil menembus angka 140 triliun yuan pada 2025 dengan tingkat pertumbuhan sebesar 5 persen secara tahunan (year on year/yoy), inilah data yang sangat mengesankan dan menakjubkan," ujar Nathaniel.

*1 yuan = 2.456 rupiah

Menurut Nathaniel, China dan Indonesia merupakan mitra dagang utama bagi satu sama lain dan pembangunan ekonomi China yang kuat tidak diragukan lagi memberikan keuntungan bagi Indonesia, mengingat kerja sama pragmatis kedua negara telah menjangkau berbagai aspek. Di samping itu, baik Indonesia maupun China merupakan pendukung globalisasi ekonomi serta kerja sama yang saling menguntungkan, termasuk dalam berbagai agenda Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (Belt and Road Initiative/BRI).

"Setelah menetap di sini selama tiga tahun, saya merasa pembangunan China tidak hanya menghadirkan keuntungan bagi negaranya, tetapi juga memiliki arti penting bagi kemakmuran regional dan global," kata Nathaniel.

Harry Kurniawan, rekan satu jurusan Nathaniel di Universitas Shanxi, menyoroti fokus kebijakan China pada revitalisasi pedesaan dan pembangunan sektor pertanian.

"China selalu memprioritaskan pengembangan teknologi, tetapi pada saat yang sama, negara ini tidak pernah mengabaikan pembangunan daerah pedesaan demi meningkatkan taraf hidup para petani," ujar Harry.

Harry pernah mendampingi seorang deputi NPC dalam kunjungan kerja ke daerah pedesaan di Shanxi, di mana dia menyaksikan secara langsung bagaimana proses pendokumentasian kondisi pembangunan, kendala yang dihadapi petani lokal, dan kebutuhan masyarakat yang pada akhirnya dirumuskan menjadi usulan kebijakan resmi.

"Dalam kunjungan itu, saya mengamati bahwa jaminan bagi warga lanjut usia (lansia) di daerah pedesaan China sudah cukup baik dan terus ditingkatkan. Mengingat Indonesia juga memiliki daerah pedesaan serta populasi petani yang sangat besar, pengalaman China ini patut dipelajari dan saya akan terus berfokus pada upaya China di bidang ini," sebutnya.

Sebagai penggemar teknologi futuristik, Nathaniel mengaku terkesan dengan deretan robot humanoid yang menarik perhatian luas setelah tampil dalam pertunjukan gala akbar Tahun Baru Imlek baru-baru ini.

"Teknologi robot, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan kuantum China terbilang paling maju di dunia karena negara ini sangat memprioritaskan pengembangan teknologi mutakhir. Salah satu buktinya adalah peningkatan dana penelitian dan pengembangan (litbang) dalam beberapa tahun terakhir, seperti yang tercantum dalam laporan pemerintah," papar Nathaniel, yang juga menyebutkan rencana pembangunan di bidang teknologi yang diuraikan dalam rencana pembangunan lima tahun ke-15 China.

Nathaniel dan Harry menyebutkan bahwa mereka melihat para deputi NPC dan penasihat politik di China tidak hanya meliputi tokoh politik, ilmuwan terkemuka, dan pengusaha elit, tetapi juga mencakup banyak perwakilan yang berasal dari kalangan akar rumput.

"Saya rasa inilah alasan mengapa usulan dari mereka mewakili berbagai suara dari lapisan masyarakat yang berbeda," kata mereka.

Perihal kerja sama antara Indonesia dan China, kedua mahasiswa tersebut mengatakan mereka memandang pembangunan China merupakan dorongan kuat bagi dunia dan "kerja sama kita yang terus diperdalam akan membantu menciptakan lingkungan pembangunan yang lebih stabil dan damai di dunia, yang pada akhirnya memberikan keuntungan bagi setiap orang". 

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait