
Lubang raksasa di Aceh Tengah kian melebar, peneliti BRIN ungkap penyebabnya

Tangkapan layar pada Selasa (24/2/2026) ini menunjukkan lubang raksasa di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, yang makin melebar, hingga merusak infrastruktur jalan, jaringan listrik, dan lahan warga. (Indonesia Window)
Fenomena lubang besar yang terus meluas di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, merupakan longsoran alami.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Fenomena lubang besar yang terus meluas di Desa Pondok Balek, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, memicu kekhawatiran warga setempat. Lubang yang semakin dalam dan melebar itu membuat banyak orang menduga kejadian tersebut merupakan fenomena sinkhole seperti yang pernah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Namun peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan bahwa dugaan tersebut tidak tepat. Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menjelaskan bahwa fenomena tersebut sebenarnya merupakan proses longsoran alami yang berlangsung secara bertahap selama puluhan hingga ratusan tahun.
“Yang terjadi di Aceh Tengah sebenarnya fenomena longsoran, bukan sinkhole,” ujar Adrin, Kamis (10/2), dikutip dari situs jejaring BRIN, Selasa.
Menurutnya, secara geologi kawasan tersebut tidak tersusun oleh batugamping—material yang biasanya menyebabkan sinkhole. Sebaliknya, wilayah itu didominasi endapan piroklastik berupa batuan tufa hasil aktivitas gunung api Geurendong yang kini sudah tidak aktif.
Material tufa ini tergolong muda secara geologis dan belum mengalami pemadatan sempurna. Akibatnya, lapisan tanah menjadi rapuh, mudah tergerus air, dan rentan runtuh.
Analisis citra satelit menunjukkan bahwa sejak 2010 kawasan tersebut sebenarnya sudah memiliki lembah kecil atau ngarai. Seiring waktu, proses erosi dan longsoran terus berlangsung sehingga lembah itu perlahan melebar dan memanjang hingga akhirnya membentuk lubang besar seperti yang terlihat sekarang.
Gempa bumi berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Aceh Tengah pada 2013 diduga turut mempercepat kerusakan struktur lereng. Getaran gempa kemungkinan melemahkan lapisan tanah sehingga memicu ketidakstabilan yang lebih besar.
Selain faktor geologi dan gempa, curah hujan tinggi menjadi pemicu utama longsoran. Air hujan yang meresap ke dalam batuan tufa membuat lapisan tanah menjadi jenuh dan kehilangan daya ikat, sehingga mudah runtuh—terutama pada lereng yang sudah curam akibat longsoran sebelumnya.
Air permukaan dari saluran irigasi perkebunan juga diduga memperparah kondisi. Aliran air yang terus meresap meningkatkan kelembaban tanah dan memperbesar risiko runtuhan.
“Jika saluran irigasi terbuka dan air terus masuk ke dalam tanah, maka lapisan yang sudah rapuh itu menjadi semakin tidak stabil,” tuturnya.
Dia juga menduga adanya aliran air tanah pada batas antara lapisan lahar yang lebih padat di bagian bawah dan batuan tufa yang rapuh di atasnya. Penggerusan di bagian kaki lereng ini menyebabkan lapisan atas kehilangan penyangga dan runtuh secara bertahap.
Adrin menegaskan bahwa fenomena lubang besar tersebut bukanlah kejadian mendadak, melainkan bagian dari proses geologi alami yang berlangsung sangat lama. Gempa bumi dan hujan lebat hanya mempercepat terbentuknya lembah atau ngarai tersebut.
Kondisi serupa juga dapat ditemukan di wilayah lain yang memiliki batuan gunung api muda. Salah satu contohnya adalah Ngarai Sianok di Sumatera Barat yang terbentuk melalui proses geologi panjang akibat aktivitas tektonik dan karakter batuan yang serupa.
Meski demikian, BRIN belum melakukan penelitian langsung di lokasi. Analisis sementara masih didasarkan pada data citra satelit dan informasi publik.
“Untuk memastikan penyebab secara detail diperlukan penelitian komprehensif di lapangan,” kata Adrin.
Penelitian lanjutan dapat dilakukan menggunakan metode geofisika seperti survei geolistrik, seismik refleksi, maupun microtremor guna mengetahui struktur bawah permukaan, potensi rekahan, serta faktor yang memicu longsor.
Adrin menekankan pentingnya langkah mitigasi segera, terutama pengendalian aliran air permukaan agar tidak meresap ke dalam tanah, penetapan zona rawan bahaya, serta pemasangan sistem peringatan dini longsor.
Dia juga mengingatkan masyarakat agar waspada terhadap tanda-tanda awal pergerakan tanah, seperti munculnya retakan atau amblesan kecil di permukaan.
Menurutnya, peta kerentanan gerakan tanah sebenarnya sudah tersedia, tetapi perlu diperbarui setelah kejadian ini agar lebih akurat.
“Yang terpenting sekarang adalah memahami prosesnya dan segera melakukan langkah mitigasi agar risiko korban jiwa dapat dihindari,” pungkasnya.
Lubang raksasa tersebut telah merusak sebagian jalan alternatif yang digunakan warga, bahkan menara listrik tegangan tinggi kembali harus dipindahkan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Material terinspirasi bintang laut merah dapat swapulih dengan cepat di dalam air
Indonesia
•
20 May 2025

Tim peneliti Australia kembangkan terapi tertarget untuk kanker darah langka
Indonesia
•
14 Jan 2026

Ilmuwan Australia kembangkan biosensor ‘microneedle’ untuk pantau kesegaran ikan secara waktu nyata
Indonesia
•
05 Dec 2025

Unit pertama dari proyek tenaga nuklir Zhangzhou di China memulai operasi komersial
Indonesia
•
02 Jan 2025


Berita Terbaru

19 patogen picu 9,7 juta infeksi dan 50.800 kematian per tahun di AS
Indonesia
•
28 Oct 2026

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026
