
Greenland pernah tanpa es, suhunya bisa terulang di abad ini

Ilustrasi. (Tina Rolf on Unsplash)
Lapisan es di Greenland ternyata pernah lenyap sepenuhnya di masa lalu—dan suhu saat itu tak jauh berbeda dari yang diprediksi akan terjadi pada akhir abad ini.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Lapisan es raksasa di Greenland ternyata pernah lenyap sepenuhnya di masa lalu—dan suhu saat itu tak jauh berbeda dari yang diprediksi akan terjadi pada akhir abad ini.Sebuah studi terbaru yang terbit pada 5 Januari 2026 di jurnal Nature mengungkapkan bahwa wilayah Kubah Prudhoe di Greenland utara mencair total sekitar 7.000 tahun lalu. Area es ini luasnya setara negara Luksemburg. Temuan itu diperoleh setelah para ilmuwan mengebor inti es dalam dan menemukan pasir yang memutih akibat paparan sinar matahari—tanda kuat bahwa kawasan tersebut pernah bebas es dalam periode pasca-glasial yang lebih hangat.Para peneliti memperkirakan suhu musim panas di wilayah itu saat itu 3 hingga 5 derajat Celsius lebih hangat dibanding sekarang. Angka ini mengkhawatirkan, karena kenaikan suhu serupa diproyeksikan bisa terjadi kembali pada tahun 2100 akibat perubahan iklim yang dipicu aktivitas manusia.Jika lapisan es Greenland mencair dalam skala besar, dampaknya tidak main-main. Permukaan laut global bisa naik beberapa puluh sentimeter, bahkan berpotensi mencapai satu meter dalam abad ini. Karena itu, para ilmuwan terus berupaya memahami seberapa cepat es di berbagai wilayah Greenland dapat menghilang.Penemuan dari Kubah Prudhoe juga menambah bukti langka bahwa bagian Greenland pernah bebas es ratusan ribu tahun lalu, dan bahwa seluruh lapisan esnya kemungkinan mencair terakhir kali sekitar 1,1 juta tahun yang lalu.Meski begitu, para peneliti menekankan bahwa kondisi pencairan saat ini berbeda dari masa lalu. Dulu, pemanasan dipicu oleh perubahan alami orbit Bumi, sementara sekarang didorong oleh aktivitas manusia. Namun, jejak masa lalu ini dinilai sangat penting untuk menyempurnakan model iklim, agar para ilmuwan bisa memprediksi dengan lebih akurat bagaimana lapisan es Greenland akan merespons pemanasan global di masa depan.Singkatnya, sejarah Bumi kembali memberi peringatan, bahwa apa yang pernah terjadi, bisa saja terulang—dan kali ini, dampaknya akan dirasakan seluruh dunia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Ilmuwan China temukan bakteri potensial pemicu radang usus besar
Indonesia
•
25 Nov 2025

Sistem operasi komputer kuantum buatan China, Origin Pilot, dapat diunduh publik
Indonesia
•
27 Feb 2026

Google laporkan terobosan dalam komputasi kuantum
Indonesia
•
28 Oct 2025

China capai terobosan baru dalam proyek pembangkit listrik tenaga surya antariksa
Indonesia
•
19 May 2026


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
