
Feature – Blokade Israel perparah krisis air selama Ramadhan di Gaza

Seorang warga Palestina mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari di antara puing-puing bangunan saat Ramadan di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara pada 5 Maret 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Krisis air di Gaza selama Ramadhan akibat blokade Israel menjadi perjuangan sehari-hari masyarakat di wilayah kantong tersebut.
Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window) – Setiap kali fajar menyingsing selama Ramadhan, bulan suci bagi umat Muslim, Emad al-Hadad akan berdiri di sebuah trotoar yang telah hancur di Gaza City dengan tatapan tertuju ke ujung jalan.Pria 43 tahun yang juga ayah dari tujuh anak itu tidak sedang menunggu kedatangan keluarga atau sahabat, namun sebuah kargo yang berharga, yakni truk tangki air yang akan melintas di jalanan rusak tersebut. Kedatangan truk itu tidak menentu seperti halnya aliran listrik di wilayah kantong yang terkepung tersebut."Mendapatkan air minum yang bersih menjadi perjuangan sehari-hari. Ini terutama terjadi karena kebutuhan air yang mendesak usai azan Magrib, saat warga berbuka puasa setelah berjam-jam tanpa (meminum) air," ujar al-Hadad kepada Xinhua. Suaranya terdengar letih.Krisis air di Gaza, yang sebelumnya telah parah lantaran blokade bertahun-tahun, kini kian memburuk akibat perang Oktober 2023. Saat pasokan jaringan listrik di Gaza terputus, pabrik-pabrik desalinasi berhenti beroperasi. Padahal pabrik-pabrik tersebut memproduksi air tawar layak konsumsi atau irigasi bagi lebih dari 2 juta warga Gaza.Setelah publik internasional menekan selama berbulan-bulan, Israel mengizinkan sedikit aliran listrik untuk disalurkan ke pabrik-pabrik desalinasi di Gaza tengah dan selatan. Namun, kelonggaran blokade itu hanya berlangsung singkat. Pemadaman listrik baru-baru ini telah menyeret wilayah kantong itu kembali ke dalam keadaan darurat yang kian parah, dengan meningkatnya permintaan selama Ramadhan yang dibarengi kelangkaan yang mencekik.
Warga Palestina mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari di antara puing-puing bangunan saat Ramadan di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara pada 5 Maret 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Seorang warga Palestina mengambil air di Kota Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah pada 13 November 2024. (Xinhua/Marwan Dawood)
Warga terlihat mengambil air di Kota Deir al-Balah di Jalur Gaza tengah pada 26 September 2024. (Xinhua/Marwan Dawood)
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Warga Palestina yang tewas di Gaza tembus 14.000 orang
Indonesia
•
22 Nov 2023

Mathla’ul Anwar harap presiden buka muktamar ke-20
Indonesia
•
04 Mar 2021

Palestina tuding Israel kobarkan "perang komprehensif" di Tepi Barat
Indonesia
•
20 Feb 2025

Masyarakat Okinawa di Jepang tolak relokasi pangkalan militer AS
Indonesia
•
13 Sep 2022


Berita Terbaru

Larangan medsos untuk anak di Australia sukses, pengguna turun 10 persen
Indonesia
•
31 Jul 2026

Kisah – Dua puluh tahun kemudian, akhirnya masuk Universitas Islam Madinah
Indonesia
•
01 Aug 2026

FIFA selidiki dugaan pelanggaran Argentina di Piala Dunia 2026, apa saja tuduhannya?
Indonesia
•
31 Jul 2026

UNESCO tambah 25 Warisan Dunia baru, tiga situs terdampak konflik ditetapkan lewat prosedur darurat
Indonesia
•
29 Jul 2026
