
Dari kelenteng hingga kuliner, generasi muda menelusuri jejak budaya Tionghoa di Indonesia

Jakarta (Xinhua/Indonesia Window) – Babak final kontes ‘Menjelajahi Indonesia melalui Bahasa Mandarin: Lomba Pemandu Budaya Tionghoa Lokal dalam Bahasa Mandarin’ perdana digelar pada Jumat (11/9) dan Sabtu (12/9) di Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dengan 64 finalis dari berbagai daerah di Indonesia bersaing memperebutkan penghargaan.
Lomba tersebut dimulai pada Mei dan menerima 197 video dari seluruh Indonesia. Setelah melalui penilaian babak penyisihan, 34 siswa sekolah dasar dan menengah maju ke babak final secara langsung, sementara 30 mahasiswa dari program studi terkait bahasa Mandarin mengikuti final secara daring.
Para peserta dari kategori sekolah dasar dan menengah menyampaikan pidato dalam bahasa Mandarin dengan tema ‘Budaya Tionghoa di Mata Saya’, sementara peserta kategori mahasiswa berkompetisi melalui presentasi video dan pemungutan suara secara daring.
Berangkat dari kehidupan dan pengamatan mereka sendiri, para peserta memperkenalkan beragam aspek budaya Tionghoa-Indonesia lokal, mulai dari kuliner, arsitektur, festival, adat istiadat hingga kepercayaan.
Bagi Irovi dari Selat Panjang, Provinsi Riau, lomba ini memberikan kesempatan bagi generasi muda Tionghoa-Indonesia untuk lebih memahami dan meneruskan warisan budaya mereka. Dalam presentasinya, dia memperkenalkan tradisi khas Tahun Baru Imlek di kampung halamannya, yakni arak-arakan dewa.
"Budaya dapat terus hidup dalam kehidupan kita sehari-hari," ujarnya.
Zheng Xujun, siswa kelas 11 Xin Zhong School di Surabaya, mengatakan bahwa dirinya mengikuti lomba tersebut agar lebih banyak orang mengenal budaya Tionghoa-Indonesia.
Dalam proses mempersiapkan lomba, dia akhirnya memilih untuk mengangkat tema sekolah Tionghoa, yang menurutnya merupakan salah satu wadah penting untuk mengajarkan budaya dan tradisi Tionghoa di Indonesia.
Teman sekolahnya, Eileen Wiratama, yang leluhurnya berasal dari China selatan, mengatakan bahwa dirinya mengikuti lomba tersebut untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai akar budaya keluarganya.
Dalam video babak penyisihan, Wiratama memperkenalkan Kelenteng Konghucu di Surabaya, yang menurutnya merupakan bagian khas dari budaya Tionghoa setempat.
Pada babak final, dia mengangkat tema kuliner dengan memperkenalkan dua jenis kue tradisional yang biasa digunakan oleh masyarakat Tionghoa-Indonesia dalam persembahan ritual, yakni kue mangkok dan wajik yang terbuat dari beras ketan dan gula aren.
Menurut Wiratama, proses mempersiapkan lomba membantunya memahami budaya leluhurnya dengan lebih baik sekaligus menumbuhkan rasa syukur yang lebih mendalam terhadap warisan tersebut.
Ashley Renata, siswa kelas 11 lainnya dari Xin Zhong School, mengatakan bahwa lomba tersebut memberinya kesempatan untuk mempelajari lebih banyak tentang budaya Tionghoa-Indonesia, mengenal teman-teman baru, serta menguji kemampuan bahasa Mandarinnya.
Pada babak penyisihan, sejumlah peserta juga mengangkat kisah tentang Zheng He, masjid-masjid Zheng He, serta sejarah pertukaran antara China dan Indonesia.
Konsul Jenderal China di Surabaya, Ye Su, menggambarkan kontes tersebut sebagai pengalaman pembelajaran bahasa Mandarin yang bersifat praktis sekaligus inisiatif kebudayaan yang memiliki signifikansi jangka panjang.
Dia berharap para peserta dapat menemukan budaya China di tengah komunitas mereka melalui sudut pandang masing-masing serta menjadi peserta aktif dan duta persahabatan sipil China-Indonesia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 210.000 orang di Iran berobat akibat polusi udara dalam 10 hari
Indonesia
•
04 Dec 2025

Fokus Berita – WHO sebut situasi kemanusiaan dan kesehatan di Gaza "sangat buruk"
Indonesia
•
10 Jan 2024

Tanmiah Food Company tanam satu juta pohon di Arab Saudi pada 2025
Indonesia
•
12 Nov 2021

Al-Sudais diangkat sebagai kepala urusan agama di dua masjid suci
Indonesia
•
09 Aug 2023


Berita Terbaru

Kekerasan terhadap anak di Australia meningkat, ini temuan studi terbaru
Indonesia
•
15 Oct 2026

Minum kopi khop serentak dengan lebih dari 2.000 peserta cetak rekor MURI di HUT ke-438 Kota Meulaboh
Indonesia
•
13 Oct 2026

Feature – 50 juta eksemplar per tahun pada era kejayaan, komik Hong Kong kini mencari jalan bangkit
Indonesia
•
13 Oct 2026

Fokus Berita – Gempa 7,7 guncang Panama, lebih dari 40 gempa susulan picu kepanikan
Indonesia
•
11 Oct 2026
