
China desak G7 stop terlibat dalam koersi ekonomi

Foto yang diabadikan pada 6 Januari 2023 ini menunjukkan gedung Capitol Amerika Serikat (AS) di Washington DC, AS. (Xinhua/Liu Jie)
Koersi ekonomi Amerika Serikat terhadap sejumlah negara, termasuk sekutunya, dilakukan dengan memanfaatkan konsep keamanan nasional, menyalahgunakan kontrol ekspor, dan melakukan praktik diskriminatif dan bias terhadap sejumlah perusahaan asing, yang sangat melanggar prinsip ekonomi pasar dan persaingan yang adil.
Beijing, China (Xinhua) – Seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China pada Jumat (12/5) mengatakan bahwa China merupakan korban dari koersi ekonomi Amerika Serikat (AS), dan mendesak negara-negara Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7) untuk berhenti terlibat dalam "lingkaran kecil" eksklusif dan menahan diri untuk tidak menjadi kaki tangan koersi ekonomi.Pernyataan tersebut dilontarkan Juru Bicara Wang Wenbin dalam jumpa pers harian sebagai respons atas laporan media baru-baru ini yang mengatakan bahwa para anggota G7 diduga akan mengeluarkan respons gabungan terhadap "koersi ekonomi" untuk memberikan sinyal ke China.Berbicara tentang koersi ekonomi, Wang mengatakan bahwa negara pertama yang seharusnya dikecam mungkin adalah AS. Dia mengungkapkan bahwa AS berkali-kali memanfaatkan konsep keamanan nasional, menyalahgunakan kontrol ekspor, dan melakukan praktik diskriminatif dan bias terhadap sejumlah perusahaan asing, yang sangat melanggar prinsip ekonomi pasar dan persaingan yang adil.Mengutip statistik yang relevan mengenai sanksi ilegal AS terhadap sejumlah negara, Wang mengungkapkan bahwa pada tahun fiskal 2021, lebih dari 9.400 sanksi yang dijatuhkan oleh AS telah diterapkan. AS memberlakukan sanksi ekonomi sepihak pada hampir 40 negara di seluruh dunia, yang mempengaruhi hampir setengah dari populasi dunia, tambahnya.Beberapa anggota G7 lainnya juga merasa sulit melepaskan diri dari koersi ekonomi dan intimidasi AS, kata Wang, mengutip penindasan yang dilakukan AS terhadap Toshiba dari Jepang, Siemens dari Jerman, dan Alstom dari Prancis, yang semuanya merupakan sekutu AS."Jika KTT G7 memasukkan topik 'berurusan dengan koersi ekonomi' ke dalam agendanya, saya menyarankan agar mereka terlebih dahulu membahas apa yang telah dilakukan AS," kata Wang. "Ketika pihak Jepang menjadi tuan rumah KTT G7, akankah mereka juga menyampaikan isu ketidakadilan kepada AS atas nama negara anggota lainnya yang juga menjadi korban intimidasi AS? Atau setidak-tidaknya mengungkapkan beberapa patah kata kebenaran?"Menyebutkan bahwa China selalu dengan tegas menentang koersi ekonomi oleh negara lain, Wang mengatakan China mendesak G7 untuk menyesuaikan diri dengan tren umum zaman keterbukaan dan inklusivitas, berhenti terlibat dalam "lingkaran kecil" yang tertutup dan eksklusif, serta menahan diri untuk tidak menjadi kaki tangan koersi ekonomi.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Arab Saudi tangguhkan perjalanan ke tiga negara Afrika, cegah penyebaran Ebola
Indonesia
•
26 Jun 2026

Fokus Berita – Majelis Umum PBB adopsi resolusi yang menuntut gencatan senjata segera di Gaza
Indonesia
•
16 Jun 2025

Mohamed bin Zayed terpilih sebagai Presiden UEA
Indonesia
•
14 May 2022

Mantan ketua DPR AS Pelosi dukung Harris sebagai capres dari Partai Demokrat
Indonesia
•
24 Jul 2024


Berita Terbaru

Krisis Afrika Timur memburuk, 40,5 juta orang kini terancam kelaparan
Indonesia
•
16 Jul 2026

Serangan AS ke Iran tewaskan 35 orang, ratusan lainnya terluka
Indonesia
•
16 Jul 2026

Balas serangan AS, Iran hantam pangkalan AS di Bahrain dan Kuwait
Indonesia
•
15 Jul 2026

AS dan Iran kembali saling serang setelah blokade Hormuz diberlakukan lagi
Indonesia
•
15 Jul 2026
