
Australia setujui vaksin pertama di dunia untuk selamatkan koala dari klamidia

Seekor bayi koala tidur di sebatang pohon di Taman Margasatwa Featherdale Sydney di Sydney, Australia, pada 4 Oktober 2024. (Xinhua/Ma Ping)
Klamidia pada koala menyebar melalui pembiakan, yang menyebabkan infeksi saluran kemih, kemandulan, kebutaan, dan bahkan kematian, dengan tingkat infeksi mencapai hingga 70 persen dalam beberapa kasus.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Australia menyetujui vaksin pertama di dunia untuk melindungi koala yang terancam punah dari klamidia, penyakit yang menyebabkan krisis pada populasi marsupial ikonik tersebut di alam liar.Dikembangkan selama lebih dari 10 tahun oleh University of Sunshine Coast (UniSC) di Australia, persetujuan vaksin oleh Otoritas Pestisida dan Obat Hewan (Pesticides and Veterinary Medicines Authority) Australia menandai langkah besar untuk melindungi koala yang terancam punah dari infeksi dan kematian akibat klamidia, menurut pernyataan UniSC yang dirilis pada Rabu (10/9).Penyakit yang menyebar melalui pembiakan tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, kemandulan, kebutaan, dan bahkan kematian, dengan tingkat infeksi mencapai hingga 70 persen dalam beberapa kasus, menurut pernyataan itu.Sebuah studi yang dipimpin UniSC menemukan bahwa vaksin tersebut mengurangi kemungkinan koala mengalami gejala klamidia selama usia berkembang biak dan menurunkan angka kematian akibat penyakit itu pada populasi koala di alam liar sebesar setidaknya 65 persen.Vaksin dosis tunggal tersebut telah mendapat izin dari regulator obat-obatan hewan untuk digunakan di rumah sakit satwa liar, klinik dokter hewan, dan di lapangan, tutur Profesor Mikrobiologi UniSC Peter Timms."Kami tahu bahwa vaksin dosis tunggal, yang tidak memerlukan suntikan penguat, adalah jawaban untuk mengurangi penyebaran penyakit yang cepat dan destruktif ini, yang menyebabkan separuh dari total kematian koala di seluruh populasi di alam liar di Australia," ujarnya.Hingga saat ini, antibiotik merupakan satu-satunya pengobatan yang tersedia untuk koala yang terinfeksi klamidia, tetapi antibiotik dapat mengganggu kemampuan koala untuk mencerna daun eukaliptus, satu-satunya sumber makanannya, yang menyebabkan kelaparan dan, dalam beberapa kasus, kematian. Antibiotik juga sering kali gagal mencegah infeksi di kemudian hari.Data klinis dari periode sepuluh tahun, yang dikumpulkan melalui berbagai uji coba vaksinasi, mengonfirmasi keamanan dan efektivitas vaksin tersebut, menurut pernyataan itu.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian: Gempa Noto di Jepang picu lebih banyak likuefaksi ketimbang gempa besar 1995
Indonesia
•
11 Mar 2024

Studi ungkap olahraga kemungkinan beri manfaat perlindungan jantung lebih tinggi bagi wanita
Indonesia
•
06 Nov 2025

Studi: Sel kanker dapat merusak DNA sendiri saat tumbuh, berpotensi jadi target terapi
Indonesia
•
22 Jan 2026

Peneliti Australia jelajahi Antarktika untuk pahami perubahan iklim
Indonesia
•
06 Jan 2024


Berita Terbaru

Antibiotik kian tak mempan untuk anak, proyeksi ancaman hingga 2035
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026

Studi ungkap tanaman 'tahu' kapan harus tumbuh, temuan ini bisa tingkatkan hasil panen
Indonesia
•
28 Jul 2026

Ilmuwan temukan cara baru bakteri cepat kebal terhadap antibiotik, buka peluang pengobatan lebih efektif
Indonesia
•
28 Jul 2026
