Kisah – ‘Hajjah fulanah’ pulang diam-diam dari Arab Saudi

Foto bertanggal 23 Januari 2017 ini menunjukkan sebuah daerah di perbatasan antara Jeddah dan Makkah. (Indonesia Window/Daday Hidayat)

Riyadh – Jeddah, 2014

Saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar pada era 1990-an, ada seorang kerabat jauh dari jalur buyut yang sudah lama bekerja di Arab Saudi sebagai pekerja migran. Rumahnya berada di kampung sebelah.

Di mata masyarakat, beliau dikenal sebagai sosok yang baik. Setiap kali pulang kampung, beliau selalu membawa oleh-oleh dari Arab dan senang berbagi kepada tetangga.

Orang-orang lebih sering memanggilnya "Bu Hajjah" daripada menyebut namanya. Di lingkungan masyarakat kami saat itu, gelar haji bukan sekadar penanda pernah menunaikan ibadah haji, tetapi juga menjadi simbol penghormatan.

Bertahun-tahun kemudian, pada tahun 2014, Allah (ﷻ) menakdirkan saya bekerja di Arab Saudi melalui jalan yang berbeda. Saya bekerja di salah satu kantor dakwah di Kota Riyadh.

Awalnya saya tidak teringat kepada kerabat tersebut. Hingga suatu hari, ketika berbincang dengan orang tua di kampung, ibu menyebut namanya dan berkata bahwa kami sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan. Beliau menyarankan agar saya mencoba menjalin kembali silaturahim.

Saya pun mencari nomor teleponnya melalui keluarganya di Tanah Air. Setelah berhasil mendapatkannya, saya menghubunginya dan memperkenalkan diri.

Sambutannya sangat hangat.

Seolah kami adalah keluarga yang telah lama terpisah, lalu Allah (ﷻ) mempertemukan kembali di negeri yang sama.

Beliau bahkan mengundang saya untuk datang ke Jeddah.

Saat itu saya belum pernah keluar dari Riyadh. Dengan penuh semangat saya menaiki bus umum menuju Jeddah. Perjalanan hampir sebelas jam, menempuh jarak sekitar sembilan ratus kilometer.

Bagi saya, perjalanan itu bukan sekadar wisata.

Saya ingin menyambung silaturahim, karena saya meyakini besarnya keutamaan yang Allah (ﷻ) janjikan bagi orang yang menjaga hubungan kekeluargaan.

Sesampainya di rumah beliau, saya disambut dengan ramah.

Kami banyak mengenang kampung halaman, keluarga, dan cerita masa kecil yang pernah saya dengar dari orang tua.

Di sela-sela perbincangan kami ada satu hal yang menarik perhatian saya.

Di rumah itu tinggal beberapa perempuan Indonesia. Di antara mereka ada yang telah memiliki anak kecil.

Saya bertanya dengan polos, "Bu Haji, mereka semua tinggal di sini?"

Beliau menjawab bahwa mereka menyewa tempat di rumah tersebut. Sebagian bekerja sebagai pekerja harian di rumah-rumah warga Arab.

Saya mengangguk-angguk pelan. Dalam benak saya, mungkin mereka sedang menghadapi kesulitan hidup sehingga harus saling membantu.

Di antara mereka ada seorang anak kecil yang wajahnya lebih menyerupai orang Asia Selatan daripada orang Indonesia.

Saya sempat bertanya tentang keluarganya, lalu beliau menjelaskan bahwa ibunya telah menikah dengan seorang laki-laki asal Pakistan.

Saya tidak bertanya lebih jauh.

Saya merasa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang tidak selalu mudah untuk diceritakan kepada orang lain.

Setelah beberapa jam berbincang, saya pun berpamitan.

Perjalanan saya lanjutkan menuju Makkah untuk melaksanakan umrah pertama dalam hidup saya.

Saya berangkat sendirian.

Bekal saya hanyalah ilmu yang pernah saya pelajari semasa kuliah di LIPIA, ditambah berbagai kajian para ulama yang pernah saya ikuti.

Beberapa bulan kemudian, beliau menghubungi saya.

Dengan nada yang sama hangatnya seperti saat pertama kami bertemu, beliau mengatakan sedang membutuhkan bantuan dana sekitar dua ribu riyal untuk biaya pindah kontrakan. Beliau berjanji akan mengembalikannya pada bulan berikutnya.

Saat itu saya masih sangat muda. Pengalaman saya tentang urusan utang-piutang hampir tidak ada.

Saya hanya melihat beliau sebagai sosok yang telah bertahun-tahun berjuang mencari nafkah demi keluarganya di Indonesia.

Saya membayangkan betapa berat kehidupan seorang perempuan yang harus hidup jauh dari keluarga demi membantu orang tua dan saudara-saudaranya.

Saya pun memutuskan membantu.

Karena beliau tidak memiliki rekening bank, uang tersebut saya kirim melalui Western Union.

Sebulan berlalu.

Saya mencoba menghubunginya kembali.

Nomornya sudah tidak aktif.

Saya mengirim pesan.

Tidak ada balasan.

Beberapa hari saya menunggu.

Tetap tidak ada kabar.

Saya mulai mencari informasi melalui beberapa komunitas pekerja migran Indonesia di Facebook.

Dari sana saya mengetahui bahwa di wilayah tempat beliau tinggal pernah dilakukan operasi terhadap sejumlah pekerja migran yang bermasalah secara keimigrasian. Sebagian di antaranya memilih menyerahkan diri kepada aparat dan kemudian dipulangkan ke Indonesia melalui proses deportasi.

Informasi itu membuat saya banyak berpikir.

Apakah beliau termasuk di dalamnya?

Saya tidak tahu.

Saya juga tidak memiliki bukti apa pun.

Yang saya miliki hanyalah potongan-potongan informasi yang tidak pernah dapat saya rangkai menjadi sebuah kepastian.

Di situlah saya belajar bahwa prasangka sangat mudah tumbuh ketika informasi tidak lengkap.

Saya berusaha menahan diri untuk tidak menyimpulkan sesuatu yang tidak saya ketahui.

Allah-lah Yang Maha Mengetahui keadaan sebenarnya.

Sekitar satu bulan kemudian, saya memperoleh petunjuk terakhir.

Ada informasi bahwa sebagian pekerja migran yang bermasalah telah dipulangkan ke Indonesia.

Saya segera menghubungi ibu di kampung.

Saya meminta beliau mendatangi rumah kerabat kami itu.

Jika memang beliau sudah pulang, saya hanya ingin memastikan keadaannya sekaligus mengingatkan mengenai pinjaman yang pernah saya berikan.

Beberapa hari kemudian ibu mengabarkan bahwa beliau memang sudah berada di rumah.

Yang menarik, kepulangannya kali itu hampir tidak diketahui warga kampung.

Berbeda dengan kepulangan-pulangannya sebelumnya yang selalu ramai karena membawa oleh-oleh dan berkumpul bersama tetangga.

Ketika ibu menyampaikan pesan saya mengenai pinjaman tersebut, beliau mengatakan bahwa saat itu belum memiliki uang untuk mengembalikannya.

Saya tidak mengetahui apa yang sebenarnya beliau alami.

Dan hingga hari ini, saya pun tidak pernah memperoleh penjelasan lengkap mengenai perjalanan hidupnya di Arab Saudi.

Beberapa waktu setelah itu, saya mendengar bahwa beliau pulang bersama seorang anak laki-laki yang wajahnya lebih menyerupai orang Arab atau Asia Selatan daripada anak-anak di kampung kami.

Saya tidak pernah mengetahui siapa anak tersebut. Saya juga tidak pernah merasa berhak untuk bertanya lebih jauh.

Semakin dewasa, semakin saya menyadari bahwa setiap manusia memiliki bagian kehidupan yang Allah (ﷻ) tutup dari pandangan orang lain.

Tidak semua kisah harus kita ketahui, dan tidak semua pertanyaan harus kita jawab dengan dugaan.

Pengalaman ini meninggalkan banyak pelajaran bagi saya.

Saya belajar bahwa kehidupan seorang pekerja migran sering kali jauh lebih berat daripada yang terlihat dari luar. Di balik oleh-oleh yang dibawa pulang, mungkin ada kesepian, tekanan hidup, atau ujian yang tidak pernah diketahui orang lain.

Saya juga belajar bahwa niat baik perlu disertai kebijaksanaan. Membantu sesama adalah amal yang mulia, tetapi seorang Muslim tetap dituntut untuk berhati-hati dan bijaksana dalam mengambil keputusan.

Yang paling penting, saya belajar agar tidak mudah menghakimi kehidupan seseorang hanya berdasarkan sepotong informasi.

Kita mungkin melihat hasil akhirnya, tetapi tidak mengetahui seluruh perjalanan yang telah dia lalui.

Pada akhirnya, setiap manusia memiliki ujian masing-masing. Yang membedakan bukanlah siapa yang paling sedikit ujiannya, melainkan siapa yang paling banyak memohon pertolongan kepada Allah (ﷻ) ketika ujian itu datang.

Semoga Allah (ﷻ) menjaga iman, kehormatan, dan akhir kehidupan kita semua.

Penulis: Daday Hidayat Lc.

Bagikan

Komentar

Berita Terkait