
Wawancara kualitatif tentang buku ‘Aplikasi Model Manajemen Strategis dalam Pemerintahan Studi Kasus dari Madinah hingga Ustmaniyyah’

Penulis buku ‘Aplikasi Model Manajemen Strategis dalam Pemerintahan’ , Muhammad Karebet Widjajakusuma (kiri), dan wartawan senior, Bambang Purwanto (kanan), dalam sebuah pertemuan di Bogor, Jawa Barat, pada 3 Maret 2026. (Indonesia Window)
Kepepimpinan Muhammad Rasulullah SAW (ﷺ) adalah sangat ideal karena beliau adalah utusan Allah ﷻ dengan visi sepanjang masa untuk mencapai cita-cita yang sangat agung rahmatan lil alamin tidak saja bagi bagi manusia tapi juga bagi mahluk lain di seluruh alam semesta.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) - Tulisan tentang buku Aplikasi Model Manajemen Strategis dalam Pemerintahan Studi Kasus dari Madinah hingga Ustmaniyyah ini merupakan hasil wawancara khusus tertulis antara wartawan senior Bambang Purwanto dan penulisnya, Ir. Muhammad Karebet Widjajakusuma, MA, baru-baru ini.
Berikut disampaikan wawancara tertulis tersebut:
I. Profil Kepemimpinan Muhammad Rasulullah SAW
1. Pernyataan Idealized Influence: Menurut Bass, Idealized Influence (Pengaruh Ideal) yaitu Pemimpin memiliki tingkah laku yang membuat para pengikutnya mengagumi, menghormati serta mempercayainya
Sementara, Muhammad Rasulullah SAW mempunyai sifat utama Siddiq yang menempatkan Beliau SAW sebagai Uswah Hasanah, role model sejati. Hal ini telah memupuk kepercayaan mutlak pengikut, di mana rasa kagum, hormat dan kepercayaan mereka melampaui model kepemimpinan formal yang ada.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Muhammad Rasulullah SAW memenuhi dimensi Pengaruh Ideal (Idealized Influence) bahkan melampauinya.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Kepepimpinan Muhammad Rasulullah SAW (ﷺ) adalah sangat ideal karena beliau adalah utusan Allah ﷻ
dengan visi sepanjang masa untuk mencapai cita-cita yang sangat agung rahmatan lil alamin tidak saja bagi bagi manusia tapi juga bagi mahluk lain di seluruh alam semesta.
2. Pernyataan Inspirational Motivation: Menurut Bass, Inspirational Motivation (Motivasi Inspirasi) yaitu Pemimpin mampu mengartikulasikan harapan yang jelas terhadap kinerja pengikut, menunjukkan komitmen terhadap keseluruhan tujuan organisasi, serta mampu membangkitkan semangat pengikut melalui penumbuhan antusiasme dan optimisme
Sementara, Muhammad Rasulullah SAW memiliki sifat utama Tabligh sehingga mampu menyampaikan visi Islam Rahmatan lil ‘Alamin menjadi impian besar (big dream) bersama. Dengan penyampaian harapan yang jelas, komitmen yang kokoh, serta semangat dan optimisme yang tinggi, Baginda berhasil menggerakkan para pengikut untuk merealisasikan visi dan terobosan (breakthrough) yang sebelumnya dianggap mustahil (Achieving the Impossible).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Muhammad Rasulullah SAW memenuhi dimensi Motivasi Inspiratif (Inspirational Motivation) bahkan melampauinya.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Nabi Muhammad ﷺ memotivasi pengikutnya dengan penuh kesabaran dan ketangguhan dalam memberi pemahaman tentang tuhan dan ketuhanan yang karenanya seluruh hidup dan kehidupan ada di tanganNya. Beliau ﷺ, di depan memberi contoh bagaimana berperilaku dan bertutur kata penuh kesantunan, kelembutan dan keramahtamahan (hospitality). Rasulullah juga mampu menggerakan pengikutnya sehingga mampu menjadi magnit bagi siapapun untuk mendekat, mendengar dan mengimplementasikan apa yang disampaikan oleh Baginda ﷺ.
3. Pernyataan Intellectual Stimulation: Menurut Bass, Intellectual Stimulation (Stimulasi Intelektual) yaitu Pemimpin mampu menumbuhkan ide-ide baru, memberikan solusi kreatif terhadap masalah yang dihadapi pengikut, serta mendorong mereka untuk mencari pendekatan baru dalam melaksanakan tugas-tugas organisasi.
Sementara itu, Muhammad Rasulullah SAW memiliki sifat utama Fathanah yang berlandaskan akidah yang kokoh serta ketaatan kepada syariat, memberikan keyakinan bahwa Islam adalah Rahmatan lil ‘Alamin—agama yang hadir untuk menyelesaikan segala persoalan kehidupan. Melalui landasan ini, Beliau SAW mendorong para sahabat untuk melakukan pemecahan masalah (problem solving) secara ijtihad, serta membuat keputusan yang berorientasikan dunia dan akhirat, melampaui batas kreativitas dan inovasi biasa.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Muhammad Rasulullah SAW memenuhi dimensi Stimulasi Intelektual (Intellectual Stimulation) bahkan melampauinya.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Nabi Muhammad ﷺ telah memenuhi dimensi stimulasi intelektual dengan kemampuanya mengajak masyarakat pada zamannya untuk beriman hanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala sejak di Mekah hingga Madinah. Terlebih lagi, Beliau ﷺ mampu menyatukan masyarakat bahkan dari golongan non-Muslim yang bersepakat untuk membuat negara Madinah yang terikat dalam Piagam Madinah.
4. Pernyataan Individualized Consideration: Menurut Bass, Individualized Consideration(Pertimbangan Individu) yaitu Pemimpin bersedia mendengar dengan penuh perhatian masukan dari pengikut dan secara khusus memberikan perhatian terhadap kebutuhan mereka dalam pengembangan karier
Sementara itu, Muhammad Rasulullah SAW memiliki sifat utama Amanah yang ditunjukkan melalui empati, perhatian terhadap potensi individu, penilaian (assessment) yang tepat terhadap keadaan seseorang, serta mekanisme syura (musyawarah). Hal ini merupakan bentuk kepedulian terhadap individu yang memberdayakan pengikut secara maksimal. Sifat ini sejatinya telah menjadi rekam jejak (track record) Beliau SAW bahkan sebelum diutus menjadi Nabi.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa Muhammad Rasulullah SAW memenuhi dimensi Pertimbangan Individu (Individualized Consideration) bahkan melampauinya.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Nabi Muhammad ﷺ senantiasa bermusyawarah dan memperhatikan serta menerima usulan sahabat untuk mengambil keputusan. Contohnya adalah usulan Al-Hubab bin Mundzir r.a. agar pasukan Muslimin mengambil posisi di sumber air terdekat dengan musuh, lalu menutup sumber air lainnya. Hal ini bertujuan untuk menguasai sumber air agar pasukan Muslimin dapat minum, sementara pasukan kafir Quraisy tidak mendapatkan air.
II. Dekolonisasi Konsep & Perbandingan Model
1. Pernyataan Dekolonisasi Konsep: Hakikatnya, Model Kepemimpinan Transformasional dari Bass memiliki paradigma yaitu (1) berbasis pada worldview kapitalisme sekulerisme, (2) memiliki akar teori berasal dari tradisi pemikiran barat (individualism, pragmatism), dan (3) menghasilkan profil pemimpin pseudo-transformasional (transformasional yang semu)
Sementara, model kepemimpinan transformasional warisan Muhammad Rasulullah SAW berhasil melakukan dekolonisasi terhadap konsep kepemimpinan transformasional Barat dengan membebaskannya dari dominasi worldview Barat yang sekuler-materialistik menuju worldviewIslam, yaitu melalui integrasi dimensi spiritual dan ukhrawi (menyeluruh dan tidak sekuler). Akar teorinya menyatukan nilai lokal yang selaras dengan akidah dan syariat, spiritualitas, serta kolektivisme. Hal ini melahirkan pemimpin transformasional sejati yang relevan bagi masyarakat majemuk (pluralistic) serta mampu menyelesaikan krisis multidimensi yang terjadi pada era masyarakat Jahiliyah sebelum Beliau SAW diutus menjadi Nabi.
Skala (1-5): 5
Alasan: Kepemimpinan Muhammad ﷺ adalah kepemimpinan dengan worldview Islam yang membedakan dengan worldview barat yang hanya mementingkan kepentingan individu dan hanya berfokus pada kepentingan dunia. Sementara Nabi Muhammad ﷺ memiliki kepemimpinan transformasional yang senantiasa memperhatikan kepentingan umat atas dasar worldview Islam yang tidak saja memberi maslahat kepada umat tetapi seluruh ciptaan Allah ﷻ . Beliau ﷺ juga mengarahkan mereka kepada kehidupan yang bahagia di akhirat dengan konsep Islam untuk mewujudkan cita-cita yang rahmatan lil ‘alamin.
2. Pernyataan Transformasi Model menjadi Budaya: Pada praktiknya model kepemimpinan transformasional yang dibangun Bass terhenti sebatas model individu saja, karena terjebak dalam kepemimpinan transformasional yang semu (palsu), bersifat transaksional, serta mementingkan keuntungan material jangka pendek.
Sementara itu, di tangan Rasulullah SAW, kepemimpinan transformasional tidak berhenti sebagai model individu, melainkan meresap menjadi budaya organisasi yang terintegrasi dalam struktur pemerintahan, nilai, dan hukum yang berkelanjutan selama berbilang generasi selama 14 abad.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Betul, kepemimpinan Muhammad ﷺ adalah kepemimpinan transformasional versus kepemimpinan transaksional. Baliau mampu meyakinkan umat dengan pendekatan worldview Islam (kaidah yang diturunkan oleh Allah ﷻ,) dan menjadi nilai-nilai bersama serta berakar kuat dalam masyarakat madani yang menjadi budaya Islam yang mampu bertahan selama 14 abad.
3. Pernyataan Legacy yang Manusiawi: Pada praktiknya, tidak ada seorang pun pemimpin Barat yang menerapkan model Kepemimpinan Transformasional karena mereka menggunakan worldviewKapitalisme Sekulerisme. Terjebak dalam kepemimpinan transformasional yang semu (palsu), bersifat transaksional, serta mementingkan keuntungan material jangka pendek. Tidak ada warisan (legacy) karena ia terhenti pada tahap individu saja. Jikapun ada, ia merupakan warisan yang tidak layak (untuk dicontoh). Malah, penggunaan worldview ini sepanjang 79 tahun (1947–2026) telah mencetuskan fenomena VUCA dan BANI yang menggambarkan masalah yang kompleks (complex problem).
Sementara, keteladanan kepemimpinan transformasional Muhammad Rasulullah SAW terbukti merupakan sebuah warisan (legacy) yang manusiawi, sistematik, dan praktikal sehingga dapat diduplikasi secara ilmiah oleh pemimpin masa kini. Ini dibuktikan ketika model kepemimpinan transformasional Beliau SAW diteruskan oleh para khalifah setelahnya, mulai dari zaman Khilafah Rasyidin hingga Utsmaniyyah. Fakta sejarah ini juga dapat dikonstruksi ulang (reconstructed) dengan menggunakan pendekatan ilmiah model manajemen strategis.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Nabi Muhammad ﷺ mewariskan kepemimpinan yang sempurna dengan sifat Beliau yang Shiddiq, Amanah, Tabligh dan Fathonah sehingga menjadi role model bagi umatnya dan menjadi warisan (legacy) yang dapat diimplementasikan oleh para sahabatnya hingga era Kesultanan Ustmaniyyah secara konsisten (istiqamah). Model kepemimpinan transformasional Rasulullah ﷺmenjamin kesejahteraan yang adil dan merata ke seluruh umat, mengarahkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Hal tersebut jauh dari kepemimpinan transaksional yang hanya mengejar keuntungan materi semata, kerangka kerja VUCA dan BANI seperti yang saat ini sedang terjadi.
4. Pernyataan Worldview sebagai Core Competence Negara dan Peradaban: Hakikatnya, penggunaan worldview Kapitalisme Sekulerisme sepanjang 79 tahun (1947–2026) telah mencetuskan fenomena VUCA dan BANI yang menggambarkan masalah yang kompleks (complex problem). Ini membuktikan bahwa worldview Kapitalisme Sekulerisme yang digunakan dalam model Kepemimpinan Transformasional masa kini tidak menjadi kompetensi inti (core competence) bagi sebuah negara dan peradaban, sebaliknya menjadi kelemahan inti (core weakness) atau kelemahan utama.
Sementara, dengan menggunakan model manajemen strategis, khususnya perangkat analisis SWOT, didapatkan bahwa Islamic Worldview (Akidah dan Syariat) merupakan core competence(kompetensi inti) utama yang melahirkan keunggulan strategis bagi sebuah negara dalam kompetisi peradaban global.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Memang worldview kapitalisme-sekulerisme hingga kini terbukti hanya menciptakan VUCA dan BANI. Suatu organisasi memang seharusnya melalukan analisis SWOT sebelum mengambil kesimpulan untuk menjalankan organisasi dalam upaya melihat sejauh mana organisasi tersebut memiliki kekuatan, di mana kelemahannya, kesempatan apa yang bisa diambil dan bagaimana mengantisipasi serta menghadapi tantangan dengan langkah-langkah strategis oleh anggota tim dengan menggabungkan keahlian, kemampuan dan pembelajaran secara kolektif.
III. Kelestarian Budaya Kepemimpinan
1. Pernyataan Pembinaan dan Kaderisasi Sistematik (Tasqif) Menjadi Faktor Pertama Kelestarian Budaya Kepemimpinan Transformasional Rasulullah SAW: Proses pembinaan dan kaderisasi (Tasqif) yang sistematik kepada para sahabat sejak masa Darul Arqam adalah kunci utama yang memungkinkan budaya kepemimpinan transformasional Muhammad Rasulullah SAW ini diwarisi secara lestari oleh generasi pemimpin berikutnya
Skala (1-5): 5
Alasan:
Kepemimpinan Muhammad Rasulullah ﷺ yaitu kepemimpinan transformasional yang inspiratif, motivasional dan mengembangkan SDM (kaderisasi). Hal ini diwariskan oleh Beliau kepada para sahabatnya serta para pengikutnya dengan kekuatan komitmen yang telah membudaya dan bertahan lebih dari 14 abad. Nabi ﷺ telah memjadi tauladan, membangun semangat serta mendorong SDM dengan basis worldview Islam.
2. Pernyataan Struktur Organisasi Fungsional Menjadi Faktor Kedua Kelestarian Budaya Kepemimpinan Transformasional Rasulullah SAW : Rasulullah SAW mewujudkan visi Islam sebagai Rahmatan lil ‘Alamin dalam Negara Madinah. Pelaksanaannya adalah dengan menerapkan syariat dalam seluruh aspek kehidupan serta memenuhi delapan Maqasid Syariah, yaitu memelihara Keturunan, Akal, Kehormatan, Nyawa, Harta, Agama, Keamanan, dan Negara
Dalam konstruksi ulang (reconstruction) berdasarkan model manajemen strategis, khususnya pada tahap implementasi strategi, apa yang dilakukan Rasulullah SAW untuk mengelola organisasi pemerintahannya dapat dikategorikan sebagai Struktur Organisasi Fungsional. Struktur organisasi ini dipilih agar negara dapat memberikan fokus pada pengelolaan kemaslahatan publik selaras dengan delapan Maqasid Syariah tersebut. Struktur inti ini telah digunakan sejak zaman Negara Madinah dan diteruskan hingga zaman Utsmaniyyah. Struktur ini terbukti sangat efektif dalam menjaga stabilitas serta kualitas kepemimpinan lintas zaman hingga era Utsmaniyyah.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Berlandaskan worldview Islam dengan delapan maqashid, Rasulullah ﷺ mewariskan prinsip Struktur Organisasi Fungsional di Negara Madinah yang membagi tugas strategis secara efektif mulai dari kepala negara, pembantu umum (mu’awin), sekretaris negara, penguasa daerah, para qadhi yang menjalanjan peradilan, militer, kepala biro dan majelis umat. Fungsi-fungsi itulah yang diwariskan oleh Muhammad ﷺ kepada para khalifah secara konsisten hingga era Kesultanan Ustmaniyyah.
3. Pernyataan Institusi Negara Menjadi Faktor Ketiga Kelestarian Budaya Kepemimpinan Transformasional Rasulullah SAW: Keberadaan institusi negara dari Negara Madinah yang dilanjutkan Khilafah Rasyidin hingga Utsmaniyyah selama 14 abad berfungsi sebagai penjaga (guardian) yang optimal bagi terpeliharanya nilai, norma, dan hukum yang membentuk budaya kepemimpinan Islam di dunia.
Skala (1-5): 5
Alasan:
Institusi Negara Madinah telah diwariskan oleh Nabi Muhammad ﷺ dengan dasar yang dijalankan secara istiqamah oleh para sahabat hingga Kekhalifahan Utsmaniyyah dan bahkan sampai saat ini oleh para pengikut beliau yang insyaa Allah hingga akhir zaman.
Warisan itu adalah worldview Islam yang diwujudkan dengan visi untuk mencapai goal (tujuan) rahmatan lil alamin yang diperkuat dengan misi untuk mengatur, memfasilitaai dan menyelesaikan segala urusan dasar yaitu kebutuhan pangan, sandang, paoan, pendidikan, kesehatan dan keamanan untuk seluruh rakyat tidak saja Muslimin tapi juga kaum lain yang non-Muslimin, bahkan bagi makhluk lain di alam semesta.
Wallahu a'lam bishawab
Allahumma sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad
*Profil singkat penulis
Ir. Muhammad Karebet Widjajakusuma, MA, adalah lulusan pendidikan S-1 (1996) di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Jurusan Teknologi Indistri Pertanian dan S-2 (2010) di Universitas Malaya, Malaysia pada program Islamic Studies bidang Human Development.Penulis melakukan studi perbandingan di 18 negara yang meliputi Singapura, Malysia, Thailand, Brunei Darussalam, Jepang, Korea, Taiwan, Australia, Iran, Mesir, Arab Saudi, Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, Turkiye, Selandia Baru dan Uni Emirat Arab.Dengan keilmuannya tersebut, penulis memiliki kompetensi inti: strategic management transformational leadership, pengambilan keputusan berbasis metode analytical hierarchy process, serta metanoiac motivation and management training.Aktivitas penulis adalah konsultan manajemen dan kebijakan strategis, trainer pelatihan manajemen dan motivasi, serta penulis buku-buku manajemen dan motivasi perspektif syariah.
Pewawancara: Bambang Purwanto, MA, wartawan dan redaktur senior Indonesia Window.com
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Korban meninggal banjir Sumatera naik jadi 1.178, 148 hilang hingga 7 Januari pagi
Indonesia
•
07 Jan 2026

Delegasi Muhammadiyah kunjungi Guangzhou dan Shenzhen, rasakan perkembangan pendidikan dan kesehatan di China
Indonesia
•
25 Apr 2026

COVID-19 – 2 kasus varian B117 ditemukan di Indonesia
Indonesia
•
02 Mar 2021

COVID-19 – Taiwan migran Indonesia jalani karantina ketat setiba di Taiwan
Indonesia
•
20 Dec 2020


Berita Terbaru

Para pemimpin ASEAN prioritaskan keamanan dan ketahanan energi serta pangan di KTT Ke-48
Indonesia
•
11 May 2026

Kemiskinan ekstrem di China lenyap, jadi model pengentasan di Indonesia
Indonesia
•
10 May 2026

Analisis – Stabilitas Selat Malaka jadi sorotan di tengah ketegangan lintasan ‘chokepoint’ global
Indonesia
•
10 May 2026

Presiden dorong ekonomi biru, Kampung Nelayan Merah Putih jadi model kemandirian pesisir
Indonesia
•
10 May 2026
