Kisah – Croissant ternyata menyimpan kisah perang Islam dan Eropa yang jarang diceritakan

Ilustrasi. (AI-generated image)

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Selama ini banyak orang mengenal croissant sebagai ikon kuliner Prancis. Namun, sebuah kisah yang telah beredar selama berabad-abad menghubungkan roti tersebut dengan Pengepungan Wina (Siege of Vienna) pada 1683, ketika Kesultanan Utsmaniyah mengepung ibu kota Kekaisaran Habsburg. Benarkah demikian?

Para sejarawan masih memperdebatkannya. Meski begitu, legenda tersebut tetap menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah kuliner dunia karena membuka jendela menuju kisah yang lebih besar: sejarah hubungan antara Muslim dan non-Muslim di Eropa.

Dari sebuah pengepungan

Tahun 1683 menjadi salah satu titik balik penting dalam sejarah Eropa. Pasukan Kesultanan Utsmaniyah, yang saat itu merupakan salah satu kekuatan terbesar dunia, mengepung Kota Wina selama hampir dua bulan. Pengepungan itu berakhir setelah pasukan koalisi Eropa di bawah pimpinan Raja Polandia Jan III Sobieski berhasil memukul mundur tentara Utsmaniyah.

Dari peristiwa inilah lahir sebuah cerita yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurut legenda yang paling populer, para pembuat roti di Wina merayakan kemenangan tersebut dengan memanggang roti berbentuk bulan sabit, simbol yang sering diasosiasikan dengan Kesultanan Utsmaniyah. Menyantap roti itu dianggap sebagai lambang kemenangan atas musuh yang baru saja dikalahkan.

Seiring berjalannya waktu, kisah tersebut menyebar ke berbagai penjuru Eropa.

Ketika putri Austria, Marie Antoinette, menikah dengan Raja Prancis Louis XVI pada abad ke-18, berbagai tradisi kuliner Austria ikut diperkenalkan ke Prancis. Di sanalah roti berbentuk bulan sabit itu kemudian berkembang menjadi ‘croissant’—kata dalam bahasa Prancis yang berarti ‘bulan sabit’.

Namun, apakah croissant benar-benar lahir dari kemenangan atas Kesultanan Utsmaniyah?

Jawabannya tidak sesederhana itu.

Sebagian besar sejarawan kuliner menilai kisah tersebut lebih dekat kepada legenda daripada fakta yang dapat dibuktikan sepenuhnya. Mereka berpendapat bahwa croissant modern kemungkinan berkembang pada abad ke-19 dari ‘kipferl’, roti tradisional Austria yang memang telah lama berbentuk bulan sabit. Dengan kata lain, hubungan langsung antara croissant dan Pengepungan Wina masih menjadi bahan perdebatan akademik.

Akan tetapi, terlepas dari benar atau tidaknya legenda tersebut, kisah di baliknya justru membawa kita kepada fakta-fakta sejarah yang jauh lebih mengejutkan.

Ketika Muslim membela Eropa

Selama berabad-abad, Pengepungan Wina sering digambarkan sebagai benturan besar antara ‘Islam’ dan ‘Kristen’. Gambaran seperti ini masih kerap muncul dalam berbagai narasi politik modern, seolah-olah kedua peradaban tersebut sejak awal ditakdirkan untuk terus bermusuhan.

Namun, kenyataan sejarah ternyata jauh lebih kompleks.

Salah satu fakta yang sering luput dari perhatian adalah keberadaan pasukan Muslim di pihak yang mempertahankan Eropa.

Di dalam pasukan Raja Jan III Sobieski terdapat satu kesatuan kavaleri elit yang seluruh anggotanya merupakan Muslim. Mereka dikenal sebagai ‘Lipka Tatar’, komunitas Muslim Tatar yang telah lama bermukim di wilayah Persemakmuran Polandia-Lituania.

Berabad-abad sebelumnya, leluhur mereka datang sebagai pengungsi setelah mengalami berbagai tekanan politik di tanah asalnya. Polandia menerima mereka, memberikan lahan untuk menetap, serta membiarkan mereka menjalankan agama Islam dengan bebas.

Karena itulah, para ulama Lipka Tatar berpendapat bahwa mempertahankan negara yang telah memberi perlindungan merupakan kewajiban moral sekaligus keagamaan. Ketika Wina dikepung, mereka memilih bertempur bersama pasukan Kristen Eropa untuk membela negeri yang telah menjadi rumah mereka.

Fakta ini menjadi pengingat bahwa identitas keagamaan tidak selalu menjadi satu-satunya penentu pilihan politik maupun militer pada masa itu.

Sebagai penghargaan atas kesetiaan mereka, Raja Sobieski kemudian menghadiahkan tanah dan bantuan dana bagi komunitas Lipka Tatar untuk membangun masjid.

Salah satu warisan sejarah tersebut masih dapat disaksikan hingga kini melalui Masjid Kruszyniany di Polandia, yang menjadi salah satu masjid tertua di negara itu.

Orang Kristen bertempur bersama Utsmaniyah

Kisah mengejutkan tidak berhenti di situ.

Di pihak Kesultanan Utsmaniyah ternyata juga terdapat orang-orang Kristen yang ikut berperang.

Di antara mereka adalah kelompok Protestan dari Hongaria yang memilih bersekutu dengan Utsmaniyah. Alasannya bukan karena berpindah agama, melainkan karena pertimbangan politik.

Pada abad ke-17, konflik di Eropa tidak hanya berlangsung antara Muslim dan Kristen, tetapi juga melibatkan pertentangan keras di antara berbagai denominasi Kristen sendiri. Banyak kaum Protestan menganggap pemerintahan Katolik Habsburg sebagai ancaman yang lebih besar terhadap kebebasan mereka dibandingkan Kesultanan Utsmaniyah.

Dalam sistem pemerintahan Utsmaniyah, berbagai komunitas agama—termasuk Yahudi, Kristen Ortodoks, Armenia, dan kelompok agama lainnya—diberi ruang untuk mengelola urusan internal serta menjalankan ibadah melalui sistem yang dikenal sebagai ‘millet’.

Tentu saja sistem tersebut bukan tanpa kekurangan dan tidak selalu mencerminkan kesetaraan seperti yang dipahami pada masa kini. Namun, dibandingkan dengan berbagai konflik sektarian yang melanda sebagian wilayah Eropa saat itu, tidak sedikit kelompok minoritas yang memandang wilayah Utsmaniyah sebagai tempat yang relatif lebih aman untuk menjalankan keyakinan mereka.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa sejarah abad ke-17 jauh lebih rumit daripada sekadar pertarungan antara dua agama.

Banyak narasi populer menggambarkan Pengepungan Wina sebagai pertarungan mutlak antara dunia Islam dan dunia Kristen. Padahal, kenyataan di lapangan memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih berlapis.

Di satu pihak, Muslim mempertahankan kerajaan Kristen yang telah melindungi mereka.

Di pihak lain, sebagian orang Kristen memilih bersekutu dengan Kesultanan Utsmaniyah karena alasan politik dan kebebasan beragama.

Aliansi dibentuk bukan semata-mata berdasarkan agama, melainkan juga karena kepentingan negara, rasa syukur kepada tanah yang memberi perlindungan, serta dinamika politik yang sangat kompleks.

Sejarah memang tidak pernah benar-benar hitam dan putih.

Lebih dari sekadar roti

Apakah croissant benar-benar lahir sebagai simbol kemenangan atas Kesultanan Utsmaniyah?

Mungkin iya, mungkin tidak. Para sejarawan masih memperdebatkannya, dan kemungkinan besar kita tidak akan pernah memperoleh jawaban yang benar-benar pasti.

Legenda tentang croissant mengajak kita menengok kembali sejarah yang sering kali disederhanakan menjadi slogan atau pertentangan dua kubu yang saling berhadapan. Padahal, masa lalu dipenuhi oleh manusia dengan pilihan-pilihan yang tidak selalu mudah, aliansi yang melampaui batas agama, dan hubungan antarperadaban yang jauh lebih cair daripada yang sering dibayangkan.

Mungkin itulah pelajaran paling berharga dari sepotong croissant.

Bukan karena ia menyimpan kenangan tentang sebuah perang, melainkan karena kisah di baliknya mengingatkan bahwa sejarah manusia hampir tidak pernah dibangun oleh permusuhan semata. Di balik setiap konflik selalu ada kerja sama, perlindungan, rasa saling percaya, dan keberanian untuk melampaui sekat identitas.

Lain kali ketika menikmati croissant hangat bersama secangkir kopi, mungkin yang sedang kita santap bukan sekadar roti berlapis mentega, melainkan sebuah legenda yang membawa kita menelusuri hubungan panjang antara Islam, Eropa, dan perjalanan peradaban manusia.

Selesai

Sumber referensi: ‘No Croissant Without Islam’, Blogging Theology (YouTube), dikombinasikan dengan kajian-kajian sejarah mengenai Pengepungan Wina 1683; komunitas Lipka Tatar; sejarah ‘kipferl’; dan perkembangan croissant modern.

Bagikan

Komentar

Berita Terkait