Wawancara – Pakar Ethiopia sebut kenaikan tarif AS terhadap EV China rugikan agenda iklim global

Sejumlah pengunjung terlihat di area pameran produsen kendaraan energi baru (new energy vehicle/NEV) asal China BYD dalam ajang Pameran Otomotif Internasional Beijing (Beijing International Automotive Exhibition) 2024 di Beijing, ibu kota China, pada 4 Mei 2024. (Xinhua/Yin DongxZun)
Kenaikan tarif baru Amerika Serikat terhadap barang-barang energi bersih asal China akan berimplikasi negatif terhadap AS sendiri.
Addis Ababa, Ethiopia (Xinhua) – Kenaikan tarif baru yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap kendaraan listrik (electric vehicles/EV) buatan China akan memiliki dampak yang luas terhadap agenda iklim global, demikian ungkap seorang pakar Ethiopia.Langkah terbaru dari pemerintah AS yang menargetkan produk-produk energi bersih China itu "lebih merupakan tindakan politis" di tengah meningkatnya daya saing industri energi baru China, kata Costantinos Bt. Costantinos, seorang profesor kebijakan publik di Universitas Addis Ababa di Ethiopia, kepada Xinhua."Ini (langkah yang dilakukan AS) akan sangat merugikan agenda iklim," ujar Costantinos.Memperhatikan krisis iklim global saat ini dan kebutuhan krusial untuk mendorong kerja sama dalam memerangi perubahan iklim, sang pakar mengatakan bahwa sikap proteksionis AS itu berpotensi menggagalkan langkah positif yang dicapai baru-baru ini dalam konsensus global menuju transisi energi ramah lingkungan.Memuji kemajuan China baru-baru ini dalam sumber energi bersih, Costantinos menggarisbawahi implikasi positif dari inovasi dan kemajuan teknologi China terhadap dorongan global menuju dekarbonisasi."Ini (kemajuan China) akan menjadi terobosan dalam hal perubahan iklim," katanya.Sementara itu, sang pakar menekankan bahwa keunggulan industri China dalam produksi EV memungkinkan untuk menghadirkan EV dengan harga yang terjangkau secara global."Saya berkesempatan untuk menyaksikan secara langsung kendaraan listrik buatan China di Addis Ababa. Saya telah melihat BYD dan merek lainnya... mobil yang sangat elegan dan berfungsi dengan baik," ujarnya.Namun, segala sesuatu yang berhubungan dengan China saat ini dipandang oleh AS sebagai persaingan, kata Costantinos, seraya menambahkan bahwa perspektif AS lebih dipengaruhi oleh motif politik daripada kekhawatiran akan kesejahteraan konsumen AS.Kenaikan tarif baru AS terhadap barang-barang energi bersih asal China akan berimplikasi negatif terhadap AS sendiri, kata sang cendekiawan, seraya mendesak AS untuk mempertimbangkan kembali langkahnya."Bahkan sejumlah wadah pemikir AS pun telah menyuarakan bahwa proteksi ini tidak akan membantu AS dalam cara apa pun," katanya.Laporan: RedaksiBagikan
Komentar
Berita Terkait

Kementerian ESDM targetkan investasi migas 2022 capai 17 miliar dolar AS
Indonesia
•
19 Jan 2022

China akan tingkatkan kemudahan akomodasi bagi pelaku perjalanan asing
Indonesia
•
27 Jul 2024

Kerja sama industri China-Indonesia dapat dorongan dari perusahaan manufaktur China
Indonesia
•
23 Sep 2022

Minyak jatuh saat kenaikan bunga Fed berdampak pada permintaan BBM
Indonesia
•
25 Jul 2022
Berita Terbaru

Feature – Tianlala bawa aroma dan manis teh susu dari China ke Indonesia
Indonesia
•
29 Jan 2026

Laba bersih Tesla anjlok 46 persen pada 2025
Indonesia
•
29 Jan 2026

Feature – Kelapa Indonesia lebih mudah masuki pasar China berkat jalur pengiriman dan kebijakan preferensial Hainan
Indonesia
•
28 Jan 2026

Penjualan EV di Indonesia naik 141 persen pada 2025, merek-merek China menonjol
Indonesia
•
27 Jan 2026
