Kementerian ESDM terapkan ‘smart grid’ capai bauran energi

Kementerian ESDM terapkan ‘smart grid’ capai bauran energi
Ilustrasi. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerapkan teknologi smart grid atau guna mencapai target bauran energi nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025. (Nikola Johnny Mirkovic on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menerapkan teknologi smart grid guna mencapai target bauran energi nasional sebesar 23 persen pada tahun 2025.

Pemanfaatan teknologi tersebut diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2020 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2020-2024, kata Menteri ESDM Arifin Tasrif saat membuka konferensi internasional yang diselenggarakan oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) secara virtual pada Rabu (23/9).

“Pemanfaatan smart grid dapat meningkatkan penetrasi pada pembangkit energi baru dan terbarukan, terutama Variabel Renewable Energy (VRE) di sistem ketenagalistrikan,” jelas Menteri.

Smart grid adalah jaringan listrik yang mencakup berbagai operasi dan pengukuran energi termasuk meteran pintar, peralatan pintar, sumber energi terbarukan, dan sumber daya hemat energi.

Pengembangan smart grid, sambung Arifin, dapat meningkatkan efisiensi, kualitas, dan keandalan sistem ketenagalistrikan.

Hal tersebut akan mengurangi, bahkan mencegah pemadaman (black out) sehingga bisa menghasilkan aksesibilitas yang lebih baik ke jaringan dan mempercepat proses pemulihan gangguan.

Selain itu, smart grid juga dapat mengurangi susut (losses) pada jaringan distribusi serta dapat digunakan dalam mengembangkan distributed generation, meningkatkan integrasi energi terbarukan dalam skala yang besar, dan mampu menurunkan tarif listrik dengan mengendalikan beban puncak listrik.

Arifin memaparkan bahwa pengembangan tahap pertama smart grid di Pulau Jawa telah dilaksanakan antara lain, di Jakarta, yakni digital substation Sepatan II, digital substation Teluk Naga II, reliability efficiency optimization center, platform e-mobility electric vehicle charging station, dan advance metering infrastructure.

Sementara di Surabaya, jaringan listrik dikembangkan pada remote engineering, monitoring, diagnostic and optimization centre.

Adapun, pengembangan smart grid di luar Pulau Jawa telah dilaksanakan antara lain di Bali dan Pulau Sumba, Nusa Tenggara Barat.

“Tentu saja seluruh program ini akan terus berlanjut sehingga Indonesia bisa menghasilkan target elektrifikasi yang sempurna, yang dapat dinikmati oleh masyarakat,” tutur Arifin.

Smart grid memungkinkan adanya partisipasi pelanggan dalam menyediakan tenaga listrik berbasis sumber energi setempat dengan mengintegrasikan aksi-aksi atau kegiatan dari semua pengguna, mulai dari pembangkit sampai ke konsumen.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here