Kemenag siapkan akademisi untuk perkenalkan Islam Indonesia ke dunia

Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, menyampaikan sambutan pada acara Wisuda Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) angkatan 50, 51, 52, dan 53, di Jakarta, Selasa (28/4/2026). (Indonesia Window/Ronald Rangkayo)

Jakarta (Indonesia Window) – Kementerian Agama (Kemenag) RI memperkuat internasionalisasi perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia dengan memperluas jejaring akademik global, meningkatkan kolaborasi penelitian, serta mempersiapkan para akademisi Indonesia agar dapat berkontribusi dalam diskursus akademik internasional.

Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar mengatakan, internasionalisasi merupakan bagian dari upaya strategis Kemenag untuk meningkatkan mutu dan keterlibatan perguruan tinggi Islam Indonesia di tingkat global.

Hal tersebut disampaikan dalam sebuah acara di Kantor Kemenag RI, di Jakarta, Rabu (19/8).

Saat ini, Kemenag membina 56 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dan lebih dari 826 perguruan tinggi keagamaan Islam swasta di seluruh Indonesia.

Menurut Menag Nasaruddin, lembaga-lembaga tersebut memiliki peran penting dalam mengembangkan keilmuan yang menghubungkan agama, ilmu pengetahuan, masyarakat, perdamaian, dan kemanusiaan.

Dia mencatat sejumlah perguruan tinggi Islam Indonesia telah memperoleh pengakuan internasional sepanjang 2026.

Sebanyak 34 PTKIN masuk dalam ‘Transparent Ranking Open 2026’, sementara Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta tercatat dalam ‘Times Higher Education Sustainability Impact Rankings 2026’.

Sejumlah PTKIN juga memperoleh pengakuan internasional dalam bidang studi keagamaan melalui pemeringkatan SCImago 2026.

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta mewakili Indonesia dalam bidang teologi, divinitas, dan studi keagamaan pada ‘QS World University Rankings by Subject 2026’.

Sementara itu, jurnal ‘Ijtihad’ yang diterbitkan UIN Salatiga menempati posisi terkemuka secara global dalam bidang studi keagamaan berdasarkan pemeringkatan terbaru ‘SCImago Journal and Country Rank’.

Prestasi lainnya ditorehkan ‘Journal of Islamic Architecture’ yang diterbitkan UIN Malang dan berhasil masuk jajaran teratas jurnal akademik internasional bidang arsitektur.

UIN Malang dan UIN Tulungagung juga memperkuat jejaring akademik internasional melalui keanggotaan dalam ‘International Association of University Libraries’.

Menurut Nasaruddin, berbagai pencapaian tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi Islam Indonesia semakin terhubung dengan komunitas akademik global.

Namun, dia menegaskan bahwa pemeringkatan internasional tidak boleh dijadikan tujuan akhir.

“Sebaliknya, pemeringkatan tersebut merupakan indikasi dari upaya berkelanjutan kita untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian, publikasi, kolaborasi akademik, dan keterlibatan internasional,” ujarnya.

Nasaruddin mengatakan upaya internasionalisasi yang lebih luas pada akhirnya harus memperkuat kapasitas akademisi Indonesia dan internasional untuk saling belajar serta mengembangkan pengetahuan yang relevan, tidak hanya bagi institusi masing-masing, tetapi juga bagi masyarakat internasional secara lebih luas.

“Kami berharap para akademisi Indonesia dan internasional dapat saling belajar dan mengembangkan pengetahuan yang relevan, tidak hanya bagi kedua institusi, tetapi juga bagi komunitas internasional yang lebih luas,” katanya.

Agenda internasionalisasi juga mencakup penguatan kapasitas akademisi Indonesia agar mampu berpartisipasi dalam pertukaran akademik global.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Kamaruddin Amin mengatakan Kemenag tengah mempersiapkan para profesor dan dosen untuk dikirim ke sejumlah perguruan tinggi di luar negeri, termasuk Hartford International University, guna memperkenalkan Islam Indonesia kepada komunitas akademik internasional.

“Kami ingin Islam di Indonesia diajarkan oleh orang Indonesia,” kata Kamaruddin.

Menurut dia, pendidikan memiliki peran penting dalam mengembangkan sumber daya manusia sekaligus membangun martabat manusia.

Kerja sama dengan Hartford, lanjut Kamaruddin, memberikan kesempatan untuk memperluas keterlibatan akademik sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam diskusi internasional mengenai agama dan masyarakat.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait