
Kemnaker perkuat kemandirian ekonomi masyarakat pascabencana lewat pelatihan vokasi

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pascabencana lewat pelatihan vokasi, berkolaborasi dengan Kementerian Ekonomi Kreatif di Banda Aceh, Rabu (19/8). (Kementerian Ketenagakerjaan RI)
Pemulihan pascabencana perlu memperhatikan kapasitas masyarakat selain pembangunan kembali infrastruktur dan lingkungan.
Jakarta (Indonesia Window) – Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pascabencana lewat pelatihan vokasi dalam rangka percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera di Banda Aceh, Rabu (19/8).
Kemnaker melakukan hal tersebut melalui Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Banda Aceh dengan menyelenggarakan Workshop (lokakarya) Teknis Menjahit Pakaian Ready to Wear (siap pakai).
Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Kemnaker dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, yang menginisiasi workshop, sedangkan BPVP Banda Aceh menjadi salah satu lokasi pelaksanaan sekaligus memberikan dukungan teknis melalui pelatihan vokasi.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengatakan, pemulihan pascabencana perlu memperhatikan kapasitas masyarakat selain pembangunan kembali infrastruktur dan lingkungan.
“Bencana tidak hanya meninggalkan dampak terhadap infrastruktur dan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas ekonomi, mata pencaharian, usaha masyarakat, dan produktivitas tenaga kerja,” ujar Afriansyah.
Menurutnya, keterampilan menjahit ready to wear relevan dengan pengembangan ekonomi kreatif karena dapat menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat.
Mengapresiasi kolaborasi lintas kementerian dalam kegiatan tersebut, katanya, seraya menilai rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana membutuhkan keterlibatan berbagai pihak untuk menghubungkan pelatihan dengan potensi ekonomi yang ada di daerah.
Dalam bidang fashion (fesyen), Afriansyah melihat Aceh memiliki potensi besar karena didukung kekayaan budaya, motif, kerajinan, kreativitas masyarakat, dan identitas lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif.
“Potensi tersebut harus diikuti dengan peningkatan kompetensi. Kita tidak cukup hanya menghasilkan produk yang bagus, tetapi harus mampu menghasilkan produk yang berkualitas, memiliki desain menarik, sesuai tren, memiliki identitas, harga kompetitif, dan mampu diterima konsumen,” katanya.
Dia menambahkan, pelatihan perlu menghubungkan keterampilan dengan kebutuhan nyata di lapangan, mulai dari proses produksi hingga kemampuan mengembangkan dan memasarkan produk.
Dengan pendekatan tersebut, keterampilan yang diperoleh peserta dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi.
“Dari keterampilan menjadi produk, dari produk menjadi usaha, dari usaha menjadi pendapatan, dan dari pendapatan menjadi kemandirian ekonomi. Inilah semangat vokasi yang harus terus kita bangun,” ujar Afriansyah.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Presiden Prabowo perintahkan harga khusus BBM untuk Nelayan Kapal 30–200 GT
Indonesia
•
15 Jul 2026

COVID-19 – 253 tenaga kesehatan Indonesia meninggal selama pandemik
Indonesia
•
26 Oct 2020

Kelas Ibu Hamil dan Balita tingkatkan kualitas generasi masa depan
Indonesia
•
12 Nov 2019

Korban tewas akibat banjir dan tanah longsor di Sidrap Sulsel bertambah jadi 15 orang
Indonesia
•
05 May 2024


Berita Terbaru

Indonesia–China perkuat pendidikan vokasi, bidik kebutuhan industri masa depan
Indonesia
•
16 Oct 2026

China perkuat studi tentang Indonesia, Universitas Peking gelar forum internasional bahas masa transisi
Indonesia
•
16 Oct 2026

Bedah Buku - Kasdam III/Siliwangi ajak publik melek perang kognitif demi tangkal baya malinformasi dan ‘deepfake’
Indonesia
•
16 Oct 2026

Bantuan masjid dan musala 2026 dibuka, catat syarat dan jadwalnya
Indonesia
•
16 Oct 2026
