
Kecepatan lari robot humanoid tembus 9,39 detik, lewati rekor Usain Bolt

Sejumlah robot humanoid berpartisipasi dalam lomba lari 100 meter dalam upacara pembukaan ajang World Humanoid Robot Games kedua di Beijing, ibu kota Tiongkok, pada 22 Agustus 2026. (Xinhua/Ju Huanzong)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Pada ajang World Humanoid Robot Games kedua yang digelar di Beijing pada Sabtu (22/8), robot humanoid Tien Kung Ultra dari China mencatatkan waktu 9,39 detik untuk mencapai garis finis, memecahkan rekor dunia lari 100 meter putra 9,58 detik yang ditorehkan sprinter Jamaika Usain Bolt 17 tahun lalu.
Perbandingan itu memang sulit dihindari, meski kedua pencapaian tersebut jelas tidak sepenuhnya sebanding. Bolt menunjukkan seberapa cepat tubuh manusia dapat berlari, sementara robot Tien Kung Ultra menunjukkan sejauh mana kepandaian manusia dapat berkembang.
Pada tahap perkembangan robot humanoid saat ini, kemampuan berlari masih menjadi tantangan yang sangat berat.
Robot harus menghasilkan tenaga, meredam benturan berulang, dan mempertahankan keseimbangan dinamis sambil mengoordinasikan banyak sendi secara bersamaan. Kecepatan menguji setiap batas teknis, karena semakin cepat mesin bergerak, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk memulihkan diri dari sebuah kesalahan.
Hal itu membuat laju penyempurnaannya terbilang luar biasa. Pada ajang tahun lalu, Tien Kung Ultra membutuhkan waktu 21,5 detik untuk menempuh jarak yang sama. Setahun kemudian, catatan waktunya telah dipangkas lebih dari separuh.
Kemajuan sebesar itu jarang lahir dari satu terobosan semata. Selama setahun terakhir, para engineer memutakhirkan sistem persendian robot, menyempurnakan strukturnya, dan merombak algoritma kendalinya untuk mendukung gerakan lari berkecepatan tinggi.
Para engineer juga telah menyempurnakan sistem navigasinya, sehingga Tien Kung Ultra dapat mempertahankan arah saat melaju kencang tanpa harus bergantung pada marka lintasan.
Namun, memecahkan rekor manusia bukanlah tujuan akhir dari rekayasa teknologi ini. Setiap peningkatan justru menguak kelemahan berikutnya. Bahkan catatan waktu lari 9,39 detik pada Sabtu itu menunjukkan tantangan selanjutnya, bahwa robot tersebut memiliki start yang lebih lambat, meski kecepatan puncaknya yang lebih tinggi memungkinkannya melaju melewati para pesaing pada akhir balapan.
Kompetisi membantu mempercepat proses tersebut. Ajang seperti ini menyediakan target yang jelas, tolok ukur bersama, dan hasil yang nyata. Begitu satu tim menaikkan standar, tim-tim lainnya memiliki patokan baru yang harus dicapai, sekaligus bukti bahwa tingkat performa yang lebih tinggi memang bisa diwujudkan.
Pada akhirnya, tujuan inovasi robot humanoid bukan sekadar membuat robot bergerak menyerupai manusia, melainkan membuat mereka dapat bekerja berdampingan dengan manusia dan menjalankan tugas-tugas yang bermanfaat di dunia nyata.
Robot di pabrik tidak perlu memenangi lomba lari cepat, dan robot layanan tidak membutuhkan medali. Namun, setiap capaian dalam kecepatan, stabilitas, dan presisi di arena kompetisi dapat membawa robot selangkah lebih dekat untuk benar-benar berguna di luar arena.
Di situlah signifikansi catatan waktu 9,39 detik melampaui makna angka pada stopwatch. Rekor kecepatan tersebut menunjukkan sejauh mana kemampuan mesin telah berkembang dalam setahun.
Di balik angka itu terdapat keputusan manusia, eksperimen, dan penyempurnaan yang tak terhitung jumlahnya, yang memungkinkan kemajuan tersebut tercapai. Ujian berikutnya adalah seberapa jauh kemajuan itu dapat diterapkan di luar lintasan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Museum Zoologi Bogor simpan jutaan spesimen fauna, terbesar di Asia Tenggara
Indonesia
•
10 Dec 2025

Populasi rusa milu yang terancam punah di cagar alam China berkembang pesat, capai 8.000 ekor
Indonesia
•
05 Jul 2024

2.056 robot dari 16 negara akan bertanding di World Humanoid Robot Games Beijing
Indonesia
•
14 Aug 2026

Studi: Tinggal di lingkungan yang banyak pohon bantu turunkan risiko depresi pada lansia
Indonesia
•
28 Jul 2026


Berita Terbaru

Antarktika tambah 695 miliar ton es di tengah pemanasan global, ini penyebabnya
Indonesia
•
24 Aug 2026

Setelah bertahun-tahun menyusut, massa es Antarktika mendadak bertambah 695 miliar ton, apa yang sebenarnya terjadi?
Indonesia
•
23 Aug 2026

Cahaya langsung jadi token: Terobosan cip ini bikin AI lebih cepat dan hemat energi
Indonesia
•
23 Aug 2026

Kanker payudara paling agresif punya titik lemah? Ilmuwan temukan petunjuknya
Indonesia
•
23 Aug 2026
