
Antarktika tambah 695 miliar ton es di tengah pemanasan global, ini penyebabnya

Orang-orang mengabadikan foto gunung es di dekat pesisir Pulau Spert di Antarktika pada 16 Desember 2025. (Xinhua/Yang Shu)
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah studi internasional terbaru menunjukkan bahwa lapisan es Antarktika mengalami penambahan massa sebesar 695 miliar metrik ton selama periode 2021 hingga 2023, sehingga memperlambat laju hilangnya es dalam jangka panjang di benua tersebut di tengah fenomena pemanasan iklim.
Para peneliti dari China, Amerika Serikat, Hongaria, dan Jepang menemukan bahwa penambahan massa es tersebut merupakan yang terbesar yang pernah tercatat dalam hampir dua dekade pengamatan satelit.
Mereka meyakini bahwa fenomena atmosfer yang terjadi ribuan kilometer jauhnya menjadi penyebab penambahan tersebut, di mana lautan tropis yang hangat memicu hujan salju lebat di benua paling selatan di dunia dan mengimbangi hilangnya es akibat pencairan.
Lapisan es Antarktika merupakan salah satu sumber ketidakpastian utama bagi kenaikan permukaan laut global. Selama periode 2003 hingga 2024, benua tersebut kehilangan rata-rata sekitar 140,5 miliar metrik ton es per tahun.
Penulis utama studi itu, Wang Yunhe, seorang associate researcher di Institut Oseanologi di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan (Chinese Academy of Sciences/CAS), mengatakan bahwa penambahan massa es yang tidak biasa itu didorong oleh pemanasan di Kawasan Perairan Hangat Pasifik barat tropis, salah satu wilayah laut terhangat di dunia dan salah satu sumber pelepasan panas terbesar ke atmosfer.
Dari 2021 hingga 2023, suhu laut di wilayah tersebut mengalami pemanasan yang tidak biasa dan berlangsung terus-menerus, yang pada akhirnya mengubah pola sirkulasi atmosfer.
"Uap air dari Samudra Hindia di lintang menengah terbawa menuju Antarktika Timur, membawa hujan salju lebat ke wilayah tersebut dan menyebabkan massa lapisan es meningkat," ungkap Wang.
Namun demikian, penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Nature itu menyebutkan bahwa peristiwa pemanasan serupa terjadi kira-kira sekali dalam satu dekade, yang mengindikasikan bahwa penambahan massa es itu bersifat sementara dan tidak dapat membalikkan tren jangka panjang hilangnya es.
Wang menambahkan bahwa Antarktika Barat masih terus kehilangan es, sementara pemanasan laut mengancam sejumlah gletser yang mengalir ke laut di Antarktika Timur dengan mencairkan lapisan es dari bagian bawah dan mempercepat aliran es.
Dalam sebuah komentar pendamping yang juga dipublikasikan dalam jurnal Nature, Jonathan Wille, seorang peneliti di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Prancis (French National Center for Scientific Research), menulis bahwa para peneliti harus memperhitungkan variabilitas iklim tropis untuk memahami masa depan Antarktika dan planet ini secara keseluruhan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

China luncurkan satelit komunikasi baru
Indonesia
•
24 Feb 2023

Tim peneliti China cetak rekor efisiensi untuk sel surya generasi berikutnya
Indonesia
•
01 Nov 2025

Survei ifo: Lebih dari 10 persen perusahaan Jerman gunakan teknologi AI
Indonesia
•
03 Aug 2023

Makam berhiaskan mural dari era Dinasti Ming ditemukan di Hunan, China tengah
Indonesia
•
09 Mar 2023


Berita Terbaru

Amazon di Brasil lepaskan 1,17 miliar ton karbon lebih banyak daripada yang diserap per tahun
Indonesia
•
23 Oct 2026

96 persen terumbu karang dunia terancam kritis akibat pemanasan laut, Great Barrier Reef Australia bisa hancur pada 2075
Indonesia
•
23 Oct 2026

Feature – Menimbang klaim manfaat ‘peach gum’, hidangan penutup dari getah pohon persik
Indonesia
•
22 Oct 2026

Dibekali kamera 200MP, Huawei nova 16s Series 5G resmi meluncur di Indonesia
Indonesia
•
22 Oct 2026
