
Pakar Bosnia dan Herzegovina peringatkan kebijakan tarif AS ancam ekonomi global

Sejumlah orang berjalan melewati gedung Capitol Amerika Serikat (AS) di Washington DC, AS, pada 19 Januari 2025. (Xinhua/Wu Xiaoling)
Kebijakan proteksionis yang makin sering dilancarkan Washington, dengan didasarkan pada logika menang-kalah (zero-sum), berisiko mengacaukan tatanan ekonomi global dan memperdalam tekanan resesi.
Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina (Xinhua/Indonesia Window) – Kebijakan proteksionis yang makin sering dilancarkan Washington, dengan didasarkan pada logika menang-kalah (zero-sum), berisiko mengacaukan tatanan ekonomi global dan memperdalam tekanan resesi, kata seorang pakar.Agenda pemerintahan Trump yang berfokus pada kebijakan tarif, yang mengutamakan keuntungan domestik jangka pendek, berisiko merusak rantai pasokan internasional dan melemahkan institusi-institusi multilateral, ujar Vlade Simovic, profesor di Fakultas Ilmu Politik Universitas Banja Luka di Bosnia dan Herzegovina.Dalam sesi wawancara dengan Xinhua, Simovic menggambarkan langkah pemerintahan Trump untuk menghidupkan kembali tarif tinggi sebagai kembalinya prinsip merkantilisme.Di saat Washington berupaya mengembalikan produksi manufaktur ke dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor, pendekatan ini mengabaikan realitas globalisasi, tutur Simovic.Meskipun tarif mungkin secara politis menarik bagi Washington, pakar tersebut memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat memicu siklus pembalasan."Perekonomian modern berkembang melalui saling ketergantungan. Gangguan terhadap keseimbangan ini berisiko menyebabkan inflasi, kekacauan rantai pasokan, dan runtuhnya kerangka kerja multilateral," lanjut Simovic.Unilateralisme Amerika Serikat (AS) memperlemah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), dengan Washington lebih mengutamakan kesepakatan bilateral daripada aturan multilateral, ungkap Simovic. "WTO semakin tidak relevan bagi AS yang menetapkan aturan mainnya sendiri."Deretan peristiwa dalam sejarah terkait proteksionisme pun patut dipertimbangkan. Proteksionisme pada 1930-an memperburuk Depresi Besar (Great Depression), imbuhnya.Simovic mengatakan bahwa Uni Eropa, sebagai mitra dagang utama AS, menghadapi kerentanan akut akibat ancaman tarif AS terhadap komoditas baja, aluminium, dan industri otomotif, yang menimbulkan risiko bagi stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi Eropa.Masyarakat internasional harus memprioritaskan reformasi inklusif untuk mencegah krisis yang sebenarnya bisa dihindari, krisis di mana kemenangan politik jangka pendek justru membuka jalan bagi kerugian kolektif jangka panjang, kata Simovic.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Investasi migas bernilai 117 miliar dolar AS hingga 2024
Indonesia
•
19 Feb 2020

China sumbang dua pertiga dari penjualan BEV global pada 2022
Indonesia
•
08 Feb 2023

Eurostat: Inflasi zona euro diperkirakan capai 2,6 persen pada Juli 2024
Indonesia
•
01 Aug 2024

IMF: Ekonomi global akan lebih sulit pada tahun 2023
Indonesia
•
02 Jan 2023


Berita Terbaru

IPO SpaceX raup 1.348 triliun rupiah, Elon Musk makin dekat jadi triliuner pertama dunia
Indonesia
•
13 Jun 2026

Aset lintas batas Hong Kong tembus Rp53 kuadriliun, lampaui Swiss
Indonesia
•
13 Jun 2026

UKM Singapura paling tidak optimistis ekspansi ke luar negeri
Indonesia
•
12 Jun 2026

ZTE borong 3 penghargaan Selular Awards 2026, perkuat inovasi teknologi jaringan di Indonesia
Indonesia
•
11 Jun 2026
