
Studi ungkap kebakaran ekstrem perkuat pemanasan permukaan lahan pascakebakaran

Foto yang diabadikan dengan 'drone' pada 9 September 2024 ini menunjukkan kebakaran hutan di Kawasan Pelestarian Permanen di sisi barat Taman Nasional Chapada dos Veadeiros di Negara Bagian Goias, Brasil. (Xinhua/Lucio Tavora)
Kebakaran ekstrem memperkuat pemanasan permukaan lahan pascakebakaran, yang memberikan perspektif baru bagi pemahaman komprehensif tentang dampak kebakaran hutan terhadap ekosistem dan perubahan iklim.
Xi'an, China (Xinhua/Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti internasional yang dipimpin oleh para ilmuwan China mengungkap bahwa kebakaran ekstrem memperkuat pemanasan permukaan lahan pascakebakaran, yang memberikan perspektif baru bagi pemahaman komprehensif tentang dampak kebakaran hutan terhadap ekosistem dan perubahan iklim.Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Nature pada Rabu (25/9).Pemanasan iklim memicu tren kebakaran hutan ekstrem yang sering terjadi, luas, dan intens, tetapi dampak kebakaran hutan yang semakin besar terhadap iklim permukaan telah diremehkan, kata Yue Chao dari Northwest A&F University, ketua tim peneliti tersebut."Kami menggunakan pengamatan satelit untuk menunjukkan bahwa di hutan beriklim sedang dan boreal di utara, skala kebakaran secara konstan memperkuat pemanasan permukaan lahan pascakebakaran selama satu dekade pada musim panas per unit area yang terbakar," kata Yue.Menurut penelitian itu, pemanasan permukaan yang disebabkan oleh kebakaran ekstrem memengaruhi kemampuan hutan untuk melakukan regenerasi pascakebakaran dan komposisi spesiesnya, serta memperkuat degradasi lapisan tanah beku dan mempercepat pelepasan karbon organik dari lapisan tanah beku. Artinya, kebakaran ekstrem berpotensi memperburuk pemanasan global, yang pada akhirnya akan menyebabkan lebih banyak kebakaran ekstrem, sehingga menciptakan lingkaran setan.Studi tersebut menemukan bahwa pemanasan permukaan berkurang seiring bertambahnya jumlah pohon berdaun lebar, yang berarti meningkatkan proporsi pohon berdaun lebar secara tepat dapat mengurangi risiko iklim yang disebabkan oleh kebakaran.Hasil studi itu mengindikasikan urgensi pemahaman ilmiah tentang dampak ekologis dan iklim dari kebakaran ekstrem, serta pencegahan dan pengendalian risiko iklim dari kebakaran ekstrem, yang dapat menghasilkan peningkatan kemampuan untuk memprediksi perubahan iklim di masa depan dan merespons kebakaran ekstrem, kata Yue.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Penelitian: Gempa Noto di Jepang picu lebih banyak likuefaksi ketimbang gempa besar 1995
Indonesia
•
11 Mar 2024

Spanyol bersiap hadapi kekeringan musim semi dan gelombang panas musim panas
Indonesia
•
25 Mar 2024

Ilmuwan China kembangkan terobosan teknologi ‘tato es’ untuk organisme hidup
Indonesia
•
19 May 2025

Kamboja catat peningkatan populasi bangau langka
Indonesia
•
02 Aug 2023


Berita Terbaru

Ilmuwan China ungkap alasan nyeri memburuk pada malam hari
Indonesia
•
21 Mar 2026

Rusia targetkan pembangunan PLTN di Bulan dalam 5-7 tahun
Indonesia
•
20 Mar 2026

Akumulasi debu sejak 130.000 tahun silam dorong perubahan iklim di Asia
Indonesia
•
17 Mar 2026

Tim peneliti internasional kembangkan implan cetak 3D untuk perbaiki kerusakan jaringan
Indonesia
•
17 Mar 2026
