Keaslian produk daging dan susu dapat dicek dengan teknologi DNA

Seorang pedagang daging sapi di Bogor, Jawa Barat, tengah memotong bagian-bagian daging sapi, pada 8 November 2024. (Indonesia Window)

Teknologi berbasis DNA mitokondria (mtDNA), yang memungkinkan verifikasi keaslian produk daging dan susu melalui identifikasi spesies secara molekuler.

 

Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Bahan pangan sintesis yang makin banyak beredar di pasaran saat ini sangat mengkhawatirkan.

Masalah tersebut kini dapat diatasi dengan teknologi berbasis DNA mitokondria (mtDNA), yang memungkinkan verifikasi keaslian produk daging dan susu melalui identifikasi spesies secara molekuler.

Temuan ini menjadi krusial dalam melindungi konsumen dari praktik pemalsuan pangan, sekaligus memastikan produk yang beredar memenuhi standar kesehatan dan sertifikasi, termasuk aspek kehalalan.

“mtDNA dapat dimanfaatkan untuk memverifikasi keaslian daging maupun susu melalui identifikasi spesies secara molekuler. Ini menjadi sangat strategis bagi Indonesia dalam melindungi hak konsumen atas pangan yang aman, sehat, dan sesuai standar sertifikasi halal,” ungkap peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Didi Tarmidi, dalam forum ilmiah Zoopedia edisi ke-16, Kamis (9/4), dikutip dari situs jejaring BRIN pada Senin.

Dia menguraikan karakteristik unik mtDNA yang membedakannya dari DNA inti. “Selain memiliki jumlah salinan yang melimpah di dalam sel, mtDNA diwariskan secara maternal dan tidak mengalami rekombinasi, serta laju mutasinya lebih tinggi. Sehingga, mtDNA efektif digunakan sebagai penanda molekuler untuk melacak garis keturunan betina (maternal lineage), dan memahami sejarah evolusi dan struktur populasi ternak,” ujarnya.

Didi mengungkapkan, riset mtDNA pada komoditas sapi menunjukkan transformasi signifikan sejak pertama kali diidentifikasi pada 1963.

“Hasil analisis menunjukkan riset global terkait mtDNA pada sapi telah berkembang dari kajian biologi molekuler dasar menuju aplikasi yang lebih luas, seperti identifikasi spesies untuk keamanan pangan, peningkatan efisiensi reproduksi, serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai keragaman genetik dan evolusi,” tambahnya.

Riset terkini juga menunjukkan keterkaitan antara jumlah salinan mtDNA dengan panjang telomer pada genom inti. Korelasi ini berpotensi dimanfaatkan sebagai indikator biologis untuk menilai kesehatan sel, tingkat stres, serta proses penuaan pada ternak. Pendekatan ini membuka peluang baru dalam pengelolaan kesehatan hewan berbasis biomarker molekuler yang lebih presisi.

Dari perspektif konservasi, Didi menyoroti peluang pemanfaatan mtDNA dalam pengembangan teknologi kloning antarspesies. Dalam pendekatan ini, sel telur sapi domestik dapat digunakan untuk menghasilkan embrio yang membawa materi genetik dari spesies kerabat liar yang terancam punah.

“Meski demikian, penerapan teknologi ini masih menghadapi tantangan biologis, terutama terkait kompatibilitas antara DNA inti dan mitokondria,” paparnya.

Seiring pesatnya perkembangan teknologi sekuensing, peluang untuk memperoleh data mitogenom secara komprehensif semakin terbuka. Integrasi data genetik ini dinilai penting untuk mendukung program pemuliaan, konservasi, serta pengelolaan sumber daya genetik ternak secara berkelanjutan.

Dengan basis data yang kuat, kebijakan berbasis sains dapat dirancang lebih akurat dalam menjawab tantangan ketahanan pangan jangka panjang.

“Perkembangan teknologi sekuensing yang semakin pesat dan terjangkau saat ini membuka peluang untuk memperoleh data mitogenom secara lebih lengkap, sehingga dapat memperkuat program pemuliaan, konservasi, serta pengelolaan sumber daya genetik ternak,” ungkapnya.

Didi optimistis, optimalisasi riset berbasis mtDNA, dapat memperkuat kemandirian Indonesia dalam mengelola, melestarikan, dan memanfaatkan sumber daya genetik ternak maupun satwa endemik secara berkelanjutan di masa depan.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait