
Kaum Muslimin pada bulan Ramadan diharapkan tidak menjadi pengusaha musiman

Salah satu perusahaan yang ikut dalam Muslim LifeFair 2023 mengadakan kuis kepada seorang pengunjung di sela-sela acara pameran ‘business to consumer’ Industri Islami di Indonesia tersebut pada Sabtu (18/3/2023) di Jakarta. (Indonesia Window)
Para pelaku UMKM yang sebagian dari mereka adalah para peserta acara Muslim LifeFair (Pameran Business to Consumer Industri Islami di Indonesia) ini harus dibantu agar mereka tidak lagi menjadi pengusaha musiman.
Jakarta (Indonesia Window) – Kaum Muslimin Indonesia diharapkan tidak selalu menjadi pengusaha musiman saat bulan Ramadan, ungkap Achmad Iqbal, Kepala Divisi Kemitraan & Percepatan Bisnis Syariah pada Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah, di Jakarta Jumat (17/3).“Masyarakat kita kalau mau buka puasa pada bulan Ramadan biasanya cari toko yang terdekat dari rumah mereka untuk membeli makanan dan minuman dari para pelaku usaha yang sebagian besar adalah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM),” kata Achmad Iqbal pada acara Muslim LifeFair yang berlangsung pada 17-19 Maret, 2023.Menurut Achmad, para pelaku UMKM yang sebagian dari mereka adalah para peserta acara Muslim LifeFair (Pameran Business to Consumer Industri Islami di Indonesia) ini harus dibantu agar mereka tidak lagi menjadi pengusaha musiman.Achmad menjelaskan, secara umum ada empat aspek yang menjadi masalah pelaku UMKM di Indonesia, yaitu masalah akses pasar, penguatan kualitas dan dan kuantitas produk dan kontinuitas produksi, legalitas dan pembiayaan.Tapi memang tidak mudah untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut, karenanya harus ada kerja sama bagi semua pihak, katanya seraya menambahkan, pemerintah tidak bisa kerja sendiri tapi harus bergabung dengan pelaku usaha besar, menengah, kecil dan mikro serta para pembina, pendamping dan perguruan tinggi.“Untuk membantu mereka, kita harus bersinergi dan berkolaborasi pada beberapa hal, yaitu antara lain kita harus menguatkan dari sisi sinergi penguatan kapasitas pelaku UMKM melalui pelatihan dan pendampingan,” tuturnya.“Kemudian harus ada sinergi dari sisi inklusi pembiayaan. Bagaimana kita membantu para pelaku UMKM dengan melakukan pendampingan dan mencarikan mitra kerja sama pembiayaan,” katanya.Menurut Achmad, sudah ada beberapa lembaga keuangan syariah yang melakukan penandatangan nota kesepahaman dengan pelaku UMKM pada Jumat (Maret 17) di sela-sela acara Muslim LifeFair.“Kita juga harus bersinergi dari sisi pemasaran, digitalisasi, termasuk sinergi kemitraan. Dan saat ini tinggal bagaimana mengoptimalkan pelayan digitalisasi,” katanya.Dia mengungkapkan, Knakes bersama beberapa kementerian dan lembagasudah melakukan beberapa inisiatif dari sisi pembiayaan dan pemasaran.“Saat ini kita sudah mendorong super funding syariah, di mana pelaku UMKM berkesempatan menerbitkan saham dan sukuk. Para investor juga sudah mulai tertarik dengan usaha-usaha kecil dan menengah,” dia menambahkan.Saat ini saja, per 2022, sudah ada 91 UMKM yang menerbitkan saham dan sukuk dengan nilai sekitar 185,69 miliar rupiah, ungkap Achmad.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Indonesia’s consumer price index inflation in February 2023 decreases
Indonesia
•
02 Mar 2023

Sharia cooperatives with professional management provide welfare for members
Indonesia
•
29 Oct 2023

Yogyakarta International Airport expected to serve 20 million passengers
Indonesia
•
28 Aug 2020

Saudi Minister: Hajj visa regulation under fatwa, violations make pilgrimage invalid
Indonesia
•
01 May 2024


Berita Terbaru

Interview - Advancing Water Resilience and Energy Transition Through Global Partnership
Indonesia
•
12 Jun 2026

UAE ambassador says his country reaches 1 bln people through global aid efforts
Indonesia
•
11 Jun 2026

Indonesia-UAE partnership built on empowerment, not aid, UAE ambassador says
Indonesia
•
11 Jun 2026

Why UAE ambassador believes Indonesian youth can shape the future
Indonesia
•
11 Jun 2026
