
China desak negara-negara terkait untuk sepenuhnya hormati fakta bahwa Hong Kong telah kembali ke pangkuan China

Foto yang diabadikan pada 22 Juni 2022 ini menunjukkan pemandangan di Pelabuhan Victoria di Hong Kong, China selatan. (Xinhua/Li Gang)
Kasus Julian Assange dan Edward Snowden menunjukkan kepada dunia bahwa apa yang disebut "kebebasan pers" hanyalah alat yang digunakan oleh beberapa negara untuk menyerang dan mencemarkan nama baik negara lain.
Beijing, China (Xinhua) – Juru Bicara (Jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) China Wang Wenbin pada Selasa (2/1) mendesak negara-negara terkait untuk sepenuhnya menghormati fakta bahwa Hong Kong telah kembali ke pangkuan China dan meninggalkan mentalitas kolonial mereka.Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wang dalam konferensi pers harian saat diminta mengomentari pernyataan mengenai Hong Kong yang belum lama ini dilontarkan oleh beberapa negara termasuk Inggris dan Amerika Serikat (AS) dengan mengatasnamakan ‘Koalisi Kebebasan Media’ (Media Freedom Coalition).Mengungkapkan bahwa hal ini merupakan pencemaran nama baik terhadap kebebasan pers di Hong Kong, serangan terhadap penegakan hukum yang sah Pemerintah Daerah Administratif Khusus (Special Administrative Region/SAR) Hong Kong, serta sebuah langkah untuk mendukung pihak-pihak yang anti-China dan terlibat dalam upaya mendestabilisasi Hong Kong, seperti Jimmy Lai, Wang mengatakan bahwa China menyesalkan dan dengan tegas menolak apa yang disebut sebagai pernyataan dari segelintir negara yang mengatasnamakan "Koalisi Kebebasan Media".Kasus Julian Assange dan Edward Snowden menunjukkan kepada dunia bahwa apa yang disebut "kebebasan pers" hanyalah alat yang digunakan oleh beberapa negara untuk menyerang dan mencemarkan nama baik negara lain, kata sang jubir."Negara-negara ini tidak terlalu peduli dengan kebebasan pers ketika kepentingan egois mereka sendiri yang terlibat. Mereka membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab tentang hal-hal mengenai Hong Kong atas nama kebebasan pers hanya karena mereka tidak senang Hong Kong makmur, dan mereka masih berharap dapat mempertahankan hak-hak istimewa dan pengaruh mereka di masa lalu di Hong Kong, namun tidak berhasil," lanjutnya.Dikatakan oleh Wang bahwa Hong Kong mematuhi supremasi hukum, dan semua hukum di Hong Kong harus ditaati, dan mereka yang melanggarnya harus dimintai pertanggungjawaban."Sejak undang-undang keamanan nasional diberlakukan di Hong Kong, Hong Kong telah memulihkan ketertiban dan siap untuk berkembang. Aturan hukum dan keadilan telah ditegakkan. Hak-hak dan kebebasan yang sah menurut hukum termasuk kebebasan pers dan kebebasan berbicara penduduk Hong Kong telah dilindungi dalam lingkungan yang aman dan stabil di bawah aturan hukum," ungkap Wang.Juru bicara itu menambahkan bahwa jumlah outlet media dan jurnalis internasional di Hong Kong telah meningkat dari sebelum undang-undang keamanan nasional diperkenalkan. "Ini adalah fakta yang tidak dapat disangkal oleh orang yang tidak bias," imbuhnya."Dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 100 negara angkat suara di forum-forum multilateral, termasuk komite ketiga Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations General Assembly/UNGA) dan Dewan Hak Asasi Manusia, untuk menyuarakan dukungan kepada China dalam berbagai cara terkait Hong Kong. Hal ini sepenuhnya menunjukkan bahwa dunia tidak buta terhadap kebenaran," tutur Wang."Setiap upaya untuk mencampuri urusan Hong Kong atas nama kebebasan pers pasti akan gagal," ujarnya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

AS-China sepakat bentuk kelompok kerja tingkatkan aksi iklim
Indonesia
•
14 Nov 2021

Xi dorong pekerja muda aviasi China tingkatkan pengembangan industri berkualitas
Indonesia
•
14 Nov 2022

5 negara bagian AS desak Elon Musk perbaiki chatbot X yang sebarkan hoaks tentang pemilu
Indonesia
•
09 Aug 2024

Netanyahu sebut Iran tak lagi mampu lakukan pengayaan uranium dan produksi rudal
Indonesia
•
20 Mar 2026


Berita Terbaru

Trump rencanakan perpanjangan blokade terhadap Iran
Indonesia
•
30 Apr 2026

Analisis – Akankah aliansi oposisi baru Israel ‘Together’ patahkan dominasi Netanyahu dalam politik Israel?
Indonesia
•
30 Apr 2026

Partai Demokrat ingin cegah Trump serang Kuba, Senat AS tak setuju
Indonesia
•
30 Apr 2026

Deplu AS akan terbitkan paspor dalam jumlah terbatas yang tampilkan potret Trump
Indonesia
•
30 Apr 2026
