
WHO: Risiko terinfeksi flu burung bagi manusia di Kamboja masih rendah

Sejumlah turis mengunjungi Angkor Wat di Taman Arkeologi Angkor di Provinsi Siem Reap, Kamboja, pada 17 Desember 2022. (Xinhua/Van Pov)
Kasus infeksi flu burung H5N1 pada manusia, yang pertama sejak 2014, terkonfirmasi di Kamboja pekan lalu, melibatkan seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang meninggal akibat virus itu pada 22 Februari.
Phnom Penh, Kamboja (Xinhua) – Risiko terinfeksi flu burung tipe A (H5N1) bagi masyarakat umum di Kamboja masih rendah meskipun dua kasus virus tersebut terdeteksi pada manusia baru-baru ini, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam pernyataannya pada Ahad (26/2) malam waktu setempat.Pekan lalu, negara Asia Tenggara itu mengonfirmasi dua kasus infeksi flu burung H5N1 pada manusia, yang pertama sejak 2014, menurut pernyataan itu.Disebutkan pula bahwa kasus yang pertama melibatkan seorang anak perempuan berusia 11 tahun dari Provinsi Prey Veng di Kamboja tenggara yang meninggal akibat virus itu pada 22 Februari, dan ayahnya yang berusia 49 tahun dinyatakan positif terinfeksi virus itu sehari setelahnya dan saat ini sedang menjalani isolasi di Rumah Sakit Rujukan Provinsi Prey Veng.Sebelas orang lainnya, yang melakukan kontak dekat dengan anak perempuan yang meninggal tersebut, dinyatakan negatif virus H5N1, sebut pernyataan itu.Hampir semua kasus infeksi H5N1 pada manusia dikaitkan dengan kontak dekat dengan unggas hidup atau mati yang terinfeksi, atau lingkungan yang terkontaminasi virus H5N1, imbuhnya."Berdasarkan bukti sejauh ini, virus itu tidak mudah menjangkiti manusia dan penularan dari orang ke orang tampaknya merupakan hal yang tidak biasa," papar pernyataan itu. "Berdasarkan informasi yang tersedia sejauh ini, WHO menilai risiko bagi populasi umum yang ditimbulkan oleh virus ini rendah."Perwakilan WHO untuk Kamboja Li Ailan memuji negara kerajaan itu atas respons cepatnya terhadap wabah H5N1."Ini adalah dua kasus pertama H5N1 pada manusia yang dilaporkan dari Kamboja sejak 2014," katanya. "Pendeteksian dini dan respons cepat tetap penting untuk menjaga keamanan negara dan dunia."Menurut kementerian kesehatan negara itu, sejak 2005 hingga saat ini, terdapat 58 kasus manusia yang terinfeksi di negara kerajaan itu dan 38 orang telah meninggal dunia.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Lebih dari 1.500 orang tewas akibat gempa Turkiye dan Suriah
Indonesia
•
06 Feb 2023

Syeikh Ali Hammuda dari Inggris serukan Muslim Indonesia untuk sebarkan kebaikan
Indonesia
•
12 Jan 2025

Pakar serukan kerja sama kesehatan global untuk atasi risiko dan tantangan kesehatan
Indonesia
•
17 Jul 2024

Orange County di AS deklarasikan darurat kesehatan akibat lonjakan kasus RSV
Indonesia
•
02 Nov 2022


Berita Terbaru

IOC bakal beri hibah Rp179 juta untuk setiap atlet Olimpiade, ini syaratnya
Indonesia
•
26 Jun 2026

Obesitas kini jadi 'musuh nomor satu' kesehatan Australia, hampir sepertiga orang dewasa terdampak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Museum Tekstil Jakarta rayakan hari jadi ke-50 dengan pameran Wastra Tradisional Klasik
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Tren makanan kukus dan rebus meningkat di Jakarta, warga urban mulai tinggalkan gorengan
Indonesia
•
23 Jun 2026
