Ilmuwan China identifikasi evolusi virus flu burung H5N1

Ilustrasi. Virus H5N1 bertanggung jawab atas hilangnya lebih dari 70 juta unggas domestik di Eropa, Afrika, Asia dan Amerika Utara sejak Oktober 2020. (iStock by Getty Images)

Virus H5N1 yang beredar saat ini muncul di Belanda pada Oktober 2020 sebagai rekombinasi dari virus flu burung H5N8 dengan subtipe seperti H1N1 dan H3N8.

 

Jakarta (Indonesia Window) – Sebuah tim peneliti China telah secara sistematis mengidentifikasi asal usul, evolusi dan penyebaran virus H5N1, yang telah menyebabkan wabah flu burung di seluruh dunia.

Penelitian yang dilakukan oleh Harbin Veterinary Research Institute di bawah Chinese Academy of Agricultural Sciences tersebut, diterbitkan baru-baru ini dalam jurnal Emerging Microbes & Infections.

Studi tersebut menemukan bahwa virus H5N1 yang beredar saat ini muncul di Belanda pada Oktober 2020 sebagai evolusi dari virus flu burung H5N8 dengan subtipe seperti H1N1 dan H3N8.

Virus H5N1 bertanggung jawab atas hilangnya lebih dari 70 juta unggas domestik di Eropa, Afrika, Asia dan Amerika Utara sejak Oktober 2020, kata Chen Hualan dari Harbin Veterinary Research Institute, yang memimpin tim peneliti.

evolusi virus flu burung
Ilustrasi. WHO menyarankan agar para pelancong yang pergi ke negara-negara dengan wabah influenza hewan yang diketahui, harus menghindari peternakan, kontak dengan hewan di pasar hewan hidup, memasuki area di mana hewan dapat disembelih, atau kontak dengan permukaan yang tampaknya terkontaminasi dengan kotoran hewan. (Artem Beliaikin on Unsplash)

Para peneliti melakukan analisis filogenik terperinci dari 233 perwakilan strain H5N1 yang diisolasi dari 28 negara, dan menemukan bahwa virus tersebut telah mengalami pertukaran gen yang rumit dengan virus berbeda yang beredar pada burung liar dan membentuk 16 genotipe sejak kemunculannya.

Filogeni merupakan gambaran klasifikasi yang menunjukkan hubungan kekerabatan suatu spesies dengan nenek moyang dan hubungan evolusioner antara organisme.

Kasus H5N1

Sejak tahun 2003 hingga 31 Maret 2022, total 864 kasus dan 456 kematian akibat infeksi influenza A (H5N1) pada manusia telah dilaporkan di seluruh dunia dari 18 negara, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Setiap kali virus flu burung beredar di unggas, ada risiko infeksi sporadis dan kelompok kecil kasus pada manusia karena terpapar unggas yang terinfeksi atau lingkungan yang terkontaminasi. 

WHO menyebutkan, tidak ada vaksin khusus untuk mencegah influenza A (H5N1) pada manusia. Kandidat vaksin untuk mencegah infeksi virus influenza A (H5) pada manusia telah dikembangkan untuk tujuan kesiapsiagaan pandemik. 

Analisis yang cermat dari situasi epidemiologis, karakterisasi lebih lanjut dari virus terbaru (manusia dan unggas) dan investigasi serologis sangat penting untuk menilai risiko terkait dan untuk menyesuaikan langkah-langkah manajemen risiko pada waktu yang tepat.

WHO menyarankan agar para pelancong yang pergi ke negara-negara dengan wabah influenza hewan yang diketahui, harus menghindari peternakan, kontak dengan hewan di pasar hewan hidup, memasuki area di mana hewan dapat disembelih, atau kontak dengan permukaan yang tampaknya terkontaminasi dengan kotoran hewan. 

Wisatawan juga harus sering mencuci tangan dengan sabun dan air, serta mematuhi pedoman keamanan pangan dan praktik kebersihan makanan yang baik. 

Jika individu yang terinfeksi dari daerah yang terkena dampak bepergian ke luar negeri, maka infeksi mereka dapat terdeteksi di negara lain selama perjalanan atau setelah kedatangan. Jika ini terjadi, penyebaran lebih lanjut di tingkat komunitas dianggap tidak mungkin karena virus ini belum memiliki kemampuan untuk menular dengan mudah di antara manusia.

Sumber: Xinhua; WHO

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Iklan