
Kapal pengolah sampah jadi solusi di kawasan pesisir dan pulau kecil

Konsep kapal pengolah sampah sebagai solusi pengelolaan sampah terpadu di kawasan pesisir dan pulau kecil, yang disampaikan oleh periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Daud Saputra Amare Sianturi, pada Kelas Periset edisi ke-15, Rabu (15/4/2026). (BRIN)
Kapal pengolah sampah lebih fleksibel dan adaptif terhadap kondisi wilayah kepulauan, serta dapat mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan sampah ke daratan utama.
Bogor, Jawa Barat (Indonesia Window) – Persoalan sampah di wilayah kepulauan, seperti Kepulauan Seribu – sebelah utara pesisir Jakarta, di perairan Laut Jawa –memiliki kompleksitas tinggi karena sumber sampah berasal dari aktivitas domestik, sektor pariwisata, hingga sampah kiriman (marine debris) dari daratan.
Guna mengatasi masalah lingkungan itu, periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Daud Saputra Amare Sianturi, memaparkan pengembangan kapal pengolah sampah sebagai solusi pengelolaan sampah terpadu di kawasan pesisir dan pulau kecil.
“Ada tiga sumber sampah di Kepulauan Seribu, yaitu dari domestik, pariwisata, dan kiriman atau marine debris. Dengan keterbatasan lahan, penggunaan teknologi pengolahan sampah konvensional menjadi isu yang sangat riskan,” jelas Daud, pada Kelas Periset edisi ke-15, Rabu (15/4), dikutip dari situs jejaring BRIN, pada Senin.
Menurutnya, berbagai solusi konvensional seperti insinerator maupun sistem pengelolaan berbasis darat belum mampu menjawab permasalahan tersebut secara menyeluruh. Selain keterbatasan ruang, faktor penerimaan masyarakat dan tingginya biaya operasional juga menjadi tantangan utama.
“Banyak masyarakat menolak karena khawatir terhadap dampak pengolahan sampah di darat, seperti bau atau potensi penyakit,” ungkapnya.
Sebagai alternatif, BRIN mengembangkan konsep kapal pengolah sampah yang mampu mengolah sampah langsung di lokasi tanpa membutuhkan lahan tambahan di daratan. Teknologi ini dinilai lebih fleksibel dan adaptif terhadap kondisi wilayah kepulauan, serta dapat mengurangi ketergantungan pada sistem pengangkutan sampah ke daratan utama.
“Kapal ini tidak membutuhkan lahan darat karena proses pengolahan dilakukan di atas air. Selain itu, memiliki fleksibilitas dalam menghadapi kondisi cuaca dan dapat berpindah lokasi. Residu yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan sehingga memiliki nilai ekonomis,” paparnya.
Lebih lanjut, hasil penelitiannya menunjukkan inovasi ini tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga berpotensi menciptakan nilai ekonomi. Pengolahan sampah secara lokal dapat menekan biaya logistik, membuka peluang kerja baru bagi masyarakat, serta mendorong terbentuknya ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah.
Dari sisi sosial, tingkat penerimaan masyarakat terhadap inovasi ini tergolong tinggi, dengan beberapa prasyarat penting. Di antaranya, perlunya edukasi yang komprehensif sebelum implementasi, jaminan bahwa operasional teknologi tidak mengganggu aktivitas masyarakat, serta integrasi dengan sistem pengelolaan sampah yang sudah berjalan.
“Penerimaan masyarakat menjadi faktor kunci. Inovasi teknologi harus hadir sebagai solusi yang melengkapi, bukan menggantikan secara sepihak sistem yang sudah ada,” tegas Daud.
Selain itu, inovasi kapal pengolah sampah ini juga berkontribusi terhadap upaya mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dan pengendalian pencemaran di ekosistem pesisir. Dengan pendekatan terpadu, teknologi ini diharapkan mampu mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah kepulauan.
Ke depan, BRIN mendorong kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat implementasi teknologi ini, baik dengan pemerintah daerah, pelaku industri, maupun masyarakat. Dengan dukungan yang tepat, kapal pengolah sampah berpotensi menjadi model solusi pengelolaan sampah bagi wilayah pesisir dan pulau kecil di Indonesia.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Cekungan Sungai Haihe di China dilanda banjir terparah sejak 1963
Indonesia
•
06 Aug 2023

LAPAN akan bangun bandar antariksa kecil di Biak, Papua
Indonesia
•
08 Nov 2019

China telah bangun lebih dari 1,3 juta stasiun pemancar 5G
Indonesia
•
21 Dec 2021

Obesitas dan alkohol jadi pemicu utama risiko kanker payudara pada wanita seiring bertambahnya usia
Indonesia
•
30 Mar 2026


Berita Terbaru

Ilmuwan peringatkan karhutla bisa rusak permanen permafrost Bumi
Indonesia
•
13 Jun 2026

Makhluk laut ini menyerap karbon seperti hutan Amazon, rahasianya baru terungkap
Indonesia
•
12 Jun 2026

Mengapa es Antarktika mencair lebih cepat? Ilmuwan akhirnya punya jawabannya
Indonesia
•
11 Jun 2026

Feature – Teknologi canggih dukung upaya konservasi panda di China
Indonesia
•
11 Jun 2026
