
Guangzhou di China alami musim panas terpanjang sejak 1961

Foto dari udara yang diabadikan dengan 'drone' pada 12 Maret 2024 ini menunjukkan pemandangan kota saat matahari terbenam di Guangzhou, Provinsi Guangdong, China selatan. (Xinhua/Liu Dawei)
Jumlah hari musim panas di Kota Guangzhou di China selatan mencapai 235, rekor tertinggi sejak pencatatan meteorologi dimulai pada 1961.
Guangzhou, China (Xinhua/Indonesia Window) – Kota Guangzhou di China selatan mencatat rata-rata suhu 23,3 derajat Celsius pada Rabu (13/11), sehingga jumlah hari musim panas di kota itu mencapai 235, rekor tertinggi sejak pencatatan meteorologi dimulai pada 1961.Angka ini melampaui rekor sebelumnya yang dicapai pada 1994, ketika Guangzhou mencatat 234 hari musim panas, menurut biro meteorologi kota itu.Berdasarkan standar yang relevan, Guangzhou memasuki musim panas pada 23 Maret tahun ini.Ai Hui, insinyur senior di pusat meteorologi pertanian dan iklim Guangzhou, mengatakan bahwa penyebab utama terjadinya musim panas yang lebih panjang tahun ini adalah melemahnya sistem tekanan Siberian High dari Oktober hingga 11 November, yang mengakibatkan pengaruh udara dingin yang lebih lemah dan lebih sedikit di Guangzhou.Sistem tekanan subtropis Pasifik Barat yang tetap kuat memicu rata-rata suhu 24,9 derajat Celsius di seluruh kota, 1,2 derajat Celsius lebih tinggi dari rata-rata untuk periode yang sama, menduduki peringkat tertinggi kedua dalam sejarah, kata Ai.Para ahli meteorologi mengatakan bahwa di tengah pemanasan global, Guangzhou telah menunjukkan tren kenaikan suhu yang signifikan, dengan periode musim panas menjadi lebih panjang. Ada pula kemungkinan bahwa kasus cuaca ekstrem akan lebih sering terjadi dan lebih intens.Tahun 2024 kemungkinan akan menjadi tahun terhangat yang pernah tercatat setelah rentetan rata-rata suhu global bulanan yang sangat tinggi, menurut laporan dari Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization/WMO) yang dirilis sebelumnya pada pekan ini dalam sesi ke-29 Konferensi Para Pihak Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) atau COP29.Rata-rata suhu udara permukaan global pada periode Januari-September adalah 1,54 derajat Celsius di atas rata-rata praindustri, yang didorong oleh peristiwa El Nino yang membuat suhu menjadi lebih hangat, menurut analisis terhadap enam kumpulan data (dataset) internasional yang digunakan oleh WMO.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Pasien wanita bersih dari HIV setelah pengobatan transplantasi sel induk baru
Indonesia
•
16 Feb 2022

Studi terbaru buktikan lapisan ozon Antartika memulih
Indonesia
•
12 Mar 2025

Ketika keajaiban kuantum dapat terlihat oleh mata: Sains di balik penghargaan Nobel Fisika 2025
Indonesia
•
08 Oct 2025

Dua ilmuwan raih Penghargaan Nobel Fisika atas temuan yang pelopori pembelajaran mesin
Indonesia
•
10 Oct 2024


Berita Terbaru

Feature – Tambang hijau China olah limbah material pengotor batu bara
Indonesia
•
02 Apr 2026

Jepang temukan bahan kimia industri beracun lampaui ambang batas di 629 lokasi pemantauan air
Indonesia
•
30 Mar 2026

Jepang kembali batalkan uji terbang perdana kendaraan eksperimental roket ‘reusable’ akibat malafungsi
Indonesia
•
30 Mar 2026

Mengisap vape berpotensi picu kanker
Indonesia
•
31 Mar 2026
