
Kondisi iklim purba beri petunjuk tentang perubahan pola musim hujan Asia Selatan di masa depan

Foto dari udara yang diabadikan menggunakan 'drone' pada 11 November 2024 ini memperlihatkan pemandangan lautan awan di atas wilayah Medog, Daerah Otonom Xizang, China barat daya. (Xinhua/Purbu Tsering)
Curah hujan monsun cenderung meningkat secara keseluruhan, sementara sirkulasi melemah di Teluk Benggala namun menguat di Laut Arab bagian utara.
Beijing, China (Xinhua/Indonesia Window) – Bagaimana pergerakan monsun musim panas Asia Selatan, yang mendatangkan sekitar 80 persen curah hujan tahunan di kawasan ini, akan berubah di tengah situasi pemanasan global?Model-model iklim memproyeksikan adanya peningkatan curah hujan, namun secara paradoksal sirkulasi atmosfer lebih lemah, sebuah fenomena yang telah lama membingungkan para ilmuwan. Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal Nature mengangkat periode hangat purba Bumi untuk membantu menjelaskan bagaimana pola monsun dapat berevolusi.Penelitian yang dipimpin oleh tim ilmuwan dari Institute of Atmospheric Physics (IAP) di bawah naungan Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) ini menganalisis enam skenario iklim, mulai dari zaman pertengahan Pliosen, yang terjadi 3,3 juta hingga 3 juta tahun yang lalu, hingga proyeksi emisi tinggi pada tahun 2071 hingga 2100 mendatang.Dengan mengintegrasikan simulasi iklim multimodel dengan catatan geologi, tim tersebut menemukan tren yang konsisten, yakni curah hujan monsun cenderung meningkat secara keseluruhan, sementara sirkulasi melemah di Teluk Benggala namun menguat di Laut Arab bagian utara.Yang terpenting, penelitian ini menghubungkan masa lalu dan masa depan dengan menunjukkan bahwa mekanisme ini beroperasi secara serupa di seluruh interval iklim hangat, yang berbeda terutama dalam skala waktu. Hal ini memungkinkan para peneliti untuk membangun model berbasis fisika yang secara akurat dapat memproyeksikan pola musim hujan di masa depan."Temuan kami menggarisbawahi nilai dari data paleoklimatologi dalam menyempurnakan proyeksi salah satu sistem iklim yang paling penting di Bumi, dengan implikasi yang mendalam untuk keamanan sumber daya air dan perencanaan adaptasi iklim di Asia Selatan," ujar Zhou Tianjun, seorang profesor di IAP.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Vitamin D berkaitan dengan 15 persen penurunan risiko diabetes tipe 2
Indonesia
•
14 Feb 2023

Situs pengamatan Lenghu di Qinghai tanda tangani proyek teleskop astronomis baru
Indonesia
•
31 Jul 2023

Wahana Mars China dan Eropa pelajari atmosfer di dekat matahari
Indonesia
•
17 Jan 2023

Penelitian ungkap Dataran Tinggi Qinghai-Xizang jadi kawasan penyerap karbon yang sangat penting
Indonesia
•
20 Aug 2024


Berita Terbaru

Superkomputer China LineShine puncaki TOP500, jadi yang pertama tembus 2 EFLOPS
Indonesia
•
26 Jun 2026

Terobosan AI medis! Teknologi ini bisa membantu mendeteksi skizofrenia lewat gelombang otak
Indonesia
•
25 Jun 2026

Masayoshi Son: SoftBank fokus pada AI, cip, infrastruktur, dan robotik untuk percepat ekspansi
Indonesia
•
25 Jun 2026

Feature – Hampir 40 tahun jelajahi hutan, profesor BRIN temukan tiga spesies baru kantong semar, selamatkan Nepenthes Indonesia
Indonesia
•
25 Jun 2026
