
Presiden sesi ke-78 UNGA serukan gencatan senjata di Gaza

Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations General Assembly (UNGA) Dennis Francis berpidato dalam rapat pleno UNGA tentang penggunaan hak veto di Dewan Keamanan di markas besar PBB di New York City pada 4 Maret 2024. (Xinhua/UN Photo/Evan Schneider)
Jika dunia tetap pada jalurnya saat ini, jutaan orang akan menghadapi kemiskinan dan kelaparan pada 2030, dan kita masih jauh dari jalur untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada 2030.
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations General Assembly (UNGA) mengakhiri sesi ke-78-nya pada Selasa (10/9), dengan presiden yang segera berganti itu menyerukan gencatan senjata di Gaza dan mendesak negara-negara anggota PBB untuk berkomitmen kembali dalam mengakhiri kemiskinan dan kelaparan, serta memerangi ketidaksetaraan."Tidaklah berlebihan jika mengatakan bahwa besarnya penderitaan manusia akibat ulah manusia yang kita saksikan di seluruh dunia sungguh mengejutkan," ujar Presiden Sesi ke-78 UNGA Dennis Francis, yang juga perwakilan tetap Trinidad dan Tobago di PBB, dalam rapat pleno ke-109 sesi tersebut.Seraya mengingatkan soal tema sesi itu, yakni "Membangun Kembali Kepercayaan dan Mengobarkan Solidaritas Global: Mempercepat Aksi Mewujudkan Agenda 2030 dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan menuju Perdamaian, Kemakmuran, Kemajuan, dan Keberlanjutan untuk Semua," Dennis Francis menyerukan kepada PBB agar memenuhi mandatnya untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional di tengah maraknya konflik di Ukraina, Haiti, Timur Tengah, dan Afrika.Mengenai situasi di Gaza, Francis mengulangi seruannya untuk pencapaian gencatan senjata dan pembebasan semua sandera yang tersisa dengan segera dan tanpa syarat. "Dengan tulus saya berharap upaya yang sedang berlangsung akan menghasilkan gencatan senjata, meskipun jika hanya sementara, dan semoga upaya ini dapat mengarah pada proses politik untuk mencapai perdamaian yang langgeng demi kepentingan rakyat di wilayah tersebut," tuturnya.Francis memperingatkan bahwa jika dunia tetap pada jalurnya saat ini, jutaan orang akan menghadapi kemiskinan dan kelaparan pada 2030, dan kita masih jauh dari jalur untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan pada 2030."Menggarisbawahi bahwa dunia sedang mengalami transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang didorong oleh revolusi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), teknologi digital, dan inovasi ilmiah, Francis mengatakan bahwa "manfaatnya tidak bisa hanya dinikmati oleh segelintir orang yang diuntungkan."Francis juga memperingatkan bahwa jika dunia tidak mencapai target 1,5 derajat Celsius yang tercantum dalam Perjanjian Paris (Paris Agreement), jutaan orang yang berada dalam situasi rentan akan mengalami dampak yang sangat buruk, dan naiknya permukaan air laut mengancam akan merendam negara-negara berkembang yang berbentuk kepulauan kecil dan masyarakat pesisir di dataran rendah.Meskipun berbagai tantangan yang dihadapi dunia mungkin kompleks, masyarakat internasional masih mampu mengatasi tantangan tersebut, ujar Francis. "Alat yang paling kuat dan efektif adalah sistem multilateral.""Kita menutup sesi ke-78 UNGA ini setelah melewati tahun yang penuh gejolak," ujar Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres pada awal rapat pleno tersebut. Tahun ini merupakan "tahun yang penuh gejolak" yang ditandai dengan berlanjutnya kemiskinan, ketidaksetaraan, dan ketidakadilan, ditambah dengan perpecahan, kekerasan, dan konflik, serta tahun yang "mencatatkan suhu terpanas dalam sejarah," katanya.Ada harapan dan inspirasi yang terus berkembang "terkait apa yang dapat kita capai jika kita bekerja sebagai satu kesatuan," ujar Guterres, merujuk pada semangat solidaritas yang menjadi ciri pencapaian-pencapaian UNGA.Guterres memuji "keterampilan, kepengurusan, dan dedikasi yang sempurna" dari Francis serta menyoroti pencapaiannya sebagai presiden UNGA."PBB, dan sistem multilateral itu sendiri, hanya efektif sesuai komitmen negara-negara anggotanya terhadap sistem tersebut," tegas sekjen PBB itu.Philemon Yang dari Kamerun, presiden terpilih untuk sesi ke-79 UNGA, mengambil sumpah jabatan sebelum Francis menutup sesi ke-78. Sesi ke-79 dijadwalkan dibuka pada Selasa sore harinya.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Demonstran di Washington kecam peran AS sebagai "mesin perang"
Indonesia
•
21 Feb 2023

Komisaris HAM PBB peringatkan potensi "mengerikan" serangan militer Israel ke Rafah
Indonesia
•
13 Feb 2024

AS-Mesir tandatangani 7 kesepakatan hibah senilai 125 juta dolar AS
Indonesia
•
03 Nov 2021

Sekutu di udara: Jet Saudi mengawal pembom AS
Indonesia
•
01 Nov 2021


Berita Terbaru

Komisi PBB: Israel lakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Palestina
Indonesia
•
28 Oct 2026

Ukraina dan Rusia mulai gencatan senjata kemanusiaan di Oleshky
Indonesia
•
28 Oct 2026

Serangan udara Arab Saudi hantam Sanaa saat Houthi klaim lancarkan serangan ke Riyadh
Indonesia
•
26 Oct 2026

Jepang tanggapi serius kebakaran besar 530.000 hektare di Mongolia yang terkait kegiatan Mobicom
Indonesia
•
27 Oct 2026
