
Empat tahun menuju 2030, PBB sebut hanya 36 persen target SDG yang masih sesuai jalur

Pengungsi anak-anak Palestina terlihat sedang mengambil air di tempat penampungan sementara di Deir al-Balah, Jalur Gaza tengah, pada 23 September 2025. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
PBB (Xinhua/Indonesia Window) – Dengan empat tahun tersisa, hanya 36 persen dari target yang dapat dievaluasi dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDG) berada di jalur yang tepat, dengan hampir setengahnya mengalami stagnasi dan 15 persen mengalami kemunduran, ungkap sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Selasa (7/7).
Sejak Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan diadopsi pada 2015, investasi berkelanjutan, kebijakan yang tepat dan kerja sama internasional telah meningkatkan kehidupan miliaran orang di seluruh dunia dengan peningkatan yang terukur di seluruh SDG, demikian menurut Laporan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (The Sustainable Development Goals Report) 2026.
Hampir 1 miliar orang memiliki akses ke air minum yang dikelola secara aman, dan 1,2 miliar orang memiliki akses ke sanitasi yang dikelola secara aman.
Infeksi baru HIV turun 30 persen antara 2015 hingga 2024, dan kematian terkait AIDS turun 35 persen.
Listrik kini menjangkau 92 persen populasi dunia. Akses internet telah meningkat dari 40 persen menjadi 74 persen.
Perlindungan sosial mencakup lebih dari setengah populasi global untuk pertama kalinya dalam sejarah, sebut laporan itu.
"Dengan berpedoman pada data dalam laporan ini, visi kita dalam Agenda 2030 tetap berada dalam jangkauan," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Antonio Guterres dalam laporan tersebut. "Bersama-sama, marilah kita melakukan dorongan penentu terakhir untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dan membangun masa depan yang sehat dan sejahtera bagi semua."
Meskipun ada kemajuan, tantangan besar tetap ada, tunjuk laporan itu.
Satu dari 10 orang masih hidup dalam kemiskinan ekstrem.
Sekitar 2,3 miliar orang menghadapi kerawanan pangan sedang atau parah.
Lebih dari 150 juta anak masih mengalami gangguan tumbuh kembang (stunting).
Angka kematian ibu hampir tiga kali lipat dari target global. Jumlah orang yang terdampak bencana terkait iklim telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2015, papar laporan tersebut.
Eskalasi konflik, perubahan iklim, perlambatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan utang, dan penurunan bantuan pembangunan resmi yang mencapai rekor terendah memperparah kemunduran tersebut dan memberikan dampak yang tidak proporsional terhadap orang-orang yang paling rentan di dunia, tambah laporan itu.
Dalam konferensi pers saat laporan tersebut dirilis, Wakil Sekjen PBB Amina Mohammed mengatakan bahwa SDG jelas dan kuat.
"Jika didukung iktikad politik dan sumber daya, SDG benar-benar memberikan hasil," ujarnya, seraya memperingatkan soal krisis yang semakin memburuk dalam hal sarana implementasi.
Amina Mohammed menyerukan tiga komitmen, yakni memajukan kesetaraan gender sebagai pendukung setiap tujuan, mempercepat transisi ke energi terbarukan, dan memprioritaskan perdamaian dengan berinvestasi pada instrumen pembangunan alih-alih pengeluaran militer yang terus dinaikkan.
"Tidak satu pun dari tantangan utama yang ada saat ini dapat diselesaikan oleh negara-negara yang bertindak sendiri. Bukti yang disajikan dalam laporan ini memperjelas satu hal: Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tetap dapat dicapai jika kita memilih untuk bertindak bersama dengan urgensi, skala, solidaritas, dan tekad yang lebih besar," kata Mohammed. "Namun, pilihan itu harus dibuat sekarang. Pilihan itu harus dibuat dalam empat tahun yang tersisa untuk melakukan dorongan akhir yang menentukan guna mengubah arah yang sedang kita tempuh saat ini."
Li Junhua, under-secretary-general PBB untuk urusan ekonomi dan sosial, mengatakan Agenda 2030 mengakui bahwa pembangunan berkelanjutan merupakan upaya bersama, bukan permainan menang-kalah (zero-sum game).
Tonggak penting baru-baru ini, seperti perlindungan hukum di laut lepas atau peningkatan kapasitas pembangkit listrik energi terbarukan di negara-negara berkembang, membuktikan bahwa tindakan ambisius dan terkoordinasi membuahkan hasil, kata Li dalam laporan tersebut.
"Empat tahun ke depan akan menguji momentum kita. Pilihan yang kita buat saat ini terkait pembiayaan, kerja sama global, dan manajemen krisis kolektif akan bergema selama beberapa generasi," ujarnya. "Bukti dalam laporan ini membuktikan bahwa tujuan yang kita tetapkan pada 2015 tidak pernah di luar jangkauan kita. Kita saat ini harus menghimpun tekad untuk menyelesaikan apa yang telah kita mulai."
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Sejumlah tokoh Amerika Latin sebut kendali Panama atas Terusan Panama tidak dapat diganggu gugat
Indonesia
•
09 Jan 2025

NATO desak Rusia hormati perjanjian nuklir dengan AS
Indonesia
•
04 Feb 2023

OPEC+ setuju tingkatkan produksi minyak lebih dari yang diharapkan
Indonesia
•
02 Jun 2022

COVID-19 – Pfizer jual obat patennya untuk negara berpenghasilan rendah
Indonesia
•
26 May 2022


Berita Terbaru

AS cabut izin penjualan minyak Iran, sanksi kembali diperketat usai serangan di Selat Hormuz
Indonesia
•
08 Jul 2026

10 hari gencatan senjata di Lebanon, 65 tewas dalam 230 pelanggaran oleh Israel
Indonesia
•
08 Jul 2026

Tekanan AS meningkat, NATO andalkan dana swasta Rp3.903 triliun untuk perkuat militer
Indonesia
•
08 Jul 2026

Qatar, UEA dan Sekjen GCC kecam serangan Iran terhadap kapal tanker Qatar di Selat Hormuz
Indonesia
•
08 Jul 2026
