
Tekanan AS meningkat, NATO andalkan dana swasta Rp3.903 triliun untuk perkuat militer

Foto yang diabadikan pada 11 Oktober 2023 ini memperlihatkan markas besar NATO di Brussel, Belgia. (Xinhua/Zhao Dingzhe)
Ankara, Turkiye (Xinhua/Indonesia Window) – NATO pada Selasa (7/7) di Ankara, Turkiye, meluncurkan sebuah inisiatif baru yang bertujuan menyalurkan modal swasta ke sektor pertahanan dan keamanannya, seiring upaya aliansi tersebut untuk melengkapi anggaran negara yang kian terbebani dengan pendanaan komersial di tengah meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat (AS) agar negara-negara anggota menaikkan target belanja pertahanan.
Inisiatif yang diberi nama ‘Call to Action’ tersebut diumumkan dalam Forum Industri Pertahanan (Defense Industry Forum) NATO pertama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) NATO di Ankara.
Inisiatif ini mendesak lembaga-lembaga keuangan komersial untuk meningkatkan pinjaman serta investasi ekuitas di bidang produksi militer dan keamanan.
Berbicara dalam forum tersebut, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mengatakan permintaan terhadap kapabilitas militer terus meningkat.
Menurutnya, aliansi tersebut membutuhkan lebih banyak modal untuk meningkatkan skala industri pertahanan serta mendanai inovasi.
Rutte menyatakan bahwa meskipun pendanaan swasta untuk sektor tersebut meningkat, jumlahnya "masih jauh dari memadai."
Dorongan tersebut mencerminkan upaya NATO yang lebih luas untuk mengalihkan lebih banyak beban pembiayaan produksi militer ke pasar komersial melalui model investasi bersama antara sektor publik dan swasta, imbuhnya.
Menurut inisiatif tersebut, sekutu-sekutu NATO diharapkan memfasilitasi mekanisme pembiayaan domestik untuk mendukung transisi tersebut. Lembaga-lembaga keuangan besar di Barat, termasuk Barclays, Citi, dan Deutsche Bank, turut berpartisipasi dalam kerangka kerja tersebut.
Lembaga-lembaga keuangan terkait telah menghimpun dana sebesar 217 miliar dolar AS untuk investasi yang berkaitan dengan sektor keamanan, ungkap NATO.
*1 dolar AS = 17.988 rupiah
Dorongan untuk meningkatkan pendanaan dari sektor swasta itu muncul ketika NATO berupaya membangun kembali persediaan militernya dan menggenjot produksi persenjataan di tengah meningkatnya tekanan dari AS, yang ingin agar negara-negara anggota menaikkan target belanja pertahanan dari 2 persen menjadi 5 persen produk domestik bruto (PDB).
Di tengah keterbatasan anggaran yang dihadapi negara-negara Eropa, NATO semakin mengandalkan pasar komersial untuk mendanai ekspansi militernya.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Persatuan Jurnalis Rusia anugerahkan penghargaan kepada Julian Assange
Indonesia
•
09 Sep 2020

Arab Saudi negara G20 teraman
Indonesia
•
03 Dec 2020

Kanselir Jerman: NATO tak boleh jadi bagian dari konflik Rusia-Ukraina
Indonesia
•
09 Feb 2023

Hamas: Israel hanya akan dapatkan kembali sandera melalui pertukaran tahanan
Indonesia
•
04 Mar 2025


Berita Terbaru

AS cabut izin penjualan minyak Iran, sanksi kembali diperketat usai serangan di Selat Hormuz
Indonesia
•
08 Jul 2026

10 hari gencatan senjata di Lebanon, 65 tewas dalam 230 pelanggaran oleh Israel
Indonesia
•
08 Jul 2026

Empat tahun menuju 2030, PBB sebut hanya 36 persen target SDG yang masih sesuai jalur
Indonesia
•
08 Jul 2026

Qatar, UEA dan Sekjen GCC kecam serangan Iran terhadap kapal tanker Qatar di Selat Hormuz
Indonesia
•
08 Jul 2026
