
Ilmuwan China peroleh data kontinu lapisan troposfer di atas Dataran Tinggi Qinghai-Xizang

Foto yang diabadikan pada 23 Mei 2024 ini menunjukkan pemandangan Gunung Qomolangma saat matahari terbenam di Daerah Otonom Xizang, China barat daya. (Xinhua/Ding Ting)
Jaringan radiometer gelombang mikro dapat secara tepat mengukur suhu dan kelembapan lapisan troposfer dataran tinggi, serta memantau perubahan struktur hidrotermal lapisan troposfer dataran tinggi tersebut.
Beijing, China (Xinhua) – Para ilmuwan China baru-baru ini memperoleh data pengamatan kontinu mengenai lapisan troposfer di atas Dataran Tinggi Qinghai-Xizang untuk pertama kalinya.Studi tersebut dilakukan oleh sebuah tim peneliti dari Institut Penelitian Dataran Tinggi Tibet (Institute of Tibetan Plateau Research/ITP) di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China (Chinese Academy of Sciences/CAS) dan telah memperoleh data pengamatan selama tiga tahun berturut-turut di atas dataran tinggi tersebut, menurut ITP.Pada 2021 lalu, China membangun sebuah jaringan radiometer gelombang mikro (microwave radiometer/MWR) berbasis darat untuk lapisan troposfer di atas Dataran Tinggi Qinghai-Xizang dengan tujuan melakukan pengamatan tanpa pengawasan secara waktu nyata (real-time) dan nonstop dalam hampir semua kondisi cuaca. Data pengamatan tersebut kini telah dibuka untuk publik.Jaringan MWR dapat secara tepat mengukur suhu dan kelembapan lapisan troposfer dataran tinggi, serta memantau perubahan struktur hidrotermal lapisan troposfer dataran tinggi tersebut, menurut peneliti ITP, Ma Yaoming.Ma menambahkan bahwa selain mendukung studi tentang proses cuaca di dataran tinggi tersebut, data pengamatan itu juga akan memberikan dukungan untuk penelitian tentang perubahan iklim global.Profil-profil suhu dan kelembapan berkelanjutan yang berasal dari data MWR memberikan sebuah perspektif unik mengenai evolusi struktur termodinamika yang berkaitan dengan pemanasan di Dataran Tinggi Qinghai-Xizang, menurut penelitian itu.Hasil dari studi ini telah diterbitkan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

WWF sebut populasi margasatwa di Afrika susut 76 persen dalam 50 tahun terakhir
Indonesia
•
15 Oct 2024

China akan bangun susunan teleskop baru di Antarktika
Indonesia
•
19 Dec 2023

Kapal penumpang roro raksasa buatan China bertolak menuju Italia
Indonesia
•
20 Dec 2023

Babi kutil endemik Indonesia rentan African swine fever, butuh konservasi ex-situ
Indonesia
•
20 Dec 2025


Berita Terbaru

Protein yang selama ini lawan kanker ternyata bisa bantu sel kanker bertahan
Indonesia
•
15 Aug 2026

Telaah – Tiga gempa dahsyat guncang Amerika Selatan, benarkah kawasan ini makin aktif?
Indonesia
•
15 Aug 2026

Gigitan nyamuk bisa jadi ‘booster’ alami untuk cegah malaria, studi ungkap harapan baru
Indonesia
•
15 Aug 2026

Feature – ‘Smartwatch’ dan gaya hidup berbasis data, mengapa makin diminati di Indonesia?
Indonesia
•
15 Aug 2026
