
Ilmuwan Australia ungkap sumber tersembunyi karbon biru di lahan basah pesisir

Foto yang diambil pada 13 Maret 2024 ini menunjukkan sebuah karya seni di Pantai Cottesloe di Perth, Australia. (Xinhua/Zhou Dan)
Sebagian besar karbon yang tersimpan di tanah lahan basah pesisir berasal dari tumbuhan di luar lahan basah tersebut, dan berperan luas dalam penyimpanan karbon global.
Sydney, Australia (Xinhua/Indonesia Window) – Ilmuwan Australia menemukan bahwa sebagian besar karbon yang tersimpan di tanah lahan basah pesisir berasal dari tumbuhan di luar lahan basah tersebut, menyoroti peran lebih luas yang dimainkannya dalam penyimpanan karbon global.Tim dari Institut Ilmu Kelautan Australia (Australian Institute of Marine Science/AIMS) menciptakan model matematika yang menstandarkan dan menganalisis data dari ratusan pengukuran yang dilakukan di tanah di bawah lahan basah rawa garam, bakau, dan lamun, menurut pernyataan AIMS yang dirilis pada Selasa (19/8)."Meskipun sumber karbon organik sangat bervariasi dan bergantung pada lokasi dan kondisi, kami menemukan bahwa secara umum lebih dari separuh karbon organik yang tersimpan di tanah ini berasal dari tumbuhan di luar lahan basah, seperti rumput laut dan tumbuhan darat yang tumbuh di lepas pantai dan hulu," kata Chris Fulton, ilmuwan riset AIMS."Ini berarti kita perlu mulai memandang lahan basah karbon biru ini sebagai bagian dari matriks yang saling terhubung," tambah Fulton, seraya menambahkan bahwa melindungi bakau saja tidak cukup, dan diperlukan pengelolaan pesisir secara menyeluruh untuk menjaga semua sumber karbon.Karbon biru (blue carbon) adalah istilah untuk karbon yang ditangkap oleh ekosistem laut dan pesisir dunia, mengacu pada proses penangkapan (capture) dan penyimpanan (storage) karbon dioksida dari atmosfer melalui proses pertumbuhan dan pembusukan tumbuhan alami yang menghilangkan gas rumah kaca dari atmosfer untuk mengurangi dampak perubahan iklim.Studi tersebut menunjukkan bahwa proses isolasi karbon biru dapat ditingkatkan dengan memahami bagaimana berbagai jenis tumbuhan menyumbang karbon ke lahan basah yang telah dipulihkan, yang berpotensi membuka pendanaan besar di saat Australia dan dunia mencari solusi penangkapan dan penyimpanan karbon demi mencapai emisi net zero.Fulton menjelaskan bahwa kelebihan karbon di atmosfer menyebabkan berbagai peristiwa iklim seperti gelombang panas laut, banjir, dan kebakaran, menekankan perlunya untuk membantu tumbuhan pesisir mengubur karbon sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca.Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Global Change Biology ini menekankan perlunya memperbarui sistem kredit karbon biru di Australia dan dunia agar mencakup semua sumber karbon penting, bukan hanya tumbuhan yang membentuk lahan basah.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

FDA AS setujui pengobatan baru untuk penyakit Alzheimer
Indonesia
•
03 Jul 2024

Wahana antariksa Chang'e-6 milik China bawa pulang sampel pertama dari sisi jauh Bulan ke Bumi
Indonesia
•
26 Jun 2024

Studi sebut vaksin COVID-19 bukan penyebab kematian mendadak di India
Indonesia
•
25 Nov 2023

Studi tentang paus terdampar diluncurkan setelah 2 kasus massal di Selandia Baru
Indonesia
•
13 Oct 2022


Berita Terbaru

Kapasitas nuklir global yang sedang dibangun capai rekor tertinggi dalam 40 tahun
Indonesia
•
13 Mar 2026

Wahana antariksa NASA kembali masuki atmosfer Bumi beberapa tahun lebih awal dari prediksi
Indonesia
•
13 Mar 2026

AI berisiko sebabkan ‘kemalasan intelektual’ siswa
Indonesia
•
11 Mar 2026

Pengelolaan ternak temporal solusi konflik manusia-satwa liar
Indonesia
•
12 Mar 2026
