
Jalur pipa minyak baru UEA untuk hindari Selat Hormuz hampir 50 persen rampung

Kilatan cahaya dari rudal yang terbang melintas terlihat di langit Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), pada 28 Februari 2026. (Xinhua/Wen Xinnian)
Jalur pipa minyak ADNOC merupakan bagian dari strategi jangka panjang UEA untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, salah satu rute transit minyak paling penting di dunia.
Dubai, Uni Emirat Arab (Xinhua/Indonesia Window) – Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (20/5) mengatakan bahwa proyek pipa minyak baru jalur barat-timur yang dirancang untuk menghindari Selat Hormuz hampir 50 persen rampung, seiring Uni Emirat Arab (UEA) mempercepat upaya untuk memperkuat keamanan ekspor energi di tengah ketegangan regional.
Menurut Gulf News, CEO ADNOC Sultan Ahmed Al Jaber mengatakan bahwa proyek tersebut sedang dipercepat menuju target perampungan yang direncanakan, yakni pada 2027.
"Saat ini, proyek tersebut sudah hampir 50 persen rampung, dan kami sedang mempercepat pengerjaannya agar selesai pada 2027," tutur Al Jaber dalam siaran langsung daring yang diselenggarakan oleh wadah pemikir (think tank) Atlantic Council.
Jalur pipa minyak tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang UEA untuk mengurangi ketergantungan pada Selat Hormuz, salah satu rute transit minyak paling penting di dunia.
"Terlalu banyak energi di dunia ini masih harus melewati choke point yang jumlahnya terlalu sedikit," kata Al Jaber, seraya menambahkan bahwa UEA telah berinvestasi selama lebih dari satu dekade dalam infrastruktur yang bertujuan untuk menghindari jalur perairan strategis tersebut.
UEA telah memperluas infrastruktur ekspor melalui emirat Fujairah di pesisir Teluk Oman, yang memungkinkan pengiriman minyak mentah tidak melewati Selat Hormuz.
Saat dioperasikan pada 2027 nanti, jalur pipa baru tersebut diperkirakan akan menggandakan kapasitas ekspor ADNOC melalui Fujairah. Jalur pipa Habshan-Fujairah yang ada saat ini memiliki kapasitas pengangkutan hingga 1,8 juta barel minyak mentah per hari.
Sejak Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Februari lalu, Teheran memberlakukan pembatasan ketat di Selat Hormuz sebagai bentuk balasan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Produsen mobil mewah Italia Lamborghini laporkan rekor penjualan pada 2023
Indonesia
•
24 Mar 2024

OECD: PDB global diperkirakan tumbuh 3,2 persen pada 2024, 3,3 persen pada 2025 dan 2026
Indonesia
•
09 Dec 2024

Kredit konsumen AS terus meningkat pada November 2022
Indonesia
•
10 Jan 2023

Harga minyak turun, tertekan kekhawatiran kenaikan suku bunga AS
Indonesia
•
14 Jan 2022


Berita Terbaru

Feature – Pandan Indonesia menyeberangi laut, Hainan ubah harumnya menjadi industri
Indonesia
•
23 Aug 2026

Perang dagang memanas, Kanada balas tarif AS senilai 353,3 triliun rupiah
Indonesia
•
23 Aug 2026

Saham Unitree Robotics melonjak 460,34 persen saat debut pertama di Bursa Shanghai
Indonesia
•
20 Aug 2026

Biodiesel Indonesia dorong harga cpo tetap tinggi, bisa tembus 19,6 juta rupiah per ton
Indonesia
•
20 Aug 2026
