Jalur perdagangan China-ASEAN mulai terbentuk seiring proses pengisian air di Kanal Pinglu dimulai

Foto yang diabadikan pada 3 Juni 2026 ini menunjukkan Kanal Pinglu yang mengalir di Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China selatan. (Xinhua)

Nanning, China (Xinhua/Indonesia Window) – Air mulai mengalir di seluruh Kanal Pinglu pada Rabu (3/6) seiring dimulainya operasi pengisian air di pusat pelayaran Madao dan Qishi, menandai transisi proyek tersebut menuju fase baru uji coba berbasis air menjelang pembukaannya yang dijadwalkan pada September mendatang.

Sebagai proyek kanal pertama sejak berdirinya Republik Rakyat China yang direncanakan dan dikoordinasikan di tingkat nasional dengan tujuan menghubungkan jalur air pedalaman (inland) secara langsung ke laut, Kanal Pinglu telah lama dinilai sebagai proyek infrastruktur penting yang bertujuan untuk memperkuat konektivitas dan keterbukaan di bagian barat China.

Membentang sepanjang 134,2 kilometer melintasi Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi di China selatan, kanal tersebut bermula di Sungai Pingtang di Hengzhou, melewati Luwu di wilayah Lingshan, Qinzhou, dan mengikuti aliran Sungai Qinjiang hingga Teluk Beibu. Dirancang untuk mengakomodasi kapal-kapal hingga 5.000 ton, kanal itu merupakan salah satu jalur air pedalaman dengan level tertinggi di China.

Sejak pembangunan dimulai pada Agustus 2022, proyek itu terus mendapat perhatian luas karena potensinya untuk mengubah arus distribusi kargo antara daerah pedalaman di bagian barat daya China dan pasar-pasar mancanegara.

Selama puluhan tahun, Teluk Beibu telah menjadi gerbang maritim terdekat bagi sebagian besar daerah China barat daya. Namun, daerah tersebut tidak memiliki jalur air pedalaman utara-selatan langsung yang menghubungkan sistem sungai di pedalaman ke laut. Kargo dari provinsi-provinsi seperti Yunnan dan Guizhou, serta Kota Chongqing, sebagian besar harus menempuh perjalanan ke arah timur menyusuri Sungai Xijiang sebelum mencapai pelabuhan-pelabuhan di Delta Sungai Mutiara untuk ekspor.

Kanal Pinglu diproyeksikan akan mengubah pola tersebut.

Dengan menciptakan koneksi langsung antara sistem Sungai Xijiang dan Teluk Beibu, kanal tersebut akan memungkinkan kargo dari China barat daya mencapai laut melalui rute yang lebih pendek dan efisien. Barang-barang yang diangkut via kereta, jalan raya, dan jalur air pedalaman akan dapat bertemu di kanal tersebut sebelum berangkat langsung menuju pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pesisir Teluk Beibu.

Dibandingkan dengan rute yang bergantung pada pelabuhan-pelabuhan di daerah Guangzhou, pelayaran melalui jalur air pedalaman tersebut akan terpangkas sekitar 560 kilometer, sehingga dapat meningkatkan efisiensi transportasi dan menekan biaya logistik.

Proyek tersebut juga diharapkan akan memperkuat peran Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru (New International Land-Sea Trade Corridor), sebuah jaringan logistik utama yang menghubungkan bagian barat China dengan pasar global.

ASEAN tetap menjadi mitra dagang terbesar China selama beberapa tahun berturut-turut, sementara kerja sama antara negara-negara ASEAN dan bagian barat China di bawah kerangka kerja koridor itu terus meluas.

Lei Xiaohua, wakil direktur Institut Studi Asia Tenggara di Akademi Ilmu Sosial Guangxi, mengatakan pembukaan kanal itu akan semakin meningkatkan kapasitas angkutan dan efisiensi operasional koridor tersebut, sehingga menghadirkan kondisi yang lebih mudah bagi pertukaran ekonomi dan perdagangan antara bagian barat China dan perekonomian ASEAN.

Momentum tersebut bertepatan dengan semakin mendalamnya integrasi ekonomi di seluruh kawasan.

Sebagai gerbang penting yang menghubungkan China barat daya dengan pasar-pasar ASEAN, Pelabuhan Teluk Beibu telah menjadi pusat intermoda kereta-laut utama di bawah Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru. Sejak implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP), peran pelabuhan tersebut sebagai gerbang menuju Asia Tenggara terus berkembang.

Saat ini, pelabuhan tersebut mengoperasikan rute pelayaran yang mencakup berbagai destinasi utama di Asia Tenggara dan terus memperluas layanan kontainer yang menghubungkan China dengan sejumlah negara serta kawasan, termasuk Vietnam, Thailand, dan Jepang.

Selain signifikansi ekonominya, para akademisi memandang kanal tersebut sebagai bagian dari upaya China yang lebih luas untuk meningkatkan konektivitas melalui infrastruktur yang disesuaikan dengan kondisi geografis setempat.

Ni Yuping, wakil dekan Fakultas Humaniora sekaligus profesor sejarah di Universitas Tsinghua, menyebutkan bahwa proyek itu mencerminkan filosofi pembangunan yang memadukan kebutuhan praktis dengan pemanfaatan keunggulan alami secara efisien.

"Kanal Pinglu melayani pelayaran domestik maupun perdagangan internasional," ujar Ni. "Kanal tersebut akan membawa daerah pedalaman Yunnan, Guizhou, dan Chongqing lebih dekat dengan pasar-pasar ASEAN. Seiring biaya transportasi air terus menurun, perputaran kargo antara China dan ASEAN diperkirakan akan menjadi jauh lebih efisien."

Para pengamat menuturkan bahwa signifikansi kanal tersebut meluas melampaui transportasi.

Surat kabar Singapura, Lianhe Zaobao, sebelumnya menganalisis bahwa Kanal Pinglu, setelah rampung dibangun dan dibuka untuk pelayaran, bukanlah sekadar proyek infrastruktur besar, tetapi juga dipandang sebagai poros strategis dalam membentuk kembali lanskap pembangunan Guangxi dan memperkuat tingkat keterbukaan di bagian barat China.

Analisis tersebut mengatakan bahwa kanal itu akan menyediakan rute jalur air pedalaman langsung menuju Teluk Beibu, memangkas jarak pengiriman barang dari China barat daya ke pelabuhan-pelabuhan, memperkuat kapasitas dan ketahanan Koridor Perdagangan Darat-Laut Internasional Baru, serta diharapkan dapat semakin mempererat hubungan ekonomi antara China barat daya dan pasar-pasar ASEAN.

Seiring berlanjutnya uji coba berbasis air di sepanjang rute penuh tersebut, kanal itu secara bertahap berubah dari cetak biru menjadi kenyataan.

Bagi China barat, proyek tersebut menjanjikan jalur yang lebih pendek menuju laut. Sementara bagi China dan ASEAN, proyek itu menandai langkah lainnya menuju konektivitas yang lebih dalam, arus logistik yang lebih lancar, dan integrasi ekonomi yang lebih erat. Saat kanal itu dibuka untuk pelayaran tahun ini, kehadirannya diharapkan akan menyuntikkan momentum baru bagi perdagangan regional, investasi, dan pertukaran antarmasyarakat.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait