
Pakar sebut tekanan utang AS kian meningkat seiring perpecahan politik

Sejumlah pejalan kaki melewati National Debt Clock di New York, Amerika Serikat, pada 4 Juni 2025. (Xinhua/Liu Yanan)
Tingkat utang Amerika Serikat berpotensi akan terus naik karena perpecahan politik dan kenaikan biaya jaminan sosial (entitlement cost) mempersulit upaya pelambatan defisit.
New York City, Amerika Serikat (Xinhua/Indonesia Window) – Tingkat utang Amerika Serikat (AS) berpotensi akan terus naik karena perpecahan politik dan kenaikan biaya jaminan sosial (entitlement cost) mempersulit upaya pelambatan defisit, kata para ahli pada Rabu (7/1).Berbicara dalam sebuah panel tentang ekonomi global di wadah pemikir Council on Foreign Relations, panelis mengatakan bahwa AS menghadapi tekanan fiskal jangka panjang meskipun kinerja ekonomi jangka pendeknya solid.Karen Karniol-Tambour, salah satu chief investment officer di Bridgewater Associates, mengatakan bahwa tidak ada satu pun ambang batas utang yang memicu tekanan pasar, namun dia memperingatkan bahwa utang menjadi lebih sulit dikelola ketika pertumbuhan dan produktivitas melemah."Tidak ada angka ajaib di mana investor melakukan aksi mogok beli," kata Karniol-Tambour, seraya menambahkan bahwa pertumbuhan yang lambat dapat menyebabkan beban utang meningkat bahkan tanpa pengeluaran baru. Dia mengatakan kebutuhan pengeluaran yang lebih tinggi terkait pertahanan, infrastruktur, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menambah tekanan pada keuangan publik.Natasha Sarin, seorang profesor hukum di Universitas Yale, berkata rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) AS berpotensi mendekati 140 persen berdasarkan asumsi yang lebih realistis, karena pengeluaran untuk program jaminan sosial meningkat dan proyeksi pendapatan masih tidak pasti."Kita sedang menuju krisis jaminan sosial," kata Sarin, seraya menyebut bahwa dana perwalian (trust fund) yang mendukung program-program sosial besar kemungkinan akan habis pada awal 2030-an. Dia mengatakan dukungan politik untuk pengurangan defisit tetap terbatas, berbeda dengan era 1990-an ketika surplus anggaran berhasil dicapai.Jan Hatzius, kepala ekonom di Goldman Sachs, mengatakan bahwa AS masih memiliki kapasitas fiskal yang lebih besar dibandingkan banyak perekonomian maju lainnya. Namun, dia memperingatkan bahwa tren demografis dan meningkatnya kebutuhan pinjaman membuat penyesuaian jangka panjang menjadi sulit.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Inggris alami penurunan lowongan kerja terpanjang dalam sejarah
Indonesia
•
19 Dec 2024

Uang beredar tumbuh 13,3 persen jadi 7.810,9 triliun rupiah di Maret
Indonesia
•
22 Apr 2022

Perang dagang memanas, Kanada balas tarif AS senilai 353,3 triliun rupiah
Indonesia
•
23 Aug 2026

Laba bersih dan pendapatan Meta melonjak signifikan pada Q3 2023
Indonesia
•
26 Oct 2023


Berita Terbaru

Fokus Berita – Dari Bishkek hingga New Delhi, Xi Jinping dorong kerja sama Global South
Indonesia
•
12 Sep 2026

Harga minyak WTI tembus 100 dolar AS per barel, konflik Timur Tengah Memanas
Indonesia
•
12 Sep 2026

Feature – Warga Xinglong minum lebih dari 200 cangkir kopi setahun saat industri kopi China tembus 928 triliun rupiah
Indonesia
•
12 Sep 2026

El Nino ancam inflasi Indonesia, harga beras hingga jagung diprediksi melonjak
Indonesia
•
10 Sep 2026
