Ironi plastik: Dari penyelamat menjadi perusak bumi

Ironi plastik: Dari penyelamat menjadi perusak bumi
Ilustrasi. Sampah botol plastik di tepi pantai. (Photo by Brian Yurasits on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Kantong plastik sekali pakai telah menjadi “musuh bersama” umat manusia saat ini.

Lamanya waktu penguraian di alam yang bisa mencapai 1.000 tahun menjadikan kantong plastik sebagai agen perusak lingkungan, sehingga mendorong sejumlah negara menerapkan larangan penggunaan produk ini.

Bangladesh menjadi negara pertama di dunia yang melakukannya pada 2002 dan kini setidaknya 74 negara mengikuti langkah tersebut, termasuk Indonesia.

Meski kini dianggap merusak lingkungan, awalnya kantong plastik diciptakan justru untuk menyelamatkan bumi.

Raoul Thulin, putra penemu kantong plastik, mengatakan bahwa kantong plastik pertama kali dibuat oleh ayahnya pada 1959 untuk menyelamatkan bumi.

Insinyur Swedia, Sten Gustaf Thulin, membuat kantong plastik sebagai alternatif kantong kertas yang dianggap buruk bagi lingkungan karena mengakibatkan rusaknya hutan akibat penebangan pohon.

Dari segi bahan, kantong plastik lebih kuat dari pada kantong kertas, yang berarti secara teori produk ini dapat digunakan berulang kali.

Karenanya, menurut Raoul Thulin, ayahnya pernah mengatakan bahwa orang yang membuang kantong plastik itu aneh.

“Dia selalu membawa kantong plastik yang dilipat di sakunya. Sekarang ini kita semua didorong untuk melakukan hal yang sama, yaitu untuk membawa tas belanja ke toko. Ini yang dilakukannya di tahun 70-an dan 80-an. Wajar saja, karena, yah, mengapa Anda tidak melakukannya?,” ujar Raoul.

Tas plastik Thulin dipatenkan oleh sebuah perusahaan bernama Celloplast dan pada pertengahan 1960-an mereka mengganti bahan kertas dan kain di Eropa.

Pada 1979, kantong plastik menyumbang 80 persen dari pasar tas Eropa.

Selanjutnya, pada 1982, dua rantai supermarket terbesar di Amerika Serikat, yakni Safeway dan Kroger beralih ke kantong plastik dan pada akhir dekade mereka mengganti hampir seluruh kantong kertas.

Menurut Perserikatan Bangsa Bangsa, kantong plastik sekarang diproduksi hingga satu triliun per tahun.

Di balik ketenarannya, plastik kini jadi bahan pencemar dan salah salah satu ancaman terbesar bagi keselamatan lautan di seluruh dunia. Diperkirakan berat total plastik di laut akan lebih berat dari pada keseluruhan ikan pada tahun 2050.

Sementara itu, sejumlah gambar mendokumentasikan hewan-hewan laut yang terjerat plastik dan teracuni oleh produk tersebut, bahkan ditemukan dalam tubuh mereka.

Alternatif

Alternatif untuk mengganti kantong plastik sebenarnya belum menjadi pilihan yang lebih ramah lingkungan.

Kantong belanja yang terbuat dari kertas atau bahan kain yang kini banyak beredar di masyarakat memang mengurangi sampah dan limbah plastik, namun juga memiliki efek lingkungan yang cukup besar.

Menurut Badan Lingkungan Inggris, kantong kertas harus digunakan tiga kali agar ramah lingkungan, seperti kantong plastik yang didaur ulang.

Selain itu, membuat kantong kertas ternyata menggunakan lebih banyak energi dan air dan juga lebih berat sehingga membuatnya lebih mahal untuk diangkut.

Sedangkan kantong yang terbuat dari kapas – tanaman yang membutuhkan banyak air untuk tumbuh – perlu digunakan setidaknya 131 kali agar bisa benar-benar bisa menggantikan kantong plastik daur ulang.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here