
Iran sebut draf MoU dengan AS tuntut pencabutan blokade untuk ditukar pembukaan Selat Hormuz

Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini memperlihatkan kapal tanker minyak Inggris Stena Impero yang dikepung oleh sejumlah perahu cepat milik Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) Iran di Selat Hormuz, Iran. (Xinhua/ISNA/Morteza Akhoundi)
AS setuju mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, mengakui pengelolaan lalu lintas maritim di Selat Hormuz oleh Iran yang bekerja sama dengan Oman, menerima rute-rute transit kapal yang ditentukan oleh Teheran, serta menarik pasukan AS dari area-area di sekitar Iran.
Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Iran telah menyusun sebuah draf tentang kerangka kerja awal tak resmi untuk nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan Amerika Serikat (AS), yang menuntut penarikan militer AS dan pencabutan blokade angkatan laut, demikian menurut laporan beberapa outlet media pada Rabu (27/5), mengutip stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB TV.
Sebagai gantinya, Iran berkomitmen untuk memulihkan pelayaran komersial melalui Selat Hormuz ke level sebelum perang dalam waktu sebulan dan mengelola lalu lintas kapal di selat tersebut bersama Oman, papar laporan-laporan itu, yang juga menambahkan bahwa kapal-kapal militer tidak tercakup di dalam kesepakatan tersebut.
Menurut laporan-laporan tersebut, AS setuju mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, mengakui pengelolaan lalu lintas maritim di Selat Hormuz oleh Iran yang bekerja sama dengan Oman, menerima rute-rute transit kapal yang ditentukan oleh Teheran, serta menarik pasukan AS dari area-area di sekitar Iran.
Setiap kesepakatan final AS-Iran yang dicapai dalam periode negosiasi 60 hari akan disahkan dalam bentuk resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengikat, papar laporan-laporan tersebut.
Di bawah kesepakatan tersebut, Iran tidak akan mengambil tindakan apa pun tanpa "verifikasi nyata", imbuh laporan-laporan itu.
Esmaeil Baghaei, juru bicara (jubir) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran, pada Sabtu (23/5) mengonfirmasi bahwa Iran dan AS sedang bekerja untuk memfinalisasi MoU terkait pengakhiran perang.
"Niat awal kami adalah pertama-tama, menyepakati sebuah MoU yang terdiri dari 14 klausul," kata Baghaei kepada IRIB TV, seraya menambahkan bahwa kedua pihak berupaya mencapai kesepakatan akhir "dalam jangka waktu 30 hingga 60 hari" yang mencakup isu-isu seperti penghentian serangan maritim AS dan pencairan aset-aset Iran yang dibekukan.
Iran, AS, dan Israel mencapai gencatan senjata pada 8 April setelah pertempuran selama 40 hari. Menyusul gencatan senjata tersebut, delegasi Iran dan AS menggelar satu putaran perundingan perdamaian di Islamabad pada 11 dan 12 April, tetapi gagal menghasilkan kesepakatan.
Selama beberapa pekan terakhir, kedua pihak dilaporkan saling bertukar beberapa rencana usulan yang menguraikan syarat-syarat untuk mengakhiri konflik melalui mediasi Pakistan.
Laporan: Redaksi
Bagikan

Komentar
Berita Terkait

Gazprom Rusia akan hentikan pengiriman gas alam ke Austria akhir pekan ini
Indonesia
•
16 Nov 2024

Pentagon akan luncurkan tinjauan baru terhadap penarikan pasukan AS dari Afghanistan
Indonesia
•
23 May 2025

CENTCOM umumkan personel militer ke-7 AS yang tewas dalam serangan AS-Israel ke Iran
Indonesia
•
09 Mar 2026

CIO dan kepolisian Korsel capai kesepakatan untuk eksekusi perintah penangkapan Yoon Suk-yeol
Indonesia
•
07 Jan 2025


Berita Terbaru

ICC tetapkan pembukaan sidang terhadap mantan presiden Filipina Duterte pada 30 November 2026
Indonesia
•
28 May 2026

Trump ancam Oman tidak ikut campur dalam perundingan AS-Iran
Indonesia
•
28 May 2026

Sekjen PBB berikutnya harus perhatikan kepentingan negara-negara berkembang
Indonesia
•
27 May 2026

Cegah penyebaran Ebola, Kanada berlakukan kebijakan perbatasan sementara
Indonesia
•
27 May 2026
