Iran: Perundingan kesepakatan final dengan AS dimulai usai penandatanganan MoU damai

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi mengadakan konferensi pers di Istanbul, Turkiye, pada 22 Juni 2025. (Xinhua/Liu Lei)

Teheran, Iran (Xinhua/Indonesia Window) – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi pada Selasa (16/6) menyampaikan bahwa perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terkait kesepakatan akhir akan dimulai pada Jumat (19/6) setelah kedua pihak secara resmi menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) untuk mengakhiri perang, menurut kantor berita resmi Iran, IRNA.

Araghchi menyampaikan hal itu dalam sebuah pertemuan dengan para diplomat asing di Teheran, ibu kota Iran, sembari memaparkan isi MoU perdamaian yang difinalisasi pada Ahad (14/6) antara Iran dan AS melalui mediasi Pakistan.

"Putaran baru perundingan antara Iran dan AS untuk mencapai kesepakatan akhir kemungkinan akan dimulai pada Jumat di lokasi yang akan ditentukan," tutur Araghchi, seraya menjelaskan bahwa mengingat sulitnya mencapai kesepakatan antara Iran dan AS akibat "agresi kriminal" AS dan Israel terhadap negaranya, "kami akhirnya memutuskan untuk membagi perundingan menjadi dua tahap."

Dia mengatakan tahap pertama berkaitan dengan finalisasi MoU untuk isu-isu seperti penghentian perang, Selat Hormuz, blokade laut AS terhadap Iran, aset-aset Iran yang dibekukan, dan rekonstruksi kerusakan akibat perang. Araghchi menambahkan bahwa pada tahap kedua, perundingan akan dilanjutkan selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan akhir soal isu nuklir dan pencabutan sanksi terhadap Iran.

Araghchi menyatakan pada tahap pertama, hal terpenting yang akan terjadi adalah deklarasi berakhirnya perang, seraya menekankan, "Berdasarkan keputusan yang kami buat, penghentian perang juga telah diumumkan pada Senin (15/6) pagi saat kesepakatan itu difinalisasi, tetapi pemberlakuan resmi MoU tersebut akan dimulai pada Jumat."

Sang menlu menyebut penghentian perang "segera dan permanen" di semua front, termasuk Lebanon, kemungkinan menjadi isu paling penting dalam MoU itu, seraya menyatakan bahwa hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara perang di Lebanon dan "agresi" Israel di Lebanon selatan dengan perang melawan Iran, yang membuat kedua front tersebut kini saling terhubung dan bergantung satu sama lain.

Araghchi menggambarkan penghentian perang di Lebanon sebagai bagian "tak terpisahkan" dari MoU perdamaian Iran-AS, sembari menekankan "Penghentian perang juga mencakup berakhirnya pendudukan (Israel). Penghentian perang tidak lengkap tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah-wilayah (Lebanon) yang mereka duduki dalam perang ini."

Araghchi menekankan bahwa mulai saat ini, Iran menganggap setiap serangan militer yang dilancarkan oleh Israel terhadap Lebanon dan pendudukan yang terus berlanjut atas wilayah-wilayah Lebanon sebagai pelanggaran terhadap MoU perdamaian.

AS, Pakistan, dan Iran pada Senin pagi mengumumkan finalisasi MoU perihal penghentian perang menyusul perundingan selama beberapa pekan, dan menambahkan bahwa hal itu akan resmi diteken di Swiss pada Jumat.

Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan kota-kota lain di Iran. Iran meresponsnya dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel dan pangkalan-pangkalan dan aset AS di kawasan tersebut.

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait