Iran melunak soal kesepakatan nuklir saat AS kerahkan lebih banyak pesawat tempur

Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi berpidato dalam konferensi perlucutan senjata PBB di Jenewa, Swiss, pada 17 Februari 2026. (Xinhua/Shi Song)

Kairo, Mesir (Xinhua/Indonesia Window) – Sejumlah pejabat senior Iran pada Selasa (24/2) menegaskan kesediaan Iran untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat (AS), sementara Washington terus meningkatkan postur militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan jet-jet tempur canggih.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi pada Selasa tersebut mengatakan bahwa Iran bertekad untuk mencapai kesepakatan yang "adil dan setara" dengan AS sesegera mungkin.

Dalam pernyataannya yang diunggah di platform media sosial X, Araghchi mengatakan kedua pihak memiliki "kesempatan bersejarah" untuk membuat kesepakatan yang belum pernah dicapai yang menangani kekhawatiran bersama dan mencapai kepentingan bersama, seraya menambahkan bahwa kesepakatan dapat dicapai jika diplomasi diprioritaskan.

Komentar tersebut disampaikan menjelang putaran ketiga negosiasi nuklir tidak langsung antara Teheran dan Washington, yang dijadwalkan pada Kamis (26/2) di Jenewa. Dua putaran perundingan tidak langsung telah digelar sebelumnya bulan ini, berpusat pada program nuklir Iran dan kemungkinan pencabutan sanksi AS.

Pada hari yang sama, Wakil Menlu Iran untuk Urusan Politik, Majid Takht Ravanchi, juga mengatakan bahwa Iran siap melakukan "apa pun yang diperlukan" untuk mencapai kesepakatan nuklir dengan AS.

"Kami ingin melakukan apa pun yang diperlukan agar (kesepakatan) itu terwujud. Kami akan datang ke ruang negosiasi di Jenewa dengan ketulusan dan niat baik," kata Ravanchi dalam wawancara dengan radio NPR.

"Kami berharap niat baik dan pendekatan positif kami akan dibalas oleh pihak Amerika, dan jika ada niat politik dari semua pihak, saya yakin kesepakatan dapat tercapai sesegera mungkin," imbuhnya.

Sementara itu, dalam pertemuan di Teheran dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Armenia Suren Papikyan pada Selasa yang sama, Menhan Iran Aziz Nasirzadeh menegaskan kembali tekad kuat negaranya untuk membela diri.

Dia mengatakan Iran tidak menginginkan perang, "tetapi jika perang dipaksakan kepada negara ini, Iran akan membela diri dengan kuat dan memberikan pelajaran yang tak terlupakan bagi musuh-musuhnya."

Pernyataan tersebut disampaikan setelah latihan yang digelar oleh Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolution Guards Corps/IRGC) Iran di sepanjang pantai selatan Iran, lapor kantor berita semiresmi Iran, Fars, pada Selasa itu.

Pasukan Iran mempraktikkan skenario "pertahanan kuat" terhadap pantai dan pulau-pulau negara itu, dan pasukan khusus Angkatan Darat IRGC melakukan operasi untuk mencegah musuh mendekati pantai selatan Iran.

Latihan tersebut berlangsung di tengah peningkatan kekuatan militer AS yang terus berlanjut di Timur Tengah dan sejumlah laporan media bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk melancarkan serangan awal terhadap Iran.

Masih pada Selasa tersebut, media Israel melaporkan bahwa sebelas jet tempur siluman F-22 AS telah mendarat di pangkalan udara Israel di Israel selatan, sebagai bagian dari peningkatan kekuatan militer regional Washington terhadap Iran.

Kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald R. Ford, yang sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah, telah tiba di Laut Mediterania. Kapal ini akan bergabung dengan armada tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dan kapal perusak rudal lainnya yang telah ditempatkan di dekat Iran.

Sebelumnya pada Senin (23/2), Trump membantah laporan media yang menyatakan bahwa Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan AS, memperingatkan agar tidak menyerang Iran.

Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump mengatakan bahwa jika ada keputusan untuk melakukan operasi militer terhadap Iran, "menurut pendapatnya (Caine), itu akan menjadi sesuatu yang dimenangkan dengan mudah."

Laporan: Redaksi

Bagikan

Komentar

Berita Terkait