‘Internet of Things’ dalam ‘precision agriculture’

‘Internet of Things’ dalam ‘precision agriculture’
Ilustrasi. Drone digunakan untuk memonitoring kondisi persawahan, dan pekerjaan pertanian lainnya. (viya0414 from Pixabay)

Jakarta (Indonesia Window) – Hampir semua hal atau pekerjaan yang kini tak luput dari kecanggihan Internet of Things (IoT), termasuk bidang pertanian pertanian yang kini dikenal dengan istilah precision agriculture atau pertanian presisi

Precision agriculture saat ini menjadi lingkup kajian yang strategis karena dengan proses input data menggunakan IoT yang tepat, seluruh sumber daya dapat digunakan secara efektif dan efisien.

Agustami Sitorus, peneliti pada Pusat Penelitian Teknologi Tepat Guna di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), memaparkan penerapan IoT dalam teknologi pertanian pada kuliah umum yang diadakan oleh Program Pendidikan Teknik Biosistem di Institut Teknologi Sumatera (ITERA) beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan tersebut, dia menjelaskan tentang sistem telemonitoring (monitoring atau pengawasan jarak jauh) yang diaplikasikan pada alat dan mesin pertanian, menurut pernyataan LIPI yang diterima di Jakarta, Kamis.

“Secara umum, telemonitoring berarti proses mendapatkan data di suatu tempat dengan menggunakan sensor, dan data tersebut dikirim melalui jaringan nirkabel berupa Bluetooth atau jaringan lainnya,” jelas Agustami.

“Kemudian, data dari lapangan dapat diakses dari mana pun dan kapan pun menggunakan perangkat telekomunikasi,” sambungnya, seraya menambahkan bahwa kekurangan dari telemonitoring adalah harus tersedianya cloud server.

“Selain itu kita juga harus mempertimbangkan kemananan data,” tuturnya.

Dir era pertanian presisi, menurutnya, ketepatan dalam pengaturan waktu tanam membutuhkan data yang tepat dan cepat.

“Data itulah yang akan diolah guna menghasilkan informasi dalam mengambil keputusan. Dengan demikian, penggunaan telemonitoring berbasis IoT menjadi sebuah kebutuhan,” katanya.

“Saat ini, penelitian dituntut harus real-time (saat itu juga), sehingga penambangan data harus dilakukan untuk memperoleh informasi yang valid. Di era ‘tsunami data’ ini, memahami data akan menghasilkan keputusan yang lebih baik, terlebih jika data tersebut dapat diakses setiap waktu,” terang Agustami.

Dia menyebutkan, perangkat yang digunakan untuk melakukan sistem telemonitoring pada umumnya meliputi perangkat keras dan perangkat lunak, yang terdiri atas sensor, box panel/terminal, jaringan internet, dan penyedia database.

Agustami mengatakan, beberapa contoh aplikasi telemonitoring berbasis IoT dapat diterapkan pada mesin pengering mekanis untuk mengetahui kadar air tanpa harus menghentikan proses pengeringan, suhu, tekanan udara, dan parameter lainnya.

“Telemonitoring juga dapat diterapkan dalam sistem irigasi untuk mengukur level air guna mencapai efektivitas pengairan sawah,” katanya.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here