
Eurostat: Inflasi zona euro naik jadi 2,2 persen pada september 2025

Foto yang diabadikan pada 27 Juli 2023 ini menunjukkan logo Euro di Frankfurt, Jerman. (Xinhua/Zhang Fan)
Eurostat mencatat inflasi zona euro naik ke 2,2 persen pada September 2025. Lonjakan harga energi dan jasa pengaruhi keputusan ECB soal suku bunga.
Brussel, Belgia (Xinhua/Indonesia Window) – Inflasi tahunan di zona euro berada di angka 2,2 persen pada September, naik dari 2 persen pada Agustus, menurut perkiraan awal yang dirilis oleh Eurostat pada Rabu (1/10).Di antara pendorong utama inflasi, sektor jasa menjadi yang tertinggi dengan kenaikan tahunan sebesar 3,2 persen, naik tipis dari 3,1 persen pada Agustus, menurut statistik.Inflasi tahunan untuk harga makanan, alkohol, dan tembakau turun menjadi 3 persen pada September dari 3,2 persen pada Agustus, sementara barang industri nonenergi stabil di angka 0,8 persen. Harga energi turun 0,4 persen secara tahunan (year on year/yoy), dibandingkan dengan penurunan 2 persen pada Agustus.Di antara anggota zona euro, Estonia mencatat tingkat inflasi tahunan tertinggi dengan 5,2 persen, turun dari 6,2 persen pada Agustus, sementara inflasi Siprus bertahan di angka 0,0 persen.Di antara perekonomian-perekonomian utama zona euro, inflasi tahunan Jerman naik dari 2,1 persen pada Agustus menjadi 2,4 persen pada September. Inflasi di Spanyol mencapai 3 persen, naik dari 2,7 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, tingkat inflasi Prancis naik dari 0,8 persen pada Agustus menjadi 1,1 persen pada September.Tingkat inflasi zona euro berada di kisaran target 2 persen yang ditetapkan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB) selama beberapa bulan terakhir."Kenaikan inflasi menjadi 2,2 persen pada September sebagian besar disebabkan oleh dampak energi, yang akan mereda dalam beberapa bulan mendatang," tutur Bert Colijn, kepala ekonom di ING, seraya menambahkan bahwa "penurunan tipis dari target inflasi sebenarnya tampak realistis menjelang pergantian tahun.""Kenaikan inflasi headline (inflasi indeks harga konsumen) zona euro pada September ke angka 2,2 persen membuat pemangkasan suku bunga oleh ECB pada Desember menjadi semakin tidak mungkin, bahkan meski penurunan tersebut murni didorong oleh efek basis harga energi," kata Daniel Kral, kepala ekonom di Oxford Economics, di platform media sosial X."Euro yang lebih kuat dan harga komoditas global yang lebih rendah akan membawa inflasi headline turun di bawah 2 persen dalam beberapa bulan mendatang," imbuhnya.Pada 11 September, ECB mempertahankan suku bunga acuannya tidak berubah sejak Juni, mengonfirmasi bahwa suku bunga terus berada "dalam posisi yang baik."Terlepas dari retorika ECB yang siap bertindak untuk memastikan inflasi stabil pada target jangka menengahnya, ada tanda-tanda bahwa siklus pelonggaran hampir berakhir.Laporan: RedaksiBagikan

Komentar
Berita Terkait

Alphabet laporkan pertumbuhan pendapatan 14 persen pada Q2 2024
Indonesia
•
26 Jul 2024

NYT: Dolar yang kuat baik bagi AS, buruk bagi dunia
Indonesia
•
30 Sep 2022

Fokus berita - Kredibilitas Indonesia di sektor halal modal utama tembus OKI
Indonesia
•
19 Oct 2025

Ratusan perusahaan makanan China jajaki peluang baru di pasar Indonesia lewat pameran SIAL Interfood
Indonesia
•
11 Nov 2023


Berita Terbaru

FreeNow hadir di Morowali, investasi China diharapkan gerakkan ekonomi lokal
Indonesia
•
28 Oct 2026

Impor BBM Indonesia dari China bisa melonjak 8 kali lipat, dari 6,6 triliun rupiah jadi 54,45 triliun rupiah
Indonesia
•
28 Oct 2026

Arab Saudi simpan minyak mentah di Jurong Rock Caverns Singapura
Indonesia
•
26 Oct 2026

Danantara buka penjajakan dengan 11 perusahaan China, investasi PLTS dan hilirasasi mineral jadi sorotan
Indonesia
•
27 Oct 2026
