Banner

Musim flu, COVID-19, dan RSV lebih awal picu kekhawatiran di Eropa

Foto yang diabadikan pada 30 Maret 2021 ini menunjukkan eksterior kantor pusat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Swiss. (Xinhua/Chen Junxia)

Infeksi virus pernapasan di seluruh Eropa berpotensi terjadi pada musim dingin ini, saat peredaran virus influenza (A dan B) meningkat di sejumlah wilayah kawasan ini, dengan orang-orang berusia 55 tahun ke atas masuk dalam kelompok rentan.

 

Kopenhagen, Denmark (Xinhua) – Para pemimpin badan kesehatan di Eropa pada Kamis (1/12) menyuarakan keprihatinan mereka atas potensi lonjakan infeksi virus pernapasan di seluruh kawasan tersebut pada musim dingin ini, dan menyerukan perlindungan yang lebih baik bagi penduduk, terutama kelompok yang paling rentan.

Di saat kekhawatiran meningkatnya penyebaran respiratory syncytial virus (RSV) dan COVID-19 masih menjadi ancaman, musim influenza (flu) 2022-2023 dimulai lebih awal di kawasan Eropa, demikian bunyi pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Komisioner Kesehatan dan Keamanan Pangan Eropa Stella Kyriakides, Direktur Regional Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk Eropa Hans Kluge, dan Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (European Centre for Disease Prevention and Control/ECDC) Andrea Ammon.

“WHO kawasan Eropa saat ini mencatat peningkatan sirkulasi influenza dan RSV. Bersama dengan COVID-19, virus-virus ini diperkirakan akan berdampak besar terhadap layanan kesehatan dan populasi kita pada musim dingin ini,” menurut pernyataan itu.

Pernyataan tersebut menyoroti virus influenza saat ini (A dan B), yang peredarannya meningkat di sejumlah wilayah di Eropa, di antara semua kelompok umur, dengan orang-orang berusia 55 tahun ke atas masuk dalam kelompok rentan. Kelompok umur ini mencakup hampir separuh dari semua kasus rawat inap akibat influenza yang dilaporkan sejak Oktober.

Infeksi virus pernapasan
Seorang pria yang memakai masker berjalan di depan Museum Louvre di Paris, Prancis, pada 8 Juli 2022. (Xinhua/Aurelien Morissard)

Penyebab lain yang menimbulkan kekhawatiran adalah lonjakan RSV, virus pernapasan umum yang menyebabkan bronkitis atau pneumonia dan bisa berakibat fatal, terutama pada bayi dan warga lanjut usia. Kasus RSV “juga meningkat sejak Oktober, dengan sekitar 20 negara dan wilayah mengalami peningkatan aktivitas RSV.”

Meski jumlah kasus, penerimaan rawat inap di rumah sakit dan unit perawatan intensif (ICU), serta angka kematian saat ini masih rendah dibandingkan dengan 12 bulan sebelumnya, ada kekhawatiran bahwa “situasi ini dapat berubah ketika varian baru muncul, dan penyakit ini terus membebani sumber daya kesehatan.”

“Dengan efek berkelanjutan dari pandemi COVID-19 serta sirkulasi dan dampak kesehatan dari patogen pernapasan lainnya, sulit untuk memprediksi perkembangan pada periode musim dingin yang baru,” kata pernyataan itu.

Para pemimpin tersebut juga menyarankan agar dokter mempertimbangkan pengobatan antivirus dini dan profilaksis (pencegahan infeksi dengan obat) untuk influenza, RSV, dan COVID-19 bagi mereka yang berisiko terkena penyakit serius guna mencegah efek yang parah dan mengurangi beban pada sistem perawatan kesehatan.

“Kami tidak bisa lebih menekankan lagi bahwa vaksinasi menyelamatkan nyawa. Vaksin mengurangi kemungkinan terinfeksi dan mengurangi risiko penyakit parah akibat COVID-19 dan influenza musiman,” seperti tertulis dalam dokumen itu.

Laporan: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Banner

Iklan