Indonesia ingin perkuat perdagangan, transfer teknologi dengan Taiwan

Indonesia ingin perkuat perdagangan, transfer teknologi dengan Taiwan
Ilustrasi. Indonesia akan berupaya memperkuat perdagangan dengan Taiwan, dengan secara aktif mempromosikan produk ekspor Indonesia dan menjalin kemitraan di bidang transfer teknologi. (Remi Yuan on Unsplash)

Jakarta (Indonesia Window) – Indonesia akan berupaya memperkuat perdagangan dengan Taiwan, dengan secara aktif mempromosikan produk ekspor Indonesia dan menjalin kemitraan di bidang transfer teknologi, menurut Kepala Kantor Perdagangan dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, Budi Santoso, dalam laporan Kantor Berita Taiwan (CNA).

“Tentunya kami akan gencar mempromosikan produk Indonesia di Taiwan dengan memfasilitasi pameran dan business matching,” kata Kepala KDEI.

Dengan perjalanan internasional yang sangat terpengaruh karena pandemik COVID-19, KDEI menyelenggarakan pameran dagang virtual pada bulan Juli guna mempertemukan perusahaan makanan dan minuman Indonesia dan pembeli Taiwan.

Tujuan KDEI untuk meningkatkan perdagangan terkait langsung dengan arahan dari Presiden Joko Widodo, kata Budi.

“Presiden Jokowi selalu menekankan kepada seluruh kantor perwakilan Indonesia di luar negeri untuk memajukan sektor perdagangan termasuk mendorong pertumbuhan ekspor,” imbuhnya.

Menurut Budi, Taiwan juga ingin memperkuat hubungan ekonomi dan budaya dengan negara-negara Asia Tenggara melalui New Southbound Policy (NSP) atau Kebijakan ke Arah Selatan.

Sebanyak 18 negara di bawah NSP, yang diluncurkan oleh pemerintah Partai Progresif Demokratik setelah Presiden Tsai Ing-wen menjabat pada Mei 2016, adalah 10 negara anggota ASEAN, bersama dengan Australia, New Selandia, India, Pakistan, Nepal, Bangladesh, Sri Lanka dan Bhutan.

“Bagi kami, NSP ini tentunya sejalan dan merupakan fundamental penting untuk melanjutkan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Taiwan,” kata Budi, seraya menambahkan Taiwan juga merupakan pasar yang bagus untuk produk Indonesia karena jumlah pekerja migran Indonesia yang cukup banyak.

Hingga akhir Agustus, ada 267.260 pekerja migran asal Indonesia bekerja di industri produktif dan kesejahteraan sosial di Taiwan. Angka ini turun 1,59 persen dari periode yang sama tahun lalu, menurut statistik Kementerian Tenaga Kerja Taiwan.

“Dengan sumber daya yang bisa dikatakan sangat minim, Taiwan mampu swasembada bahkan mengekspor hasil pertanian berkualitas tinggi,” ujar Budi.

“Hal-hal seperti ini perlu kita jajaki, karena dari sisi perdagangan, pembangunan pertanian akan mendongkrak perekonomian dan berpotensi meningkatkan ekspor,” tuturnya.

Selain itu, KDEI akan terus menjajaki peningkatan kerja sama ekonomi dalam bentuk perjanjian perdagangan antara Indonesia dan Taiwan, yang diharapkan berdampak signifikan pada arus barang Indonesia ke Taiwan dengan menurunkan tarif produk impor, kata Budi.

Indonesia adalah mitra dagang terbesar ke-14 Taiwan dengan nilai impor lebih dari 3,2 miliar dolar AS dan ekspor 1,68 miliar dolar AS antara Januari dan September, menurut data Biro Perdagangan Luar Negeri Taiwan.

Laporan: Redaksi

Berkomentar?

Please enter your comment!
Please enter your name here